Tantangan Clareth Jadi Perawat Lansia Alzheimer, Harus Pintar Baca

Tantangan Clareth Jadi Perawat Lansia Alzheimer, Harus Pintar Baca "Mood" Pasiennya

Clareth menjelaskan, semua perawat harus ekstra sabar ketika menghadapi penderita yang mengalami demensia. Halaman all

(Kompas.com) 19/09/24 08:48 15219212

JAKARTA, KOMPAS.com - Clareth (29) harus terbiasa membaca perubahan suasana hati 34 orang lanjut usia (lansia) agar bisa memberikan perawatan dan penanganan yang tepat di Kanopi Nursing Home.

Hal ini menjadi tantangan, mengingat sebagian lansia yang dirawatnya merupakan penderita Alzheimer dan sudah mengalami demensia.

Clareth tentu tidak bekerja sendiri. Dia dan seluruh petugas di Kanopi Nursing Home berbagi beban yang sama ketika menghadapi opa dan oma yang sering pikun ini.

“Itu tantangan kita harus benar-benar melihat kondisi atau sifat-sifat mereka supaya kita bisa melakukan tugasnya dengan baik,” ujar Clareth saat diwawancarai di kantor Kanopi Nursing Home di Pulo Gadung, Jakarta Timur, Senin (16/9/2024).

Karena penyakit yang diderita, opa dan oma sering kali murung dan dalam suasana hati yang kurang bersahabat. Namun, mereka tidak boleh berlama-lama dalam keterpurukan.

Hal ini menjadi tugas para perawat agar opa dan oma bisa kembali riang untuk ikut dalam proses perawatan. Meski demensia tidak bisa disembuhkan, dampak negatifnya bisa dicegah agar tidak semakin parah.

Harus ekstra sabar

Clareth menjelaskan, semua perawat harus ekstra sabar ketika menghadapi penderita yang mengalami demensia.

Meski tidak mengalami Alzheimer, masih ada penyakit lain yang bisa menimbulkan demensia, misalnya stroke dan penyakit lain yang menyerang pembuluh darah di otak.

Kesabaran para perawat sangat sering diuji. Opa dan oma bisa saja kooperatif di pagi hari. Namun, jika suasana hati mereka tiba-tiba berubah, tentu ini menjadi kendala tersendiri.

“Kita harus sabar, pelan-pelan kita bujuk. Kalau misal oma enggak mau makan ya sudah kita diamkan dulu,” jelas Clareth.

Penderita Alzheimer terkadang tidak sadar kalau dirinya sedang lapar atau haus. Ada juga yang langsung lupa meski baru saja selesai makan.

Oleh sebab itu, perawat harus kreatif untuk membujuk para lansia ini.

“Kita bisa tanya mungkin omanya mau makan mi atau susu atau dibuatin biskuit atau apa gitu (favoritnya). Kalau benar-benar omanya enggak mau ya sudah kita ini (diam dulu),” imbuh dia.

Biasanya, penderita Alzheimer atau demensia cepat lupa dengan apa yang terjadi sebelumnya.

Jadi, perawat bisa saja memberikan selang waktu sebentar sebelum mengajak opa dan oma untuk makan atau melakukan aktivitas yang tengah dijadwalkan.

Secara khusus, Clareth mengatakan, opa dan oma di Kanopi sangat suka makan camilan. Koordinator perawat ini menyebut sesi makan camilan untuk opa dan oma dengan kata “jajan”.

Diamuk lansia

Meski sudah tiga tahun mengurusi opa dan oma di Kanopi, Clareth mengaku dirinya kadang-kadang masih suka terkena amukan para lansia.

“Pernah (kena omel). Pas itu, momen kita lagi memandikan. Kan kadang ada opa oma yang tidak menyukai perawat yang ini itu,” kata dia.

Ketika itu, lansia yang sedang ditangani Clareth sampai marah-marah, bahkan sempat memukulnya. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, Clareth meminta salah satu perawat lain untuk menggantikan tugasnya pada momen itu.

