Meneropong Arah Bisnis Grup Astra
Meneropong arah bisnis Grup Astra di tengah tantangan pemain baru di sektor otomotif dan migrasi bertahap UNTR mengurangi eksposur batu bara - Halaman all
(InvestorID) 18/09/24 22:30 15212742
JAKARTA, investor.id -Selama lebih dari setengah abad terakhir, Grup Astra yang dipimpin PT Astra International Tbk (ASII) tumbuh dan dan menjadi raja otomotif Indonesia. Sektor otomotif pula yang selama ini mampu menjadi penopang utama kinerja keuangan Grup Astra, sehingga mengantarkannya menjadi salah satu konglomerasi terbesar Tanah Air. Lantas, bagaimana nasib dan arah bisnis Grup Astra ke depan?
Banjirnya beberapa brand asing ke pasar otomotif Indonesia terutama dari Tiongkok, menandai ancaman nyata bagi Astra Group. Terlebih, para pemain anyar di industri otomotif itu mengusung berbagai model mobil baru, termasuk kendaraan listrik yang kini digandrungi konsumen.
Imbasnya, penjualan mobil Grup Astra menghadapi tantangan. Bahkan, bisa dibilang penjualannya berada di bawah penjualan otomotif nasional. Pada agustus 2024, penjualan mobil Grup Astra tergerus sebesae 17%, sementara penjualan nasional turun sebesar 14% dibanding periode sama tahun lalu.
HeadofCorporateInvestorRelations Astra International Tira Ardianti menyebutkan, Astra International memiliki tujuh pilar bisnis utama. Pilar-pilar tersebut meliputi otomotif, jasa keuangan, alat berat dan pertambangan, produk konsumen, agribisnis, infrastruktur dan logistik, teknologi informasi, serta properti. Astra sebagai konglomerasi besar, memiliki lebih dari 200 anak perusahaan.
Dalam bisnis inti ini, Astra telah beroperasi sejak 1957, menghadapi berbagai krisis dan disrupsi. "Untuk memastikan keberlanjutan, Astra harus terus menyesuaikan diri, menjadi lebih lincah, dan cepat merespons dinamika bisnis yang terus berubah," ungkap Tira.
Selain bisnis inti, Astra juga menjalankan investasi pada adjacency atau bisnis yang berhubungan dengan portofolio utamanya, seperti investasi di OLX Mobbi, Bank Saku, dan Equinix.
“Investasi ini sejalan dengan tren konsumen yang semakin terfokus pada digital commerce,” kata Tira. Akuisisi OLX Mobbi memperkuat ekosistem otomotif Astra, khususnya di pasar mobil bekas, menggabungkan platform offline seperti mobil88 dengan digital platform OLX, menciptakan strategi omnichannel.
Astra juga memperhatikan transisi portofolio jangka panjang, khususnya terkait ESG (Environmental, Social, and Governance). "United Tractors selaku anak usaha yang sudah beroperasi di sektor energi, sedang mengalihkan fokusnya ke energi terbarukan dan mineral non-batu bara untuk mendukung transisi portofolio," jelas Tira.
Lebih jauh, Astra juga terus memperkuat bisnis eksisting sambil berinvestasi di portofolio baru untuk memastikan agar tetap adaptif dan berkelanjutan. Transisi ini dilakukan guna menghadapi perubahan di masa depan, baik dari sisi regulasi lingkungan maupun dinamika industri global.
Dalam laporan keuangan semester I-2024, ASII mencatatkan pendapatan sekitar Rp 180 triliun, turun 1% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Laba bersih perusahaan tercatat sekitar Rp 17 triliun, turun sekitar 8%, sebagian besar dipengaruhi oleh penurunan daya beli dan ketidakpastian ekonomi menjelang pemilu.
Meski demikian, segmen otomotif Astra tetap memimpin pasar mobil dan sepeda motor di Indonesia. Penurunan penjualan di segmen ini masih lebih kecil dibandingkan penurunan industri secara keseluruhan, dengan market share Astra justru meningkat.
Bersamaan dengan itu, bisnis alat berat ASII melalui United Tractors juga terdampak penurunan harga batu bara. Namun, masih membukukan kinerja operasional yang baik, terutama dalam hal overburden removal dan produksi batu bara. Walaupun profitability menurun, emiten bersandu saham UNTR tersebut tetap resilient.
Tira menambahkan, Astra akan terus fokua pada peluang di sektor otomotif, termasuk kendaraan listrik dan hybrid. "Astra menawarkan produk ramah lingkungan, termasuk hybrid, yang dipandang sebagai solusi transisi menuju kendaraan listrik sepenuhnya," ujarnya.
Pasar mobil listrik berbasis baterai (EV) di Indonesia masih kecil. Tapi, Astra optimistis hybrid akan menjadi pilihan utama bagi konsumen yang ingin bertransisi ke kendaraan ramah lingkungan. "Toyota Innova Zenix hybrid adalah salah satu model paling populer di segmen ini," tutup Tira. United Tractors
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Perusahaan United Tractors Sara K Loebis mengumumkan, pergeseran bisnis UNTR dari fokus ke sektor batu bara, menuju pertambangan emas dan nikel.
