4 Alasan Psikologis Seorang Ibu Tega Menyakiti Anaknya
Ada empat alasan psikologis yang bisa jadi penyebab seorang ibu tega menyakiti anaknya, di antaranya karena tekanan ekonomi dan trauma masa lalu.
(Kompas.com) 05/09/24 21:55 14900208
JAKARTA, KOMPAS.com - Sewajarnya seorang ibu bersikap penuh cinta dan kasih pada anaknya.
Kasih sayang ibu yang dikenal begitu besar, harusnya membuat ibu tak mungkin menyakiti anaknya sendiri.
Sebab, anaknya telah dikandungnya selama sembilan bulan. Bahkan, nyawa ibu terancama saat melahirkan anak.
Namun rupanya, tak semua ibu demikian. Sebuah kasus yang melibatkan seorang ibu berinisial E di Sumenep, Jawa Timur mengejutkan banyak orang.
Pasalnya, ia diduga menyerahkan anak kandungnya yang masih berusia 13 tahun ke seorang laki-laki, J, untuk diperkosa.
Sebenarnya, mengapa seorang ibu bisa melakukan hal demikian?
Psikolog Klinis Personal Growth Shierlen Octavia, M.Psi., mengungkap, ada sejumlah alasan mengapa seorang ibu tega menyakiti anaknya.
1. Penyimpangan psikologis
Ada banyak faktor yang membuat seorang ibu bisa tega menyakiti anaknya. Salah satunya adalah penyimpangan psikologis.
"Secara psikologis, mungkin ibu juga punya gangguan kesehatan mental. Jadi memang ada disorder," ucap Shierlen kepada Kompas.com, Kamis (5/9/2024).
Dalam dunia medis, ada beragam gangguan kesehatan mental yang bisa dialami oleh manusia.
Penyebab gangguan kesehatan mental itu muncul pun bermacam-macam.
Untuk mengetahui jenis gangguan mental dan penyebabnya, diperlukan pemeriksaan terhadap orang tersebut.
2. Tekanan ekonomi dan keluarga
Alasan lainnya adalah tekanan ekonomi yang sangat besar, ditambah dengan tekanan dari pihak keluarga.
Secara umum, orang-orang yang berada dalam kondisi tertekan, sangat mungkin melakukan hal-hal yang impulsif, bahkan tidak masuk akal.
"Berdampak terhadap pelampiasan juga jadinya, kepada subyek yang dirasa lebih lemah karena (pelaku) merasa tertekan," papar Shierlen.
"Alhasil, dia berusaha untuk menekan yang lain lagi. Dalam hal ini, yang lebih rentan dan lebih lemah, adalah anaknya," imbuh dia.
3. Tingkat pendidikan
Seorang ibu juga bisa tega menyakiti anaknya, karena tingkat pendidikan yang rendah.
Tingkat pendidikan yang terlalu rendah, bisa membuat seseorang lebih rentan terhadap manipulasi dan menerima informasi yang keliru.
"Dan sangat mungkin juga menjadi kesulitan memiliki penilaian terhadap hal yang benar dan salah," terang Shierlen.
4. Trauma masa lalu
Kemungkinan lainnya yang mendorong seorang ibu tega adalah trauma masa lalu.
"Sangat mungkin punya trauma. Kemudian, karena tidak terkelola dengan baik, akhirnya dilampiaskan ke figur atau orang yang dirasa tidak mungkin bisa melawannya," pungkas Shierlen.
Sebagai informasi, E diduga tega menyerahkan anaknya yang berusia 13 tahun kepada J, karena dijanjikan sejumlah uang, serta dijanjikan satu unit sepeda motor jenis Vespa Matic.
Tak hanya itu, pelaku J yang merupakan kepala sekolah meminta E untuk mengantarkan anaknya untuk diperkosa dengan alasan menyucikan diri.
Peristiwa pencabulan itu bermula sejak Februari 2024 lalu, saat korban sedang berada di rumahnya. Saat itu, E yang merupakan ibu kandung korban mengajak korban ke rumah J untuk melakukan ritual menyucikan diri.
Selanjutnya, pada Jumat (16/2/2024), korban kembali diantarkan ke rumah pelaku oleh E. Tujuan ibu kandungnya mengantar anaknya ke rumah J, lagi-lagi sebagai ritual menyucikan diri.
Peristiwa pencabulan itu berlanjut hingga Juni 2024, di salah satu hotel yang terletak di wilayah Surabaya. Di sana, pencabulan yang dilakukan J berlangsung sebanyak tiga kali.
Kini, E dan anaknya sudah diamankan di Polres Sumenep. E dijerat dengan Pasal 2 Ayat (1), (2) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.
Sementara J dijerat dengan Pasal 81 ayat (3) (2) (1), 82 ayat (2) (1) UU RI Nomor 17 Tahun 2016 perubahan atas UU No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.
#alasan-ibu-tega-menyakiti-anaknya #penyimpangan-psikologis #trauma-masa-lalu #tekanan-ekonomi