Cerita Fani, Perawat Lansia Alzheimer yang Tidak Kapok meski Pernah Dituduh Mencuri
Fani selama satu tahun terakhir bekerja sebagai perawat di Kanopi Nursing Home. Halaman all
(Kompas.com) 19/09/24 08:02 15219226
JAKARTA, KOMPAS.com - Fani (25), sehari-hari bekerja sebagai perawat orang lanjut usia (lansia) penderita Alzheimer, mengaku pernah dituduh mencuri oleh orang-orang yang dirawatnya.
Hal ini dialami Fani selama satu tahun terakhir bekerja sebagai perawat di Kanopi Nursing Home.
Bahkan, Fani sempat dituduh mencuri oleh salah satu pasien yang dirawatnya. Saat itu, Fani bertugas sebagai penanggung jawab untuk oma yang baru saja masuk ke rumah perawatan itu.
“Saya waktu itu penanggung jawab dia. Jadi, saya yang urus berkas-berkas, yang simpan semua berkas-berkas. Mungkin di situ dia melihatnya lain. Cuma ya saya enggak masalah,” ujar Fani saat diwawancarai di kantor Kanopi Nursing Home di Pulo Gadung, Jakarta Timur, Senin (16/9/2024).
Selesai menyimpan berkas-berkas seperti KTP dan dokumen-dokumen yang diserahkan oleh pihak keluarga, Fani masuk ke kamar tempat oma berada.
“(Saat Fani sudah di dalam kamar), tiba-tiba omanya ini bilang, ‘Itu KTP saya disembunyikan’. (Waktu itu) saya cuma tanya kenapa? Dia (Oma) bilang, ‘Enggak, KTP saya disembunyikan, takutnya kamu pakai buat yang lain-lain,” jelas dia.
Ketika tudingan ini terjadi, Fani mencoba menjelaskan kalau KTP dan dokumen oma berada di tempat yang aman. Namun, Oma tidak percaya dan terus menuduh Fani telah mengambil KTP-nya.
Karena di kamar ada penghuni lain, oma ini justru mengadu pada lansia lainnya. Untuk meredam suasana, Fani dan satu perawat lain tukar tugas. Oma yang khawatir KTP-nya diambil tidak lagi ditangani oleh Fani.
“Saya alihkan (dulu biar) bicara lain dan oper (oma) ke perawat lain. Takutnya, semakin emosi, takutnya tekanan darah (oma) juga semakin naik,” jelas Fani.
Dia mengatakan, cara ini biasanya efektif karena mereka yang telah mengalami demensia biasanya akan lupa dengan peristiwa yang terjadi saat itu.
Fani mengaku tidak pernah marah atau sakit hati menghadapi tingkah opa oma yang kadang-kadang tidak mengenakkan.
“Namanya opa oma sudah demensia, sudah Alzheimer ya. Jadi, kita memahami saja kalau kondisi mereka sedang sakit. Jadi, kita enggak ambil hati, ya harus sabar,” lanjut dia.
Dikira anak pasien
Fani bercerita, suatu ketika dia dipanggil oleh salah satu penghuni terlama di Kanopi yang biasa dipanggil Popo. Popo adalah kata dalam bahasa Mandarin berarti nenek.
“(Popo memanggil) Ling Ling, Ling Ling. Saya jawab, iya Ma,” ujar Fani.
Fani tersenyum lebar saat mengingat kembali momen itu. Pasalnya, Popo yang biasanya bicara hanya sepatah dua patah kata tiba-tiba banyak bicara.
“Terus, Popo juga bilang habis ke mana saja Ling?” lanjut Fani.
Gadis asal Lampung ini mengatakan, tingkah lucu para opa dan oma adalah salah satu alasan dirinya betah menjadi perawat di Kanopi.
Dihibur tingkah lucu Opa Oma
Walaupun pekerjaannya cukup melelahkan, baik secara fisik maupun psikis, Fani mengaku tidak pernah bosan. Baginya, 34 penghuni di Kanopi lucu-lucu dan menggemaskan.
“Tingkah lucunya opa oma kan bikin kita jadi tidak bosan, merasa terhibur juga,” ucap dia.
Salah satu penghuni yang paling berkesan bagi Fani adalah Oma Djan (86). Meski sudah tidak bisa bicara secara jelas, tingkah Oma Djan selalu membuat para perawat tersenyum.
“Tingkah Oma Djan itu menghibur kita juga dengan keramaian dia, bawelnya, dia kooperatif banget,” lanjut Fani.
Jika dibandingkan dengan sejumlah opa oma lain yang cenderung lebih pendiam, Oma Djan yang mudah tertawa dan senang diajak bicara membuat kerja para perawat menjadi lebih mudah.
Pasalnya, Oma Djan termasuk yang mudah dibujuk untuk aktif berkegiatan, baik itu senam pagi, makan, atau mungkin mengganti pakaian.
Namun, suasana hati Oma Djan juga sering fluktuatif. Jika sedang tidak senang, dia akan murung, bahkan berteriak marah.
“Oma Djan kan tidak bisa mendeskripsikan dia mau buang air atau apapun itu. Setelah saya tahu, kita bisa lihat dari tingkahnya. Misal, dia uring-uringan, nah di situ kalau Oma Djan mulai uring-uringan, kita bisa membaca melihat dia mau sesuatu,” jelas Fani.
Wanita berkerudung ini mengaku proses pendekatan dengan para opa dan oma tidaklah mudah. Terlepas dari sikap yang berbeda-beda, penyakit yang menggerogoti tubuh mereka membuat proses pendekatan lebih menyulitkan.
Tapi, secara perlahan, Fani dan para perawat lain dapat memahami perilaku opa dan oma agar bisa membantu menjaga kesehatan mereka.
“Mood opa oma setiap hari berubah-ubah. Itu tantangan buat kita juga bagaimana caranya biar opa oma enggak cemberut,” kata Fani lagi.
Jadi perawat demi orangtua
Hampir satu tahun berlalu Fani bekerja sebagai perawat di Kanopi. Sehari-harinya, dia harus tidur satu kamar dengan opa dan oma yang dirawatnya.
Untuk menghindari resiko jatuh para lansia ini, semua perawat diharuskan tidur di lantai, bukan di kamar terpisah atau ranjang sendiri. Walaupun beralaskan kasur, para perawat menghabiskan hampir 24 jam bersama para lansia.
Meski pernah dicakar atau dipukul oleh opa dan oma yang suasana hatinya sedang buruk, Fani mengaku betah dan tidak masalah dengan situasi kerja yang dihadapinya.
“Menurut saya, jadi perawat lansia itu bisa jadi bekal saya nanti ke depan bisa merawat orangtua saya dengan baik. Misal, nanti orangtua kita begini, kita sudah tahu nih ada pengalamannya kita tahu bagaimana merawatnya,” lanjut dia.
Awalnya, Fani ingin menjadi dokter. Namun, karena takut biaya pendidikan dokter yang mahal menjadi beban baru orang tuanya di Lampung, Fani memilih untuk menjadi perawat.
“Yang penting di ranah kesehatan, makanya saya pilih perawat karena bisa bantu banyak orang,” kata Fani.
#suara-tak-terdengar #penderita-alzheimer #peduli-penderita-alzheimer