Pemicu Pembiayaan Modal Ventura Merosot 10,67% pada Juli 2024
Amvesindo menjelaskan beberapa penyebab penurunan pembiayaan modal ventura pada Juli 2024.
(Kontan-Uang) 09/09/24 15:48 14940249
Reporter: Nadya Zahira | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo) menjelaskan beberapa penyebab penurunan pembiayaan modal ventura pada Juli 2024.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, pembiayaan modal ventura pada Juli 2024 mencapai Rp 16,18 triliun. Angka ini mengalami penurunan 10,67% secara tahunan atau year on year (YoY).
Pada Juni 2024, pembiayaan modal ventura juga mengalami kontraksi sebesar 10,97% YoY dengan nilai sebesar Rp 16,22 triliun.
Ketua Umum Amvesindo, Eddi Danusaputro mengatakan pembiayaan modal ventura pada Juli 2024 turun karena Indonesia masih sejalan dengan tren di Asia dan global, di mana memang masih terjadi tech winter.
Untuk diketahui, tech winteradalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan periode penurunan investasi dan kinerja di industri teknologi, termasukstartup. Fenomena ini dapat menciptakan ketidakpastian bagi pelaku industristartup dan investor.
Eddi menilai, tech winter ini akan terus terjadi hingga suku bunga The Fed turun. Di tengah situasi tersebut, dia mengatakan modal ventura termasuk pihaknya akan lebih selektif menyalurkan pendanaan.
"Setiap perusahaan ventura pasti punya mandat sektoral yang berbeda-beda. Namun, secaraindustry wide, yang masih diminati masih sama dengan 2023," kata dia kepada Kontan.co.id, Jumat (6/9).
Sementara itu, Bendahara Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani menyampaikan penurunan dalam pembiayaan modal ventura pada Juli 2024, dan bulan-bulan sebelumnya mencerminkan ketidakstabilan ekonomi global dan dipengaruhi oleh kinerja saham di sektor teknologi dan lainnya.
"Sehingga hal ini berdampak langsung pada keputusan investasi serta secara tidak langsung memengaruhi kepercayaan investor di pasar ventura," kata Edward kepada Kontan.co.id, Sabtu (7/9).
Edward menilai, saat ini fokus pembiayaan telah bergeser ke startupatau perusahaan yang menunjukkan tingkat profitabilitas dan arus kas yang sehat. Edward mengatakan tren yang sebelumnya mendominasi pasar dengan strategi "bakar uang" untuk pertumbuhan cepat kini mulai ditinggalkan.
Lebih lanjut, menurut dia kesempatan untuk pertumbuhan yang agresif dan berkelanjutan bagi startup saat ini terletak pada kolaborasi, terutama dengan korporasi atau perusahaan yang sudah mapan, memiliki pasar, pasokan, dan ekosistem yang solid.
“Kerja sama ini memungkinkan percepatan dalam strategi go-to-market dengan biaya yang lebih efisien,” imbuhnya.
Edward menyebutkan bahwa terdapat 15 sektor startupyang paling diminati pada 2023. Urutan pertama adalahmarketplacedengan pendanaan US$ 1,51 miliar, disusul Fintech US$ 583 juta, Aquatech US$ 213 juta, EV US$ 153 juta, Healthtech US$ 125 juta, dan E-commerce Enabler US$ 30 juta.
Berikutnya sektor Agritech dengan nilai US$ 26 juta, Contech US$ 26 juta, Software as a Service (SaaS) US$ 24 juta, Online Media US$ 23 juta, Proptech US$13 juta, Food Tech US$ 12 juta, Car Marketplace US$10 juta, dan terakhir adalah sektor Biotech dengan nilai pendanaan US$ 8 juta.
#berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #n-a
https://keuangan.kontan.co.id/news/pemicu-pembiayaan-modal-ventura-merosot-1067-pada-juli-2024