Masih Misteri di Kali Bekasi, Apa yang Menyebabkan Kematian 7 Remaja?

Masih Misteri di Kali Bekasi, Apa yang Menyebabkan Kematian 7 Remaja?

Kematian tujuh remaja yang jasadnya ditemukan di Kali Bekasi masih menyisakan misteri. Polisi masih mencari tahu penyebab pasti dari tragedi ini. Halaman all

(Kompas.com) 25/09/24 11:57 15530858

JAKARTA, KOMPAS.com - Penyebab kematian dari tujuh remaja yang jasadnya ditemukan mengambang di Kali Bekasi masih diselimuti misteri.

Sudah dua hari sejak ketujuh korban ditemukan pada Minggu (22/9/2024) pagi, polisi belum dapat memastikan penyebab kematian mereka.

Apakah ketujuh korban ini tewas karena tenggelam atau ada penyebab lain?

Kepolisian masih menyelidiki penyebab kematian mereka, termasuk akan melakukan pemeriksaan toksikologi untuk mengetahui apakah ada zat berbahaya di tubuh korban.

Kepala Bidang Yandokpol RS Polri Kramat Jati, Kombes Hery Wijatmoko, mengatakan bahwa masih membutuhkan pemeriksaan tambahan guna mengetahui penyebab pasti kematian korban.

"Dari pemeriksaan tambahan yang dilakukan, bisa ditentukan pada saat di dalam air seperti apa. Nanti, sampai ditemukan sebab kematiannya," ujar Hery di RS Polri Kramat Jati, Senin (23/9/2024).

Berdasarkan pemeriksaan awal, ketujuh jenazah sudah membusuk karena diperkirakan berada di dalam air selama satu hingga dua hari.

Identitas korban telah mengarah pada data tertentu, tetapi masih diperlukan pendalaman melalui sidik jari yang tidak tampak.

"Informasi dari data ante mortem sudah mengarah pada identitas korban, tetapi perlu pendalaman data yang lebih akurat, seperti sidik jari yang tidak nampak," kata Hery.

Dipastikan tidak ditemukan luka terbuka, seperti irisan, bacokan, tusukan, atau patah tulang pada tubuh ketujuh korban.

Namun, penyelidikan untuk mengungkap kasus kematian remaja ini disebut harus dilakukan secara terbuka kepada publik.

Mengapa transparansi penting dalam penyelidikan?

Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI), Adrianus Meliala, berujar bahwa transparansi dibutuhkan guna menghindari persepsi negatif dari publik yang telah mengetahui dan menyoroti kasus ini.

Salah satu bentuk transparansi yang bisa dilakukan polisi adalah dengan menyampaikan kepada publik mengenai hasil penyelidikan sementara.

"Apakah memang harus ditunggu sampai semua final dulu, baru diadakan rilis? Bukankah sebetulnya pemberitaan itu bisa dicicil?" ujar Adrianus, dikutip dari program Kompas Petang Kompas TV yang tayang pada Selasa.

Menurut Adrianus, kepolisian belum memberikan komentar soal penyelidikan mereka terkait kematian tujuh remaja ini secara gamblang.

Ia pun mencontohkan sikap Kapolsek Rawalumbu, Kompol Sukadi, yang disebut sedikit memberikan keterangan ketika wawancara dengan awak media.

"Kapolresnya belum ngomong. Dan kalau diserahkan ke kasat, itu kelihatannya tegang betul untuk membicarakan. Belum lagi soal mana polisi yang mengadakan patroli?" kata Adrianus.

"Bukankah mereka bisa memberikan keterangan kepada wartawan agar minimal publik tahu apa yang sebenarnya terjadi, jangan ditunggu sampai akhir," ucap Adrianus.

Adrianus menganggap terdapat kesan Polri menerapkan gaya kehumasan yang berbeda, di mana ada kekhawatiran tentang konsistensi informasi.

"Takut jika ada yang berbicara berbeda. Oleh karena itu, semua informasi ditahan sampai akhir. Ini mungkin hanya dugaan saya," ucapnya.

Apakah keterlibatan Propam mempercepat penyelidikan?

Divisi Profesi dan Pengamanan Polri turut dilibatkan untuk menyelidiki apakah ada kesalahan aparat atas tewasnya ketujuh remaja itu.

Namun, Adrianus pun mempertanyakan keterbukaan Propam yang dilibatkan dalam penyelidikan itu. Sebab, sudah dua hari sejak jasad para korban ditemukan, kasusnya belum ada titik terang.

"Ya, ini saja sudah dua hari, tapi masih begini, ngomongnya \'kita tunggu, kita tunggu\'. Betul memang yang final itu harus ditunggu, tetapi jangan lupa bahwa sebetulnya ada tugas polisi juga untuk memberikan informasi kepada publik," kata Adrianus.

Ia pun kembali mengingatkan polisi untuk menyampaikan kepada publik mengenai hasil penyelidikan sementara yang didapat terkait kematian tujuh remaja.

"Misalkan dikatakan bahwa ada kelompok yang selamat lalu ditolong oleh Polri, hadirkan dong, biar dia ngomong. Juga tadi, anggota presisi yang patroli, hadirkan dong. Karena apa? Karena ini berkaitan dengan persepsi publik," kata Adrianus.

Adakah indikasi pelanggaran disiplin dan etik?

Namun, Adrianus juga tak bisa menyimpulkan ada kesalahan pada polisi dalam patroli pada saat membubarkan sekumpulan remaja itu sebelum akhirnya ditemukan tewas di Kali Bekasi.

Untuk diketahui, sebelum tujuh dari sekian remaja menyebur ke sungai dan ditemukan tewas, mereka berkumpul bersama 53 temannya di warung, Jalan Satopati, Bojong Menteng, Rawalumbu.

"Saya kira kembali kepada SOP masing-masing. Dari keterangan Kapolsek Rawalumbu, bahwa delapan atau sembilan orang dari remaja itu sudah ada di mobil polisi. Dan polisi menunggu perkuatan, menunggu tambahan tenaga, untuk kemudian membawa mereka ke polsek atau polres," kata Adrianus.

Dari keterangan Kapolsek Rawalumbu itu, kata Adrianus, para remaja yang berada di gubuk warung melarikan diri, bahkan ada yang terjun ke sungai.

Adrianus mengatakan situasi berbeda jika adanya seseorang yang sudah ditahan di kepolisian atau lapas lalu meninggal, tentu tanggung jawab pasti akan kembali kepada petugas.

"Namun ketika yang bersangkutan masih berada dalam konteks pengawasan polisi dalam rangka menunggu dijemput, (polisi) tidak dikokang senjata, lalu kemudian mereka (remaja) lari dan ketika itu baru bisa menjadi pertanyaan, apakah termasuk kesalahan kepolisian atau tidak," tutup Adrianus.

#7-mayat-di-bekasi #7-mayat-kali-bekasi #3-orang-tersangka-terkait-7-jasad-di-kali-bekasi #7-jasad-di-kali-bekasi-membusuk #7-orang-meninggal-di-kali-bekasi #penemuan-7-mayat-di-kali-bekasi

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/09/25/11570041/masih-misteri-di-kali-bekasi-apa-yang-menyebabkan-kematian-7-remaja-