Penerapan Green Building Lewat Inovasi Material Ramah Lingkungan

Penerapan Green Building Lewat Inovasi Material Ramah Lingkungan

Perubahan iklim mendorong para pengembang, kontraktor dan arsitek menciptakan bangunan sehat-berkelanjutan lewat material ramah lingkungan. - Halaman all

(InvestorID) 21/09/24 08:49 15334817

JAKARTA, investor.id – Perubahan iklim global telah memberikan dampak signifikan terhadap banyak sektor kehidupan, termasuk perumahan. Tantangan ini turut mendorong para pengembang, kontraktor dan arsitek untuk menciptakan bangunan sehat serta berkelanjutan melalui penggunaan material ramah lingkungan.

Menurut Riset dan Manager Green Building Council Indonesia (GBCI) Ichfan Kurniawan, konsep green building atau bangunan hijau berperan sentral dalam mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan meningkatkan kualitas hidup penghuni bangunan. 

“Bangunan hijau berkontribusi besar dalam mengurangi emisi karbon melalui penerapan desain ramah lingkungan dan material konstruksi yang berkelanjutan. GBCI juga menekankan bahwa green building harus dilihat sebagai sistem yang terintegrasi, di mana setiap elemen, mulai dari desain arsitektur, pemilihan material hingga pengelolaan bangunan, saling mendukung untuk mencapai keberlanjutan jangka panjang,” ujarnya.

Sebagai informasi, sektor konstruksi dan industri lain menyumbang upaya keberlanjutan dalam berbagai model bisnisnya. Semisal sektor konstruksi, yang menyumbang kebutuhan bahan baku energi sebesar 34%, kebutuhan akan air sebesar 12%, berkontribusi menghasilkan sampah atau limbah sebesar 25%, serta menghasilkan emisi karbon sebesar 37% dalam proses produksinya. 

Tidak sekadar memberikan kontribusi, sektor konstruksi juga dapat memberikan solusi inovatif yang mengutamakan keberlanjutan, meningkatkan kualitas sehingga mampu menghadapi perubahan iklim yang meningkat. Dalam hal ini, diperlukan peran penting arsitek untuk merancang dengan menerapkan konsep arsitek hijau yang fokus pada desain tepat guna, efisiensi energi, dan penggunaan material ramah lingkungan.

“Arsitek merancang bangunan dengan efisiensi energi, memanfaatkan pencahayaan alami, ventilasi yang baik, dan teknologi pengelolaan konsumsi energi. Sementara itu, industri material konstruksi memainkan peran penting dalam menyediakan bahan-bahan yang mendukung pembangunan berkelanjutan,” kata Ichsan.

Head of Technical Marketing PT Cemindo Gemilang Syarif Hidayat menambahkan, penerapan prinsip green building tidak hanya melibatkan desain dan material bangunan yang ramah lingkungan, melainkan mencakup keseluruhan siklus hidup produk bahan bangunan dari hulu ke hilir.

“Salah satu produk inovasi ramah lingkungan adalah semen dengan teknologi water repellent yang dirancang untuk mengurangi kebutuhan material tambahan, seperti bahan anti rembes. Teknologi ini memungkinkan bangunan bebas dari masalah kelembaban dan rembesan air, sehingga tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga mempercepat proses konstruksi,” tuturnya.

Dalam penjelasan lebih lanjut, Syarif menyebutkan bahwa Semen Merah Putih Watershield tidak hanya memberikan solusi dalam hal performa, tetapi juga dalam hal jejak karbon. Ini merupakan bentuk dukungan perusahaan terhadap prinsip bangunan dan arsitektur hijau.

“Sebagai semen portland composite (PCC), produk ini memiliki jejak karbon yang lebih rendah dibandingkan semen ordinary portland (OPC), sehingga lebih ramah lingkungan,” kata dia.

Salah satu arsitek sekaligus Pendiri Atelier Riri, Novriansyah Yakub mengatakan telah menerapkan konsep bangunan hijau pada “Proyek Kiri House 2.2”  lewat dua pilar sustainability dalam arsitektur hijau. Pertama, arsitektur hijau mengupayakan fungsi pasif bangunan yang dihasilkan dari desain dan struktur bangunan. Pilar kedua, arsitektur hijau mengupayakan fungsi bangunan yang aktif meningkatkan kualitas pengelolaan berbagai aspek bangunan. 

“Fungsi pasif maupun aktif dari bangunan, keduanya didasari pada tiga aspek. Pertama, aspek sosial yang mencakup kecocokan selera dan kepuasan pengguna atau penghuni bangunan. Aspek kedua adalah budget. Aspek ini mewakili optimalisasi biaya mulai dari saat pembangunan, penggunaan hingga perawatannya. Terakhir, aspek environment atau lingkungan. Aspek ini mengacu kepada menjaga dan memelihara keseimbangan lingkungan, khususnya pada iklim tropis seperti di Indonesia,” jelas dia.

Editor: Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Baca Berita Lainnya di Google News

#berita-terkini #berita-hari-ini #material-ramah-lingkungan #penerapan-green-building #konsep-bangunan-hijau #semen-merah-putih #teknologi-water-repellent #green-building-council-indonesia-gbci #beri

https://investor.id/business/374140/penerapan-green-building-lewat-inovasi-material-ramah-lingkungan