Tantangan Kebun Binatang Saat Ini, dari Satwa sampai Edukasi
Sering dijadikan tempat wisata favorit keluarga, kebun binatang nyatanya memiliki tantangan yang masih harus dihadapi. Halaman all
(Kompas.com) 28/08/24 14:32 14817580
JAKARTA, KOMPAS.com - Lembaga konservasi, seperti kebun binatang, memiliki empat peran dan fungsi utama yakni konservasi, riset, edukasi, dan rekreasi.
Meski sering dijadikan tempat wisata favorit keluarga, nyatanya kebun binatang memiliki banyak tantangan yang masih harus dihadapi.
Willem Manansang, Ketua Bidang Etika dan Kesejahteraan Satwa Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia (PKBSI) menuturkan, sedikitnya ada lima tantangan bagi lembaga konservasi.
"Dari sisi manajemen yaitu transformasi dan modernisasi. Dari faktor edukasi, bagaimana memiliki generasi penerus yang mempunyai paradigma lebih," ucap Willem saat acara temu media di Jakarta Timur, Rabu (21/8/2024).
Dok. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ilustrasi wisatawan di Taman Margasatwa Ragunan (Kebun Binatang Ragunan), Jakarta Selatan."Lebih" yang dimaksud adalah lebih terbuka, lebih modern, lebih progresif, dan lebih memerhatikan alam lingkungan, termasuk satwa liar.
Pasalnya, satwa yang ada di lembaga konservasi, meliputi taman safari, kebun binatang, dan taman satwa, harus sejahtera.
Willem menuturkan, lima prinsip utama kesejahteraan satwa terbaru terdiri dari nutrisi, lingkungan, kesehatan, tingkah laku, dan mental.
Kesejahteraan satwa bisa tercapai bila lima prinsip itu terpenuhi. Namun, sampai saat ini, hal tersebut masih menjadi tantangan.
"Bagaimana melihat dari faktor satwa untuk meningkatkan taraf hidup kesejahteraan setiap satwa agar mencapai mental yang sehat dan positif," kata Willem.
View this post on Instagram
Sumber daya manusia yang terbatas
Kompas.com/Krisda Tiofani Taman Burung Jagat Satwa Nusantara Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ia juga menyoroti sumber daya manusia (SDM) yang masih terbatas. Padahal, penjaga satwa (zookeeper) akan berhadapan setiap hari dengan para satwa.
Menurut Willem, sejauh ini, keterbatasan SDM datang dari tingkat edukasi, pengalaman, dan kompetensi.
"Sekolah sampai tingkat universitas, mungkin fakultas satwa liar, di Indonesia masih sangat terbatas. Kalau di dunia, di negara yang lebih maju, syarat jadi zookeeper saja rata-rata sudah S1," ucap dia.
Pendidikan untuk penjaga satwa masih terus digalakan sampai saat ini. Setidaknya, tingkat akademi dengan durasi belajar tiga semester atau satu setengah tahun.
Masalahnya, masih ada tantangan terakhir yang juga berdampak pada jalannya lembaga konservasi yakni biaya operasional.
"Biaya operasional suatu lembaga, pembangunan yang semakin hari semakin tinggi, kurang sebanding dengan daya beli masyarakat. Ini juga menghambat untuk para teman-teman anggota kebun binatang untuk maju," pungkas dia.
Itu sebabnya, PKBSI memiliki peran khusus untuk membantu para anggota kebun binatang di Indonesia.
Misalnya, melakukan pelatihan dan praktik melalui kunjungan, berkolaborasi antarbidang, serta mengadakan evaluasi berkala.
View this post on Instagram
#peran-kebun-binatang #tantangan-kebun-binatang #tantangan-lembaga-konservasi #sdm-zookeeper-kebun-binatang #hambatan-lembaga-konservasi #wisata-kebun-binatang