Optimisme JP Morgan di SCMA: Revisi Naik Proyeksi Laba dan Peluang IPO Vidio
Keyakinan JP Morgan di SCMA dilandasi oleh kinerja fundamental perusahaan yang meraih laba bersih sebesar Rp327,65 miliar atau melesat 372,37% secara tahunan.
(Bisnis.Com) 28/09/24 16:40 15677292
Bisnis.com, JAKARTA – Koreksi saham tak membuat JP Morgan mengendurkan kepercayaannya kepada PT Surya Citra Media Tbk. (SCMA). Emiten media ini tetap meraih peringkat overweight seiring dengan lonjakan kinerja fundamental perusahaan.
Hingga semester I/2024, SCMA membukukan laba bersih sebesar Rp327,65 miliar atau melesat 372,37% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yakni Rp69,36 miliar.
Kenaikan laba bersih perseroan diikuti dengan performa top line atau pendapatan yang meraih Rp3,32 triliun hingga paruh tahun ini. Capaian tersebut meningkat 9,77% year on year (YoY) dari tahun sebelumnya yang membukukan Rp3,03 triliun.
Pendapatan bersih SCMA ditopang segmen televisi dan platform media yang mencapai Rp2,53 triliun, segmen digital sebesar Rp767,82 miliar, dan pembuatan konten menyumbang Rp842,33 miliar. Hal ini kemudian dikurangi dengan biaya eliminasi Rp1,11 triliun.
Setelah diakumulasikan dengan pendapatan dan beban lainnya, entitas anak PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) ini meraih laba usaha Rp348,6 miliar atau tumbuh 485% YoY.
Riset JP Morgan, yang disusun Henry Wibowo dan Arnanto Januri, memandang bahwa kinerja paruh tahun SCMA menunjukkan pemulihan yang layak dengan pertumbuhan pendapatan naik hampir 10% dan laba operasi meningkat lebih dari 5 kali.
“Kami merevisi naik proyeksi laba bersih 2025 dengan pertumbuhan sebesar 14% menjadi Rp940 miliar,” tulis riset JP Morgan yang dikutip pada Sabtu (28/9/2024).
Di samping itu, JP Morgan meyakini bahwa aset jangka panjang SCMA seperti bisnis over the top (OTT) Vidio bakal meraih manfaat dari penurunan tingkat suku bunga acuan.
JP Morgan menyebutkan Vidio telah membuktikan rekam jejaknya dalam meningkatkan pangsa pasar menjadi platform streaming terkemuka di Indonesia, serta mampu meraih US$200 juta dalam beberapa tahun terakhir dari sejumlah investor.
Berdasarkan laporan Media Partners Asia (MPA) Asia Pacific Video & Broadband Industry 2024 jumlah pelanggan Vidio telah menembus angka 4 juta orang hingga akhir 2023.
Vidio menempati posisi pertama di Indonesia, disusul penyedia layanan streaming video asal Hong Kong, Viu dan Disney+ Hotstar dengan jumlah pelanggan mendekati 4 juta, dan Netflix di urutan ke empat dengan jumlah pelanggan sekitar 2 juta.
JP Morgan lantas memberikan peringkat overweight untuk SCMA karena memiliki tiga pilar bisnis utama, yakni televisi melalui saluran SCTV dan Indosiar, media digital terutama Vidio, serta produksi konten lewat melalui Indonesia Entertainment Group (IEG).
“Kami percaya risk-reward SCMA menarik pada level saat ini didukung oleh pemulihan pengeluaran iklan dan juga potensi pertumbuhan tinggi dari bisnis OTT,” tulis JP Morgan.
Adapun risiko yang membayangi adalah penurunan likuiditas perdagangan saham, tekanan pada pengeluaran iklan dari klien FMCG yang lebih lama, dan Vidio kehilangan pangsa pasar dari platform streaming berbasis langganan, seperti Netflix, Disney+ Hotstar.
Sampai dengan akhir perdagangan Jumat (27/9/2024), saham SCMA ditutup menguat 2,52% menuju level Rp122 per saham. Banderol tersebut mencerminkan penurunan 28,24% year to date (YtD) dan terkoreksi 14,08% dalam kurun 3 bulan terakhir.
Peluang IPO Vidio
Di sisi lain, JP Morgan meyakini bahwa Emtek Grup memiliki peluang besar untuk membawa Vidio mencatatkan saham perdana alias initial public offering (IPO) di masa mendatang.
Kabar mengenai peluang IPO Vidio sejatinya telah berembus sejak 2022. Namun, pada Juni 2023, manajemen SCMA selaku induk dari Vidio menyatakan belum memiliki rencana IPO dalam waktu dekat lantaran layanan OTT ini dianggap belum profitable.
SCMA lantas menyiapkan sejumlah rencana bisnis untuk memacu kinerja Vidio. Salah satunya dengan menggandakan jumlah pelanggan dalam kurun 2 hingga 3 tahun ke depan.
Berdasarkan laporan The Business Time pada Mei 2024, Direktur Utama SCMA Sutanto Hartono menargetkan Vidio meraih 8 juta pelanggan selama 2 – 3 tahun ke depan. Dia pun menyatakan Vidio akan melantai di Bursa ketika sentimen pasar mulai membaik.
Selain menggenjot jumlah pelanggan, Vidio juga tengah berupaya melakukan penghimpunan pendanaan baru pada tahun ini. Langkah tersebut dilakukan untuk menopang ekspansi dan pertumbuhan layanan streaming perseroan.
Manajemen SCMA, dalam paparan publik yang digelar pada Juni 2024, menyatakan bahwa perseroan meyakini Vidio akan terus bertumbuh, sehingga memberikan kontribusi terhadap kinerja pendapatan perseroan.
“Kami berharap selain dari peningkatan pendapatan iklan, juga berasal dari subscription revenue dari Vidio karena kami optimistis Vidio akan terus bertumbuh dan berkembang, salah satunya bisnis dari revenue subscription,” ujar manajemen SCMA.
Pada 2024, SCMA mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp375 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan studio baru, pengembangan studio, serta memperbaiki LED dan lighting yang dimiliki perusahaan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#surya-citra-media #scma #saham-surya-citra #saham-scma #rekomendasi-saham-surya-citra #rekomendasi-scma #vidio #emtek #jp-morgan