“Pas dia (opa dan oma) lagi benar-benar marah, lagi mukul-mukul, takutnya kan kalau misal kita refleknya pegang (opa oma) atau apa jadi kita resikonya (situasi tambah parah), lebih baik di momen itu saja diganti sama teman-teman yang lain. Kita tukar sama pasien dia,” imbuh Clareth.

Terlebih, para opa dan oma ini sudah punya riwayat penyakit kronis. Jika marah-marah berlebihan, ditakutkan tekanan darah mereka akan ikut naik.

Hal ini tentu sangat berbahaya bagi mereka yang punya riwayat penyakit gangguan pembuluh darah di otak.

Clareth mengatakan, meski baru saja marah-marah, opa dan oma biasanya akan cepat lupa dengan kemarahan yang sempat mereka rasakan.

“Kalau untuk mental saya (setelah kena marah) kan down juga, kesal juga, tapi kita harus benar-benar sabar menghadapi mereka (opa dan oma),” kata Clareth lagi.

Bekerja hampir 24 jam

Sebagai perawat yang tinggal di Kanopi, Clareth mengaku bekerja hampir selama 24 jam. Pasalnya, saat tidur dia bisa dibilang masih tetap bekerja.

“(Perawat tidur) bareng opa oma di kamar karena kita harus benar-benar menjaga resiko jatuh mereka. Jadi, kita harus stay di dalam,” jelas dia.

Sementara, dari pagi sampai malam, ada jadwal yang perlu diikuti perawat untuk memastikan kondisi opa dan oma untuk tetap aktif.

Misalnya, di pagi hari, opa dan oma harus berjemur di lapangan dan senam pagi. Setelah itu, mereka akan masuk ke ruang tengah untuk menggambar atau main dengan blocks.

Kegiatan-kegiatan sederhana ini merupakan cara untuk melatih otak opa dan oma agar terjauh dari pikun yang semakin parah.

Selaku koordinator, Clareth punya sejumlah tugas tambahan. Dia haru memonitor pekerjaan para perawat agar melakukan pekerjaan mereka dengan benar.

Jika ada opa dan oma yang terluka, Clareth juga menjadi salah satu perawat yang harus mengganti perban mereka.

Dia juga membantu pengurus Kanopi untuk menyusun program kegiatan yang akan dijalani oleh opa dan oma.

“Setiap hari, Senin sampai Minggu, kita jalankan program, mereka melukis, membaca, menulis, menghitung, main gim. Kalau ada prakarya biasanya hari Jumat sama Kamis. Sabtu dan Minggu kan opa oma suka karaoke sama nonton bareng,” jelas Clareth lagi.

Sehari-harinya, semua perawat harus berada di dalam gedung atau area Kanopi. Namun, setiap bulannya, mereka diberikan jatah untuk keluar.

Jika opa dan oma sedang istirahat atau tidur siang, perawat juga bisa keluar sebentar untuk membeli barang kebutuhan mereka.

Motivasi Jadi perawat lansia

Clareth memulai kariernya pada tahun 2018. Saat itu, dia menjadi perawat di sebuah rumah sakit yang berada di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ketika pandemi Covid-19 merebak, Clareth juga sempat menjadi perawat di salah satu tempat karantina.

Setelah pandemi berakhir, Clareth memutuskan untuk tidak kembali ke rumah sakit. Dia mengaku, jam kerja yang ditawarkan saat itu tidak cukup.

“Kadang perawatan cuma delapan jam (per hari). Saya memutuskan mau coba melayani yang lebih baik karena melihat di kampung saya banyak orang tua yang tidak dirawat,” lanjut dia.

Clareth menilai, perawatan yang dilakukan di Kupang belum selengkapnya yang dilakukan di Kanopi.

Untuk itu, kesempatan saat ini menjadi momen yang baik untuk belajar agar nanti bisa dipraktekkan di kampung halaman.

“Jadi, motivasinya mau merawat opa oma, melayani dengan setulus hati,” kata Clareth.

#alzheimer #suara-tak-terdengar #peduli-penderita-alzheimer #penderita-alzheimer

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/09/19/08481361/tantangan-clareth-jadi-perawat-lansia-alzheimer-harus-pintar-baca-mood