Peneliti BRIN: Siaga Bencana Sudah Jadi Budaya Nenek Moyang Kita

Peneliti BRIN: Siaga Bencana Sudah Jadi Budaya Nenek Moyang Kita

Peneliti BRIN menyebutkan budaya siaga bencana telah ada sejak zaman nenek moyang tinggal di Nusantara dan mitigasi yang tepat bisa kurangi korban.

(Bisnis Tempo) 31/08/24 15:02 14844344

TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Nuraini Rahma Hanifa menyebutkan budaya siaga bencana telah ada sejak zaman nenek moyang tinggal di wilayah Nusantara.

Dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat, 30 Agustus 2024, Nuraini mengatakan, hal tersebut dibuktikan oleh adanya berbagai istilah lokal dalam menamai fenomena kebencanaan tertentu, seperti lindhu di Jawa yang berarti gempa, atau oni di Mentawai, Sumatera Barat, yang berarti gelombang tsunami.

"Itu yang harus kitagunakan dan jadi kultur kita, karena ini bukan hal baru sebetulnya. Nenek moyang kita sudah ada budaya hidup dalam dinamika alam, ada bahasa lokal untuk gempa dan tsunami," katanya.

Nuraini menilai adanya budaya siaga bencana tersebut merupakan proses adaptasi masyarakat terhadap bencana, karena Indonesia berada di wilayah yang dinamis, berbentuk kepulauan, dan berada di pertemuan lempeng-lempeng bumi.

Di wilayah Bayah, Banten, katanya, terdapat cerita kearifan lokal yang dtuturkan secara turun temurun, di mana ada kisah bahwa Bayah akan di-kumbah (dicuci) dengan gelombang, kemudian harus bergerak ke wilayah Kiarapayung.

"Ternyata, wilayah itu memang wilayah yang relatif lebih tinggi dan aman dari tsunami," ujarnya.

Nuraini mengemukakan adanya kebiasaan yang diturunkan oleh para sesepuh saat menghadapi bencana alam, seperti dengan memperhatikan perilaku satwa yang menjadi aneh menjelang terjadinya bencana alam. Seperti satwa yang tiba-tiba bergerak dari dataran tinggi ke rendah saat akan terjadi erupsi gunung berapi.

Menurut dia, hal tersebut merupakan upaya yang harus dilestarikan oleh masyarakat, sebagai upaya sadar bencana, sehingga dapat meminimalisasi risiko kebencanaan dan menyelamatkan lebih banyak nyawa jika terjadi bencana alam.

"Sejak zaman nenek moyang kita ini ada kulturnya, maka jangan sampai terkikis. Kita ini tinggal di daerah yang dinamis, berada di tengah-tengah pertemuan lempeng bumi. Megathrust pasti ada, tetapi kita bisa kok beradaptasi. Jadikan itu budaya, itu yang perlu kita internalisasi," tuturnya.

#siaga-bencana #mitigasi-bencana #brin #gempa #gempa-megathrust #tsunami

https://bisnis.tempo.co/read/1910808/peneliti-brin-siaga-bencana-sudah-jadi-budaya-nenek-moyang-kita