Keseharian Oma Djan, Penderita Alzheimer yang Masih Energik dan Ceria
Bagi para perawat, Oma Djan adalah salah satu penderita Alzheimer yang paling mudah diajak bekerja sama. Halaman all
(Kompas.com) 19/09/24 08:28 15219219
JAKARTA, KOMPAS.com - Keceriaan Oma Djan (86) selalu menjadi sumber energi bagi para perawat di Kanopi Nursing Home. Tawa dan senandung musik musik lawas 70-an yang dilantunkan Oma Djan selalu mengundang senyum bagi orang-orang yang berpapasan dengannya.
Bagi para perawat, Oma Djan adalah salah satu penderita Alzheimer yang paling mudah diajak bekerja sama.
Jika opa dan oma yang lain hanya murung dan ketus, Oma Djan berlaku sebaliknya. Dia dengan semangat mengikuti arahan dari perawat dan dokter yang sudah menjaganya selama kurang lebih lima tahun.
Paling antusias
Saat Kompas.com mengunjungi Kanopi Nursing Home, Senin (16/9/2024), Oma Djan adalah satu-satunya yang tersenyum dan antusias ketika semua penghuni diajak senam pagi.
Dia terlihat begitu akrab dengan seorang perempuan di depannya. Padahal, gadis ini belum menjadi perawat tetap dan masih dalam tahap magang di Kanopi.
Namun, Oma Djan tampak begitu gembira ketika diajak bertepuk tangan bersama. Dia bersenandung mengikuti alunan musik yang diputar.
Senyum Oma Djan mengembang lebar saat menatap penghuni lain yang duduk persis di sampingnya. Mungkin karena gemas dengan wajah si oma berambut panjang ini, Oma Djan ikut mengelus pipi si oma sampai cekikikan.
Kedekatan antara Oma Djan dan petugas di Kanopi terus terlihat. Meski sempat murung seusai pemanasan dan senam pagi, Oma Djan berhasil dibujuk oleh Direktur Operasional Kanopi Nursing Home, Benny Handojo.
Saat itu, Kompas.com tengah mewawancarai satu oma lainnya yang merupakan penderita Alzheimer. Ketika wawancara selesai, ternyata Oma Djan dan dokter Benny sedang duduk di kursi dengan bahu bertemu bahu.
Hobi bernyanyi dan berjoget
“Baby blue, baby blue. Do you know that I am stil in love with you,” senandung Benny sambil menggenggam tangan Oma Djan.
Saat itu, Oma Djan hanya mengangguk-angguk mengikuti suara George Baker dari handphone dokter Benny. Meski tak mengeluarkan suara, Oma Djan terus tersenyum.
Tangan dokter yang sudah merawatnya selama bertahun-tahun ini tak kunjung dilepas.
Mulut Oma Djan sesekali tampak komat-kamit mengikuti lirik dari lagu yang dirilis pada tahun 1974 ini. Tangan Benny sesekali ditepuk-tepuk Oma Djan dan sempat diciumnya satu kali.
Saking gemasnya dengan Benny, Oma sampai mengadu kepala mereka berdua.
“Oma pintar joget kan? Pintar joget ya?” tanya Benny.
Oma tertawa lepas sebelum bergoyang sebentar ketika dia masih terduduk di kursi. Kedekatan Oma Djan dengan petugas Kanopi juga terlihat ketika dia didekati oleh perawat berseragam merah tua.
Oma menyambut perawat berkerudung hitam ini dengan mencium kedua pipi si perawat. Tangan Oma digenggam erat oleh perawat yang mengajaknya berdiri secara perlahan.
Saat itu, Oma Djan masih memperhatikan percakapan antara Benny dengan Direktur Keperawatan Kanopi Nursing Home, Anna Lidwina. Tapi, ketika tangannya digoyang-goyang sebentar, Oma Djan reflek ikut bergoyang.
Oma terlihat tertawa lepas. Sambil bergoyang kecil, dia beranjak ke ruang tengah untuk duduk bersama para penghuni lainnya.
Setelah Oma Djan berada cukup jauh, Benny mengatakan, Oma Djan adalah penghuni yang paling kooperatif.
Alzheimer dan demensia yang dialami Oma Djan sudah masuk ke tingkat keparahan sedang, tapi sikap dan perilaku Oma Djan tampaknya tidak berubah.
Dia masih sangat ceria dan mudah dibujuk untuk makan, minum, atau melakukan kegiatan untuk merawat kesehatannya.
Uring-uringan jika mood buruk
Namun, bukan berarti Oma Djan setiap waktu mudah diatur. Jika suasana hatinya buruk, dia juga suka teriak dan marah. Hal ini terjadi ketika Oma Djan merasa tidak nyaman.
Berdasarkan cerita dari para perawat, Oma Djan akan uring-uringan dan terlihat gelisah ketika ada hal yang tidak bisa dia sampaikan. Misalnya, saat kebelet buang air, Oma Djan sudah tidak ingat dengan kata ‘mau ke toilet’, ‘pipis”, atau ‘buang air besar’.
Variasi kata-kata ini tidak tercatat lagi dalam memori Oma Djan. Alhasil, dia hanya bisa teriak dan marah jika merasa kebelet. Untungnya, para perawat sudah memahami pola perilaku Oma Djan.
Jadi, mereka bisa langsung membawa Oma Djan ke toilet atau memenuhi kebutuhan lain yang saat itu diperlukan.
“Oma Djan itu kadang-kadang suasana hatinya tidak tentu. Karena itu, kita harus tahu kesukaan dia apa, kalau dia senang lagu kuno, kita ajak dia nyanyi. Itu yang merangsang (otak) dia untuk merasakan happy,” kata Benny.
Dokter umum ini mengatakan, Alzheimer dan demensia tidak bisa sembuh, tapi bisa dicegah untuk tidak tambah parah. Salah satu cara untuk melakukan ini adalah melatih otak agar terus aktif dan positif.
Setiap harinya, Oma Djan dan penghuni lain punya jadwal yang cukup padat. Setelah senam pagi dan peregangan sendi-sendi mereka, sepanjang hari akan ada sejumlah aktivitas yang menunggu.
Mulai dari menggambar, membaca, berhitung, hingga main congklak akan dilakukan agar otak opa dan oma tidak keok.
Namun, di sela-sela kegiatan tentu ada waktu istirahat tidur siang dan sebagainya. Satu yang tidak pernah hilang, momen karaoke di ruang tengah dengan Oma Djan sebagai bintangnya.
#alzheimer #suara-tak-terdengar #peduli-penderita-alzheimer #penderita-alzheimer