Capex Astra Agro Lestari Turun 21,8% di Semester I 2024
Perusahaan kelapa sawit, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), telah menyerap anggaran belanja modal (capex) sebesar Rp 379 miliar hingga semester pertama 2024.
(Katadata) 18/09/24 17:45 15191819
Perusahaan kelapa sawit, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), telah menyerap anggaran capital expenditure (capex) sebesar Rp 379 miliar hingga semester pertama 2024. Angka ini turun 21,8% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama pada 2023, yang mencapai Rp 485 miliar.
Vice President Investor Relation & Public Affairs AALI, Fenny Sofyan, menjelaskan turunnya capex disebabkan oleh penundaan belanja pada tahun 2020 dan 2021 akibat musim kemarau panjang serta pandemi Covid-19. Setelah kondisi tersebut membaik, kata Fenny, AALI meningkatkan serapan capex secara signifikan di tahun 2023 untuk memperbaiki infrastruktur pendukung.
Kemudian ia menyebut mayoritas capex digunakan untuk replanting tanaman sawit yang sudah tua dan tidak produktif lagi. AALI menargetkan replanting seluas 4.000–5.000 hektare setiap tahunnya.
Namun pada 2024 ini, replanting dilakukan untuk sekitar 3.000 hektare saja. Fenny menjelaskan bahwa replanting dilakukan untuk menjaga jumlah tanaman sawit yang produktif, sehingga prosesnya tidak mengganggu produksi keseluruhan perusahaan.
“Per Juli 2024 jumlah replanting ini memang lebih tinggi 38% dari tahun lalu,” kata Fenny dalam Astra Media Day di Menara Astra, Jakarta, Rabu (18/9).
Tak hanya itu, ia menyampaikan jumlah lahan yang akan direplanting diperkirakan meningkat hingga 4.000 hektare pada akhir 2024, namun perseroan tetap memperhatikan kondisi cuaca, terutama dampak La Nina, di sisa tahun ini.
Kalau curah hujannya tinggi, kata Fenny, lahan yang di-replanting kemungkinan tidak terlalu banyak karena akan terkendala.
Lebih jauh, Fenny juga menyampaikan bahwa AALI telah melakukan inovasi pada bibit yang digunakan dalam proses replanting tahun ini. Bibit hasil inovasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas secara signifikan dalam lima tahun setelah penanaman.
Selain itu, bibit inovasi AALI diklaim mampu mengurangi biaya pemupukan sekitar 25%-28%. Meskipun demikian, proses replanting tidak sepenuhnya menggunakan bibit baru ini sebab masih ada sebagian lahan yang menggunakan bibit konvensional.
“Masih sekitar 5% yang pakai bibit ini,” pungkasnya.