Pasar Obligasi RI Diproyeksi Beri Imbal Hasil Positif di 2024-2025

Pasar Obligasi RI Diproyeksi Beri Imbal Hasil Positif di 2024-2025

PT Mandiri Sekuritas proyeksikan imbal hasil obligasi RI mencapai 15% di 2024-2025. Simak analisis dan faktor pendorongnya! Halaman all

(Kompas.com) 11/09/24 19:46 14962996

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Mandiri Sekuritas memproyeksikan imbal hasil investasi di pasar obligasi Indonesia untuk tahun 2024-2025 akan mencapai 15 persen.

Proyeksi ini didasarkan pada asumsi bahwa yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun akan terus menurun hingga mencapai level 6 persen pada tahun 2025.

Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto, menjelaskan bahwa proyeksi ini didasarkan pada tiga faktor utama.

Pertama, terdapat kemungkinan yang lebih tinggi bahwa The Fed akan mulai memangkas suku bunga pada September 2024 dan proyeksi penurunan akan berlanjut hingga tahun berikutnya.

“Secara historis, penurunan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) akan dibarengi dengan penurunan US Treasury yield dan Dollar Index, sehingga akan terus mendorong aliran dana asing ke pasar obligasi,” ujar Handy dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (11/9/2024).

Faktor kedua adalah kejelasan lebih lanjut mengenai pembiayaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Indonesia tahun ini dan prospek panduan fiskal tahun 2025.

“Pemerintahan yang baru masih tetap mempertahankan prudent fiscal,” tambah Handy.

Ketiga, seiring dengan menguatnya mata uang rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS), suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga menunjukkan tren penurunan.

Handy memperkirakan bahwa dengan terus menurunnya suku bunga SRBI, permintaan obligasi berpotensi akan terus meningkat.

“Dukungan dari onshore investor ke pasar obligasi tetap kuat, terutama dari retail dan institusi nonbank,” jelasnya.

Handy mencatat bahwa aliran dana asing mulai masuk secara signifikan ke pasar obligasi dalam sebulan terakhir, meskipun porsi kepemilikan asing terhadap total outstanding SBN relatif masih rendah.

Secara valuasi, Handy memperkirakan imbal hasil obligasi SBN tenor 10 tahun akan berpotensi menurun ke level 6,2 persen, dengan kisaran di 6,0-6,4 persen.

“Jika FFR menurun ke level 4,75 persen, maka Bank Indonesia (BI) akan memangkas suku bunga acuannya menjadi 5,75 persen,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa yield US Treasury 10 tahun berada di 3,8 persen, Credit Default Swap (CDS) 5 tahun Indonesia berada di 70, dan rupiah diperkirakan akan diperdagangkan pada Rp 15.400 terhadap dollar AS di akhir 2024.

Penurunan lebih lanjut pada US Treasury yield juga berpotensi memperkuat posisi valuasi obligasi Indonesia.

Namun, Handy juga mengingatkan tentang beberapa risiko yang mungkin terjadi di pasar obligasi Indonesia, termasuk kemungkinan penundaan pemangkasan suku bunga acuan The Fed, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta pelebaran defisit anggaran yang signifikan atau di atas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

#suku-bunga-acuan #pasar-obligasi-indonesia #imbal-hasil-15-persen #handy-yunianto

https://money.kompas.com/read/2024/09/11/194640926/pasar-obligasi-ri-diproyeksi-beri-imbal-hasil-positif-di-2024-2025