Internet Perlahan Buka Jalan Desa Terluar Keluar dari Ketertinggalan
Kehadiran infrastruktur internet dalam 1 dekade terakhir secara perlahan telah membantu desa 3T untuk mengejar ketertinggalan di berbagai sektor
(Bisnis.Com) 23/09/24 11:15 15430815
Bisnis.com, JAKARTA - Infrastruktur telekomunikasi yang dihadirkan pemerintah dan swasta selama 10 tahun terakhir memberi dampak bagi berbagai sektor di desa tertinggal.
Dengan kapasitas yang masih terbatas, internet mampu memberdayakan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat meski belum optimal. Penambahan kapasitas berpeluang memberi dampak yang lebih besar.
Diketahui, dalam menghadirkan internet di desa tertinggal, terluar dan terdalam (3T) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) melakukan sejumlah inisiatif dalam 1 dekade terakhir.
Kepala Divisi Pengadaan BAKTI Kominfo Gumala Warman mengatakan Bakti telah membangun infrastruktur base transceiver station (BTS) di 1.665 lokasi menggunakan kontribusi Universal Service Obligation (USO), serta di 4.995 lokasi menggunakan bauran pembiayaan. Keseluruhan pemancar sinyal tersebut dibangun di daerah 3T. Mayoritas dari BTS tersebut tersebar di Papua dan Papua Pegunungan.
“Bakti juga membangun jaringan fiber optik juga sepanjang 12.229 km yang dinamakan Palapa Ring merupakan proyek telekomunikasi pemerintah pertama yang menggunakan skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha,” kata Gumala Warman beberapa waktu lalu.
Untuk daerah-daerah yang sulit dijangkau serat optik dan radio link, Bakti mengoptimalkan Satelit High Throughput Satellite (HTS) Satria 1 yang mengangkut kapasitas internet sebesar 150 Gbps. Rencananya satelit tersebut akan menyuntikan internet di 37.000 titik yang tersebar di seluruh Indonesia.
Pada Mei 2024, jumlah titik akses internet (VSAT) mencapai 16.081 titik. Dari jumlah tersebut mayoritas (46,26%) berada di sektor pendidikan, kemudian sektor pemerintahan ada 4.455 titik akses internet (27,72%), sektor kesehatan 2.606 titik (13,94%), pusat kegiatan masyarakat 743 titik (3,97%) hingga sektor pertahanan & keamanan 139 titik (0,74%).

Mengenai infrastruktur internet yang dihadirkan Bakti, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) Zulfadly Syam mengatakan dalam penelitian terbaru yang dilakukan APJII terhadap lebih dari 1.900 respondent di desa tertinggal, internet Bakti memberi dampak yang cukup signifikan terhadap masyarakat.
Internet Bakti melahirkan jenis kegiatan atau layanan baru di desa tertinggal. Bahkan, sebanyak 33,6% responden mengaku komunikasi mereka dengan keluarga dan teman-teman di kota terbuka setelah infrastruktur telekomunikasi Bakti hadir.
Masyarakat di daerah tertinggal juga makin rajin mengakses informasi lewat internet, meski jumlahnya masih kecil. Sebanyak 14,8% responden membaca berita atau mengakses informasi terbaru secara rutin.
Untuk sektor pariwisata, masyarakat di desa tertinggal mengaku akses internet atau apa yang diberikan oleh Bakti dapat mengangkat nama daerah pariwisata tersebut.
“Sebanyak 48,3% responden mengaku internet telah membantu meningkatkan promosi dan aksesibilitas destinasi pariwisata,” ujarnya.
Lebih lanjut, sebanyak 25,8% responden juga mengaku terjadi peningkatan yang signifikan terhadap jumlah kunjungan wisatawan serta peningkatan ekonomi lokal dan pendapatan pelaku bisnis pariwisata. Namun demikian, jumlah tersebut masih perlu dioptimalkan.
Pendidikan
Dalam riset yang berjudul Survey Penetrasi Pengguna Internet di Daerah Tertinggal Tahun 2024, APJII juga mengungkapkan pada sektor pendidikan, internet telah digunakan untuk membantu siswa mengakses sumber pembelajaran tambahan seperti video pembelajaran, ebook, dan materi pembelajaran interaktif.
Namun jumlah siswa yang menggunakan internet untuk mengakses materi pendidikan tambahan belum terlalu banyak hanya 31%. Artinya, baru 3 dari 10 siswa yang benar-benar menggunakan internet untuk mendapat informasi tambahan.
Sementara 22% lainnya disebutkan hanya menggunakan internet untuk mencari informasi dan melakukan riset untuk proyek atau tugas mereka. Jumlah tersebut berpeluang untuk ditingkatkan.
Dari sisi guru, Internet membantu 48,4% guru untuk mengakses informasi dan sumber belajar, sebanyak 19,2% menjadi lebih inovatif dalam pengajaran.

