Mimpi Besar Makmurdin yang Terkubur Janji Palsu Bripda WSN

Mimpi Besar Makmurdin yang Terkubur Janji Palsu Bripda WSN

Makmurdin, pemuda asal Jakarta Barat, harus mengubur mimpinya menjadi teknisi PT KAI setelah terjebak dalam penipuan oleh oknum polisi. Halaman all

(Kompas.com) 19/09/24 08:14 15219223

JAKARTA, KOMPAS.com - Makmurdin Muslim alias Arif, pemuda asal Kembangan, Jakarta Barat, harus mengubur mimpi besarnya menjadi seorang pegawai PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Pria berusia 27 tahun ini menjadi korban penipuan yang diduga dilakukan oleh oknum anggota Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Polda Metro Jaya berinisial Bripda WSN.

Korban telah melaporkan Bripda WSN ke Polda Metro Jaya. Laporan tersebut teregister dengan nomor LP/B/5462/IX/2024/SPKT/POLDA METRO JAYA.

Bagaimana Makmurdin terjebak penipuan yang menghancurkan mimpinya?

Pada Mei 2024, Makmurdin mengetahui adanya lowongan pekerjaan di PT Kereta Api Indonesia (Persero) dengan posisi sebagai teknisi.

Informasi mengenai lowongan itu diketahui melalui status WhatsApp teman istrinya yang bernama Ajeng.

Lowongan pekerjaan itu ternyata diketahui Ajeng dari suaminya yang merupakan teman dari Bripda WSN.

"Dia mengunggah info (lowongan pekerjaan), itu dari Bripda WSN yang dipublikasikan ke status (WhatsApp)-nya Ajeng,” ujar Makmurdin saat dikonfirmasi, Selasa (17/9/2024).

Makmurdin kemudian tertarik dengan lowongan pekerjaan itu, begitu pun Ajeng.

Keduanya kemudian bertemu dengan Bripda WSN. Tujuannya mereka meminta penjelasan lebih terperinci mengenai lowongan pekerjaan itu.

Kepada Arif dan Ajeng, Bripda WSN mengaku memiliki koneksi ke PT KAI sehingga keduanya bisa dapat langsung masuk melalui relasinya itu.

Namun, untuk memuluskan keinginannya itu, Makmurdin dan Ajeng diminta untuk mengeluarkan uang agar dengan mudah diterima.

"Harga seperti masinis itu sekitar Rp 170 juta, teknisi seharga Rp 50 juta, dan yang lainnya. Saya ambil bagian teknisi,” kata Makmurdin.

Apa saja janji-janjinya yang membuat Makmurdin terpikat?

Kepada Makmurdin, Bripda WSN mengiming-imingi gaji sebesar Rp 8-10 juta per bulan jika bekerja sebagai teknisi PT KAI.

Makmurdin dan Ajeng pun tergiur. Mereka lalu setuju dengan persyaratan yang diminta, termasuk soal "uang pelicin" sesuai posisi pekerjaan.

Usai melakukan pembayaran senilai Rp 50 juta, Makmurdin dijanjikan akan menjalani diklat sebagai teknisi di PT KAI pada akhir Juli 2024.

Namun, hingga waktu yang dijanjikan, Makmurdin tak mendapatkan kepastian dari Bripda WSN.

Ia mulai curiga lalu mendatangi kediaman Bripda WSN di Serpong, Tangerang Selatan.

Dari penelusuranya, Makmuridin baru mengetahui bahwa ada korban lain yang diduga juga ditipu oleh Bripka WSN.

“Kesaksian RT-nya pun juga bilang, ini rumah sudah diambil alih sama korban sebelumnya, kemudian aset-aset WSN juga yang saya dapat informasi sudah dijual juga untuk korban-korban lainnya yang rugi besar,” ujar Makmurdin.

Makmurdin mengatakan, Bripda WSN menjaminkan kartu tanda anggota (KTA) kepolisian untuk membuat dirinya percaya.

“Jaminan KTA pelaku, KTP, itu saja. Sama surat di atas materai, tinta hitam,” ucap Makmurdin.

Siapa sebenarnya relasi Bripda WSN di PT KAI?

Belakangan diketahui, relasi Bripda WSN di PT KAI bernama Sekar. Namun "orang dalam" itu sudah tidak lagi bekerja di PT Kereta Api Wisata (Kawista) sejak 2023.

Humas Kawista, Riesta Junianti, mengonfirmasi bahwa Sekar diberhentikan bekerja terkait dengan masalah pribadi yang tidak dijelaskan lebih lanjut.

"Yang bersangkutan ternyata sudah diberhentikan sejak tahun 2023 karena masalah," ujar Riesta, Selasa.

Adapun Sekar sebelumnya merupakan pegawai kontrak alih daya di KAI Wisata, dan pernah bekerja di Daop 3 Cirebon sebelum dipindahkan ke Daop 1 Stasiun Gambir sebagai guest relation officer (GRO).

“Pada intinya gini, dia itu memang direkrut itu sebagai tenaga alih daya melalui KAI Wisata. Dipekerjakan untuk di wilayah Daop 3 Cirebon pada saat itu. Namun, dipindahkan ke Daop 1 sebagai GRO di Stasiun Gambir,” tambah Riesta.

Apa tanggapan PT KAI soal kasus penipuan ini?

Sementara itu, Manager Humas PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 1, Ixfan Hendriwintoko menegaskan, rekrutmen PT KAI tidak dipungut biaya.

Adapun Rekrutmen PT KAI akan diinformasikan secara lengkap melalui laman https://e-recruitment.kai.id/.

"Rekrutmen di PT Kereta Api Indonesia (Persero) tidak dipungut biaya apa pun dan tidak menggunakan sistem refund atau penggantian biaya transportasi maupun akomodasi yang berkaitan dengan proses rekrutmen," ujar Ixfan.

PT KAI Daop 1 meminta masyarakat untuk mengabaikan pihak yang mengajarkan atau berjanji membantu meluluskan peserta rekrutmen.

PT KAI (Persero) tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang timbul akibat penipuan yang mengatasnamakan PT Kereta Api indonesia (Persero).

"Apabila anda mengetahui proses rekrutmen yang mengatasnamakan PT KAI (Persero) dan meminta imbalan tertentu dalam bentuk apa pun, Anda dapat melaporkan tindakan tersebut,” tegas Ixfan.

Lalu, apa tindak lanjut yang dilakukan Polri soal kasus ini?

Kepala Bidang Propam Polda Metro Jaya Kombes Bambang Satriawan berujar, jajarannya tengah memproses pelanggaran kode etik anggotanya, Bripda WSN, terkait kasus dugaan penipuan pekerjaan.

“Sudah ditangani dan pelanggarannya sudah kami proses kode etiknya. Pidananya ditangani reserse,” kata Bambang.

Saat ini, pelanggaran kode etik Bripda WSN masih dalam proses pemeriksaan Biro Pengawasan dan Pembinaan Profesi (Wabprof) Propam Polda Metro Jaya.

“Setelah itu kami sidangkan, putusan nanti saat persidangan akan diputus oleh komisi kode etik atau hakim,” ucap Bambang.

(Reporter: Baharudin Al Farisi | Editor: Jessi Carina, Fitria Chusna Farisa)

#penipuan-loker #penipuan-polda-metro #penipuan-polisi

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/09/19/08140931/mimpi-besar-makmurdin-yang-terkubur-janji-palsu-bripda-wsn