Dollar AS "Rebound", Rupiah Melemah ke Level Rp 15.200
Mengacu data Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup di level Rp 15.206 per dollar AS pada Senin. Halaman all
(Kompas.com) 23/09/24 15:45 15440694
JAKARTA, KOMPAS.com - Tren penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berakhir pada Senin (23/9/2024). Kurs mata uang Garuda terdepresiasi dan kembali ke level Rp 15.200 per dollar AS di pasar spot pada hari ini.
Mengacu data Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup di level Rp 15.206 per dollar AS pada Senin hari ini. Nilai ini turun 56 poin atau 0,37 persen dari penutupan akhir pekan lalu.
Sementara mengacu data Bank Indonesia (BI) Jisdor, nilai tukar rupiah sebesar Rp 15.191 per dollar AS. Nilai lebih tinggi dari posisi Jumat (20/9/2024) lalu, yakni sebesar Rp 15.100 per dollar AS.
Depresiasi rupiah selaras dengan indeks dollar AS yang terpantau rebound alias menguat kembali setelah sempat melemah pasca pemangkasan suku bunga the Fed. Berdasarkan data Investing, indeks dollar AS bergerak cenderung menguat ke kisaran 101,22 poin.
Imbasnya, bukan hanya rupiah yang terdepresiasi, tapi mata uang Asia lain juga melemah. Tercatat pelemahan terhadap dollar AS dicatatkan oleh dollar Taiwan (-0,23 persen), won Korea Selatan (-0,56 persen), yuan China (-0,18 persen), ringgit Malaysia (-0,09 persen), hingga baht Thailand (-0,20 persen).
Sebelumnya, Analis pasar mata uang Lukman Leong mengatakan, dengan minimnya rilis data ekonomi AS pada awal pekan ini, dollar AS memang berpotensi bergerak menguat. Hal ini seiring dengan tekanan yang telah dialami "greenback" selama beberapa hari terakhir.
"Investor cenderung wait and see mengantisipasi pidato Powell (Ketua Federal Reserve) dan data inflasi PCE AS pada hari Kamis dan Jumat pekan ini," tutur dia, dalam keterangannya.
Sementara itu, Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menyebutkan, sernagan yang dilakukan Israel ke Gaza dan Lebanon turut mempengaruhi dinamika pasar keuangan. Serangan tersebut membuat pasar khawatir, sehingga kembali menempatkan dananya ke instrumen "safe haven".
"Pertempuran dan ancaman perang yang terus-menerus meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik yang lebih besar di Timur Tengah akan mengganggu pasokan di wilayah yang kaya minyak tersebut, sehingga memperketat pasar global," ucapnya.