Kendati demikian, masih terdapat 6% di antaranya yang belum memanfaatkan internet secara optimal, serta 1% mengalami kesulitan dalam menggunakan teknologi.
Kesehatan
Sebanyak 70,8% fasilitas kesehatan di desa-desa terluar telah memanfaatkan internet untuk melayani masyarakat. Petugas kesehatan menggunakan internet untuk berkomunikasi dengan rumah sakit rujukan melalui email atau aplikasi pesan instan, hingga menyebarkan informasi kesehatan melalui media sosial, website desa, atau aplikasi pesan singkat (24,7%).
Tidak hanya itu, faskes juga memanfaatkan internet untuk menyebarkan informasi kesehatan melalui media sosial, website desa, atau aplikasi pesan singkat (16,3%); menyediakan layanan pendaftaran online untuk masyarakat (10,8)%; mengumpulkan dan menganalisis data kesehatan secara online untuk evaluasi dan perencanaan program kesehatan (8,4%).
Dari sisi pengguna, kehadiran internet membuat 40% masyarakat lebih paham tentang kesehatan dan lebih sering mencari informasi kesehatan online. Lalu, 30% masyarakat mulai mencari informasi kesehatan online, tetapi pengetahuan mereka hanya sedikit bertambah.
Kendati kondisinya relatif baik, bukan berarti pemanfaatan internet di desa sudah terlepas dari masalah. APJII menemukan sebanyak 71,7% surveyor mengatakan koneksi internet sering tidak stabil atau lambat menjadi kendala saat mengakses informasi kesehatan di daerah tertinggal.

E-Commerce & Literasi Digital
Sementara itu, Public Relations Lead Compas Bayu Wardhana mengatakan seller e-commerce pada sektor FMCG tersebar hingga wilayah Timur Indonesia pada semester I/2024. Namun demikian, pada periode tersebut secara total jumlah produk terjual (sales quantity) mengalami penurunan 19,4% dibandingkan semester II/2023.
Penurunan jumlah produk terjual paling tinggi terjadi di provinsi Maluku Utara, dengan jumlah produk terjualnya turun 42,9% atau menurun dari 3.554 ke 2.031 produk. Sementara itu peningkatan tertinggi terjadi di Maluku, termasuk di dalamnya Kota Ambon.
“Peningkatan tertinggi terjadi di provinsi Maluku yang tumbuh 34% atau sejumlah 5.592 ke 7.491 produk,” kata Bayu.
Di Papua, hampir seluruh provinsinya mencatatkan pertumbuhan jumlah produk terjual. Papua dan Papua Tengah menjadi provinsi dengan pertumbuhan tertinggi, masing-masing 81,8% untuk produk vitamin dan 195,7% untuk produk kopi. Pertumbuhan yang signifikan ini menunjukkan potensi pasar yang besar untuk produk-produk FMCG di wilayah Papua.
Satu-satunya provinsi Papua yang mencatatkan penurunan produk terjual hanya Papua Barat Daya, dimana jenis produk vitamin menurun sejumlah 0.4%
Bayu memperkirakan pertumbuhan transaksi di wilayah Indonesia Timur, salah satunya didorong oleh kehadiran infrastruktur digital.
“Kami berharap dengan dibangun dan mulai meratanya infrastruktur digital di Indonesia dapat mendorong pertumbuhan penjualan e-commerce di wilayah timur Indonesia,” kata Bayu.

Seiring dengan hadirnya internet di berbagai sektor desa tertinggal, kebutuhan terhadap literasi digital makin tinggi. Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2024 hanya 43,34 dari 100. Naik sekitar 18 bps dalam 1 tahun, di tengah penetrasi internet yang meningkat tajam ke daerah tertinggal.
Survei APJII menyebutkan dari 8,1 juta jiwa pengguna internet di wilayah tertinggal, hanya 18,3% yang pernah merasakan pelatihan digital. Sisanya sebanyak 81,7% belum pernah merasakan pelatihan.
Warga di desa mengaku pelatihan digital pernah diikuti di antaranya seputar pelatihan dasar penggunaan komputer (32,5%), pelatihan keterampilan digital untuk UMKM (20%) pelatihan dasar penggunaan internet (17,5%) pelatihan e-commerce (12,5%) dan program literasi digital untuk pelajar dan guru 7,5%.
Mengenai efektivitas program literasi digital, mayoritas responden (63,6%) mengaku bahwa hadirnya program-program tersebut cukup berdampak pada peningkatan keterampilan digital masyarakat di desa.
Kemudian, 45,5% cukup sering mengikuti pelatihan digelar oleh pemerintah dan pihak swasta.
Riset APJII juga mengungkapkan meski masyarakat desa tertinggal antusias untuk ikut pelatihan, tetapi mereka dihadapkan sejumlah kendala seperti sinyal internet yang tidak stabil (33,2%), biaya internet tinggi (14,4%), kurangnya perangkat memadai (18,8%), hingga kurangnya pengetahuan tentang penggunaan internet (11,2%).
Dalam Survei Penetrasi Internet di Daerah Tertinggal Tahun 2024, APJII melibatkan 1.950 responden yang tersebar di 64 kabupaten di 17 provinsi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 899 responden (46%) berada di wilayah Papua, kemudian 414 responden (21%) berada di Nusa Tenggara Timur, dan 181 responden (9%) berada di Maluku.
Lebih lanjut mayoritas sampel responden (60%) berusia 12-43 tahun, dengan tiga pekerjaan teratas adalah Petani (18,8%), Ibu Rumah Tangga (19,5%) Pelajar/Mahasiswa (15%), Wiraswasta (8,3%) dan lain sebagainya.
#internet #desa-tertinggal #internet-di-desa-terpencil #internet-di-desa-tertinggal #telekomunikasi #internet-perlahan-buka-jalan-desa-terluar-keluar-dari-ketertinggalan