Rupiah Melemah Sepanjang Pekan Imbas Prospek Suku Bunga The Fed

Rupiah Melemah Sepanjang Pekan Imbas Prospek Suku Bunga The Fed

Mata uang rupiah anjlok sepanjang minggu terhadap dolar Amerika Serikat (AS). - Halaman all

(InvestorID) 04/10/24 16:08 15969333

JAKARTA, investor.id – Mata uang rupiah anjlok sepanjang minggu terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada Jumat (4/10/2024) sore, indeks rupiah melemah saat fokus investor pada data ekonomi AS dan prospek suku bunga The Federal Reserve (The Fed), sebut pengamat pasar uang Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi.

Pada perdagangan akhir pekan ini, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta anjlok 56,5 poin walaupun sebelumnya sempat melemah lebih dalam 80 poin di level Rp 15.485, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 15.428,5 per dolar AS.

"Fokus investor tertuju pada laporan utama penggajian nonpertanian AS yang akan dirilis hari ini. Data ini yang akan memberikan petunjuk lebih lanjut tentang prospek suku bunga The Fed serta meningkatnya ketegangan di Timur Tengah membuat pasar gelisah," jelas Ibrahim, Jumat.

Serangkaian rilis data minggu ini menunjukkan ekonomi AS masih dalam kondisi solid, setelah aktivitas sektor jasa negara itu melonjak ke level tertinggi dalam 1,5 tahun pada September di tengah pertumbuhan yang kuat dalam pesanan baru. Sementara laporan terpisah dari Departemen Tenaga Kerja pada Kamis (3/10/2024) menunjukkan pasar tenaga kerja meluncur pada akhir kuartal III-2024.

“Hal itu membuat para trader mengurangi taruhan tentang pemotongan suku bunga 50 basis poin (bps) lagi oleh The Fed bulan depan. Kontrak berjangka menunjukkan peluang hanya 35% dari skenario seperti itu,” imbuhnya.

Pasca serangan Iran ke Israel sebelumnya, AS sedang mendiskusikan apakah akan mendukung serangan Israel terhadap fasilitas minyak Iran sebagai balasan atas serangan rudal Teheran terhadap Israel, kata Presiden AS Joe Biden pada Kamis. Sementara itu, militer Israel menyerang Beirut dengan serangan udara baru dalam pertempurannya melawan kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah.

Kemudian, Perdana Menteri Shigeru Ishiba mengatakan minggu ini, kondisi ekonomi di negara itu tidak siap untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Bank of Japan (BoJ), membalikkan nada hawkish yang ia lontarkan sebelum kemenangan pemilihannya.

Dilihat dari sisi internal, pasar terus mengamati deflasi yang terjadi selama lima bulan berturut-turut sejak Mei hingga September 2024 memperlihatkan dengan jelas masyarakat kelas menegah atau pekerja sudah tidak punya uang lagi untuk berbelanja.

“Oleh karena itu, permintaan Bank Indonesia (BI) agar masyarakat lebih banyak belanja untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di atas 5% mustahil terwujud. Pasalnya, hampir semua sektor industri melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), yang bakal berimbas pada anjloknya daya beli,” terang Ibrahim.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi ini terjadi. Pertama, pemutusan hubungan kerja (PHK). Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sebanyak 53.993 tenaga kerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) per 1 Oktober 2024. Ribuan orang yang di-PHK itu sebagian besar berasal dari sektor manufaktur.

Tiga provinsi dengan angka PHK terbesar adalah Jawa Tengah, Banten, dan Jakarta. Menurut prediksi, hingga akhir tahun angka PHK akan melonjak lebih dari 75.000. Pasalnya, mulai banyak perusahaan dinyatakan pailit atau akhirnya pindah ke daerah lain yang upah minimumnya lebih kecil.

“Kedua, minimnya lapangan kerja di sektor padat karya. Di tengah membludaknya PHK, pembukaan lapangan pekerjaan baru di sektor padat karya dalam lima tahun terakhir juga nyaris tidak ada. Padahal sektor ini menjadi andalan untuk menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sehingga diharapkan bisa melahirkan apa yang disebutnya sebagai warga kelas menengah,” ucap Ibrahim.

Namun, lanjut Ibrahim, data Badan Pusat Statistik (BPS) terakhir menunjukkan 9,48 juta warga kelas menengah Indonesia justru turun kelas dalam lima tahun terakhir menjadi hanya 47,85 juta. Situasi tersebut tak lepas dari kebijakan pemerintah yang lebih menggenjot investasi di sektor padat modal seperi tambang ketimbang padat karya yang membuka lapangan kerja baru.

Ketiga, tingginya suku bunga. Bank Indonesia (BI) akhirnya memangkas suku bunga acuan pada September 2024 menjadi 6% dari sebelumnya 6,25%, demi menjaga penguatan atau stabilitas nilai tukar rupiah.

“Namun uang yang beredar di masyarakat jadi lebih mahal dan bukan berarti bisa mengurangi lonjakan deflasi di bulan-bulan mendatang. Sebab, PHK massal dan tak adanya lapangan kerja baru belum sepenuhnya teratasi. Konsekuensinya, daya beli masyarakat juga belum akan membaik,” bebernya.

Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Baca Berita Lainnya di Google News

#berita-terkini #berita-hari-ini #rupiah #mata-uang-rupiah #nilai-tukar-rupiah #kurs-rupiah #indeks-rupiah #dolar-as #berita-ekonomi-terkini

https://investor.id/market/375581/rupiah-melemah-sepanjang-pekan-imbas-prospek-suku-bunga-the-fed