Tren Surplus Neraca Dagang Berlanjut, tapi Migas Masih Defisit
Neraca perdagangan RI menorehkan surplus 52 bulan secara berturut-turut. Halaman all
(Kompas.com) 17/09/24 13:26 15131263
JAKARTA, KOMPAS.com - Kinerja neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus pada Agustus 2024. Dengan demikian, neraca perdagangan RI menorehkan surplus 52 bulan secara berturut-turut sejak Mei 2020.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan, neraca peradagangan RI mengalami surplus sebesar 2,90 miliar dollar AS. Nilai ini meningkat 2,40 miliar dollar AS dari surplus Juli 2024 sebesar 470 juta dollar AS.
Adapun surplus pada Agustus 2024 dibentuk oleh nilai ekspor sebesar 23,56 miliar dollar AS dan nilai impor sebesar 20,67 miliar dollar AS.
"Dengan demikian neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus selama 52 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," kata Pudji dalam konferensi pers, Jakarta, Selasa (17/9/2024).
Jika dilihat secara tahunan, nilai surplus juga tercatat meningkat. Tercatat pada Agustus 2023 nilai surplus mencapai 3,12 miliar dollar AS.
Amalia merinci, surplus neraca dagang RI masih ditopang oleh surplus komoditas non minyak dan gas (migas). Ia menyebutkan komoditas non migas mengalami surplus sebesar 4,34 miliar dollar AS.
"Dengan komoditas penyumbang surplus utamanya adalah bahan bakar mineral atau HS27, lemak dan hewan atau nabati yaitu HS15, serta besi dan baja atau HS72," ujar Amalia.
Sementara itu, komoditas migas lagi-lagi mencatatkan defisit. Pada Agustus 2024, defisit migas mencapai 1,44 miliar dollar AS.
"Komoditas penyumbang defisit yang pertama adalah hasil minyak dan minyak mentah," kata Amalia.
Dengan perkembangan tersebut, sejak awal tahun hingga Agustus 2024, nilai neraca perdagangan RI mengalami surplus sebesar 18,85 miliar dollar AS.
Nilai ini mengalami penurunan sekitar 5,47 miliar dollar AS dari periode yang sama 2023 sebesar 24,32 miliar dollar AS.
#neraca-perdagangan #neraca-dagang #neraca-dagang-indonesia #surplus-neraca-dagang