Sara melanjutkan, meski UNTR tetap aktif dalam kegiatan pertambangan, batu bara tak lagi menjadi prioritas. “Kami beralih ke sektor yang lebih berkelanjutan, seperti tambang emas yang dioperasikan PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Juta Raya (SJR), serta tambang nikel di Stargate, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara,” ungkap Sara.
Berlanjut, UNTR juga memperkuat bisnisnya di sektor energi baru terbarukan (EBT) dengan mengembangkan bisnis pembangkit listrik tenaga mini hydro, instalasi solar EV, dan bisnis geothermal. "Kami akan terus mengembangkan bisnis di sektor mineral lainnya, serta energi terbarukan, untuk mendukung transisi menuju ekonomi hijau," tambah Sara. DiversifikasiEBT
Keputusan United Tractors meninggalkan batu bara bukanlah langkah tiba-tiba. Sejak 2023, perseroan telah mendiversifikasi portofolio bisnisnya. Direktur Utama United Tractors, Frans Kesuma, menyatakan perusahaan juga membuka peluang akuisisi di sektor pertambangan emas dan nikel jika peluang tersebut dinilai menguntungkan dan sesuai standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
"Kami mempertimbangkan dua hal dalam akuisisi, yakni kelegalan objek akuisisi dan pemenuhan aspek ESG. Jika perusahaan tidak memenuhi standar ESG, biarpun asetnya menarik, kami tidak akan melanjutkan akuisisi tersebut," jelas Frans pada November 2023.
Sebagai bagian dari strategi ini, UNTR mengakuisisi PT Anugerah Surya Pacific Resources, perusahaan tambang nikel, senilai US$ 104,91 juta atau setara Rp 1,64 triliun. Langkah tersebut menandakan komitmen UNTR dalam memperkuat kehadirannya di sektor nikel, mineral yang semakin penting dalam perkembangan baterai kendaraan listrik (EV).
Di samping pertambangan emas dan nikel, UNTR turut agresif mengembangkan bisnis EBT. Pada Agustus 2023, perseroan memperluas sayapnya ke sektor pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) dengan mengakuisisi 680 ribu saham, atau setara dengan 40,47% kepemilikan di PT Supreme Energy Sriwijaya (SES).
Kendaraan dengan mesin pembakaran dalam (Internal Combustion Engine/ICE) tetap menjadi pilihan utama bagi konsumen, terutama karena infrastruktur pengisian daya EV yang belum sepenuhnya siap serta harga EV yang relatif tinggi.
“Hal ini memberikan ruang bagi Astra untuk terus mempertahankan dominasi pasar, didukung oleh jaringan distribusi yang luas dan produk yang telah terbukti di pasar Indonesia,” kata dia.
Namun, ancaman dari merek-merek otomotif asing khususnya China yang menawarkan kendaraan dengan harga lebih kompetitif, semakin nyata. Astra diperkirakan bakal merespons cepat melalui inovasi produk dan penyesuaian strategi pemasaran. Perusahaan ini juga mulai serius masuk ke segmen kendaraan listrik, sebuah langkah strategis untuk menyesuaikan diri dengan tren otomotif global.
“Dengan keunggulan dalam layanan purna jual dan kekuatan merek yang solid, Astra masih memiliki peluang besar untuk tetap menjadi pemimpin pasar di tengah persaingan yang semakin ketat,” kata dia.
Tidak hanya di sektor otomotif, kekuatan keuangan Astra juga didukung dividen signifikan dari anak-anak perusahaannya, seperti United Tractors (UNTR), Astra Agro Lestari (AALI), dan Astra Otoparts (AUTO). TargetHarga Menurut Hendra, pembagian dividen ini memberikan arus kas stabil bagi Astra, membantu perusahaan tetap solid di tengah fluktuasi di pasar otomotif. Melalui kontribusi dari sektor tambang, agribisnis, dan komponen otomotif, Astra mampu menjaga stabilitas keuangan yang lebih baik dan mengurangi ketergantungan terhadap industri otomotif.
Dari segi investasi, Hendra menuturkan, saham Astra International (ASII) memiliki fundamental solid. Dengan Net Profit Margin (NPM) sebesar 10,66%, jauh di atas rata-rata industri 4,24%, dan Return on Equity (ROE) sebesar 16,18%, ASII mampu menghasilkan laba tinggi dari modal yang dimiliki.
Valuasi saham ASII juga terbilang menarik dengan Price to Earnings Ratio (P/E) sebesar 6,03x, lebih rendah dibandingkan rata-rata industri yang berada di 8,46x, serta Price to Book Value (P/B) sebesar 0,61x, lebih rendah dari rata-rata industri di 0,82x.
“Dengan rasio keuangan yang kuat dan valuasi saham yang undervalued, Astra masih menjadi pilihan menarik bagi investor. Rekomendasi untuk saham ASII adalah BUY, dengan target harga Rp 6.000, mencerminkan keyakinan Astra yang akan terus tumbuh dan tetap tangguh di tengah tantangan pasar yang semakin dinamis,” pungkas Hendra.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #grup-astra #asii #untr #astra-international-asii #united-tractors #target-harga-asii #berita-ekonomi-terkini
https://investor.id/market/373869/meneropong-arah-bisnis-grup-astra