Marak Tawuran di Jakarta, Polisi Turut Jadi Korban Penyiraman Air Keras
Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah polisi turut menjadi korban tawuran. Mereka disiram air keras saat hendak membubarkan tawuran. Halaman all
(Kompas.com) 04/10/24 06:49 15949191
JAKARTA, KOMPAS.com - Tawuran remaja dan warga kini tak lagi hanya membahayakan diri mereka sendiri, tetapi juga polisi.
Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah polisi turut menjadi korban. Mereka disiram air keras saat hendak membubarkan tawuran.
Air keras menjadi salah satu senjata yang disiapkan pelaku tawuran untuk saling menyerang.
Penyiraman air keras terhadap polisi yang hendak membubarkan tawuran terjadi di Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Pusat.
“Di Jakarta Timur, tersangkanya satu orang diamankan. Di Jakarta Barat, tiga orang. Kemarin, 30 September, itu ada lima pelakunya,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi di Polda Metro Jaya, Kamis (3/1/2024).
Mirisnya, hampir semua pelaku penyiraman air keras terhadap polisi yang hendak membubarkan mereka adalah anak di bawah umur.
“Ini (penyiraman air keras terhadap polisi) fenomena, fenomena itu adalah beberapa peristiwa yang sama,” ujar Ade.
Upaya cegah tawuran
Dalam tiga bulan terakhir, terjadi 111 tawuran di Jakarta.
Hampir tiap malam, Tim Patroli Perintis Presisi Polda Metro Jaya berpatroli guna menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat.
Terlepas dari kegiatan patroli, Polda Metro Jaya mengantongi sejumlah program demi mencegah tawuran di wilayah hukum mereka.
Hadirnya pos pantau di berbagai titik dan tim pantau tawuran tiga pilar disebut menjadi salah satu modal utama pencegahan.
“Ada program di Polda Metro Jaya, namanya Police Go to School, Ngopi Kamtibmas, Jumat Curhat, Sambang Door to Door Bhabinkamtibmas. Itu kami selalu melakukan kegiatan,” ujar Ade.
“Ini kan generasi muda kita, harus sama-sama kita jaga, kita ayomi, kita kasih tahu mereka, karena masih anak-anak,” imbuh dia.
Bagi dia, jika pencegahan dari pihak kepolisian kendur, maka akan banyak korban yang berjatuhan akibat tawuran.
“Ini menjadi perhatian kita bersama. Kami mohon bantuan, kerja sama, dukungan. Mari sama-sama kita tingkatkan situasi Kamtibmas yang lebih baik,” tegas Ade.
Perlu kerja sama instansi
Kejahatan penyiraman air keras tak lepas dari siklus kekerasan yang terus berulang sejak masa lalu dan tidak pernah ada penyelesaiannya hingga saat ini.
Kriminolog Universitas Indonesia (UI), Adrianus Eliasta Sembiring Meliala, menegaskan, jangan hanya polisi yang repot sendiri.
Perlu langkah yang tepat untuk memutus rantai siklus kekerasan dengan melibatkan pemerintah daerah setempat dan pihak sekolah.
"Mestinya juga ada hal-hal lain yang dilakukan lembaga-lembaga lain dalam rangka pencegahan mitigasi pada konteks yang lebih dulu," ucap Adrianus di Polres Metro Jakarta Utara, Senin (28/8/2023).
"Masalahnya, bahwa memang ketika sudah berada dalam situasi perkotaan, maka tentu sudah enggak bisa lagi kita kemudian menyalahkan satu pihak saja. Di perkotaan, sudah banyak yang terlibat," lanjutnya.
Adrianus juga mengusulkan, pemangku kebijakan membuat keputusan dengan sekolah yang siswanya kerap kali tawuran untuk berhenti menerima siswa baru selama tiga tahun.
"Sekolah yang punya masalah dengan tawuran, itu satu periode selama tiga tahun tidak lagi menerima siswa, dari kelas satu sampai kelas dua dan tiga," kata Adrianus.
#tawuran-remaja #polisi-disiram-air-keras-saat-bubarkan-tawuran #polisi-disiram-air-keras #pelaku-tawuran-bawa-air-keras