Diskursus Kualitas Pertamax Pertamina

Diskursus Kualitas Pertamax Pertamina

Masih banyak pihak yang meragukan kualitas Pertamax yang diproduksi di kilang-kilang Pertamina. Bahkan di dalam pemerintahan sendiri. Halaman all

(Kompas.com) 07/10/24 16:12 16111579

PENGGUNAAN Bahan Bakar Minyak (BBM) sejenis Pertamax yang diproduksi Pertamina (Persero) di seluruh Indonesia lumayan besar.

Pengguna Pertamax memang tak sedominan pengguna BBM sejenis Pertalite yang mendapat subsidi dari pemerintah.

Tahun 2023, pengguna Pertamax atau RON92 sekitar 17 persen dari konsumsi BBM. Dari total tersebut, sebanyak 14 persen merupakan jumlah konsumsi Pertamax dan 3 persen lainnya merupakan konsumsi Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.

Sementara pengguna Pertalite mencapai 70 persen dari pengguna BBM. Tahun 2023, konsumsi BBM sejenis Pertalite mencapai 23 juta kilo liter.

Pertamax adalah BBM yang kandungan sulfurnya lebih rendah. Semakin rendah kandungan sulfur sejenis BBM, semakin bagus dan bermutu kualitasnya.

Selain itu, semakin rendah kadar sulfurnya, BBM sejenis itu termasuk BBM ramah lingkungan atau tak kotor.

Untuk itu, Pertamina dan pemerintah wajib melakukan sosialisasi terus-menerus agar masyarakat Indonesia sadar bahwa penggunaan BBM low sulfur penting untuk menjaga lingkungan sehat dan bersih.

Sejauh pengamat saya, sosialisasinya sudah mulai berjalan. Sudah banyak media memberitakan BBM low sulfur seperti Pertamax. Itu bisa dibuktikan dari penggunannya yang terus meningkat setiap tahun.

Peningkatan itu terjadi karena muncul kesadaran akan pengguna BBM yang ramah lingkungan dan tidak kotor.

Namun, masih banyak pihak yang meragukan kualitas Pertamax yang diproduksi di kilang-kilang Pertamina.

Menurut mereka, Pertamax RON92 itu masih kotor. Bahkan di dalam pemerintahan sendiri, ada institusi yang masih meragukan kualitas Pertamax produksi Pertamina.

Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kemenko marves Rachmat Kaimudin mengatakan, kandungan sulfur Pertamax lebih tinggi dari standar internasional sebanyak 50 ppm lebih tinggi.

Kandungan sulfur dalam Pertamax, menurutnya, masih 400 ppm atau tak terlalu jauh dari kandungan sulfur dalam Pertalite yang mencapai 500 ppm.

Menurut Rachmat, kandungan sulfur tinggi dalam Pertamax menyebabkan teknologi untuk mengurangi polusi menjadi tidak berfungsi.

Kandungan sulfur paling rendah ada di Biosolar mencapai 250 ppm. Itu artinya, Pertamax RON92 masih sangat kotor.

Pernyataan ini tentu menimbulkan keraguan pada pengguna Pertamx RON92. Apalagi yang membuat pernyataan adalah pejabat penting dalam pemerintahan.

Pertanyaannya, apakah benar Pertamax RON 92 sejenis BBM yang kotor atau tinggi sulfur?

Cek Fakta

Semua jenis produk BBM yang diproduksi di kilang Pertamina, seperti kilang Cilacap, Kilang Balongan, Kilang Duri dan Dumai memiliki standar khusus yang diatur pemerintah melalui Direktorat Jendral Minyak dan Gas Kementerian ESDM.

Standar itu penting agar setiap produk BBM seperti Pertamax atau Pertalite yang dikeluarkan Pertamina aman untuk dikonsumsi dan tetap menjaga lingkungan.

Dirjen Migas, misalnya, mengatur standar kandungan sulfur dalam Pertamax. Untuk Pertamax, Dirjen Migas menetapkan maksimum sulfurnya 400ppm. Itu artinya, BBM jenis itu aman dikonsumsi semua jenis kendaraan, bersih dan tak kotor sehingga tak mencemari lingkungan.

Berdasarkan catatan kami, Pertamax telah diuji laboratorium. Hasilnya, Pertamax oktan 92 hanya memiliki kandungan sulfur paling tinggi 200ppm. Itu artinya, sangat bersih karena standar Dirjen Migas maksimal sulfur sebesar 400ppm.

Menurut informasi Pertamina Patraniaga, baik Pertamax maupun RON92 yang dijual di berbagai SPBU kandungan sulfur hanya mencapai 50ppm. Itu artinya sangat bersih dan baik untuk menjaga lingkungan bersih.

Kandungan sulfur rendah dalam Pertamax itulah yang membuat produk BBM jenis ini sangat kompetitif untuk dijual di SPBU milik kompetitor lainnya, seperti Shell dan Total.

Kandungan sulfur rendah 50ppm dalam Pertamax sudah memenuhi standar Euro 4 dan sudah diproduksi di kilang milik Pertamina.

Di Kilang Cilacap misalnya, produksi BBM sejenis Pertamax mengalami peningkatan setiap tahun. Pada 2020, produksi Pertamax mencapai 1,445 juta barel atau naik dari 1,127 juta barel pada periode yang sama 2019.

Kenaikan produksi ini menunjukan bahwa banyak pengguna kendaraan mobil dan motor yang sadar akan penggunaan BBM ramah lingkungan dan rendah sulfur.

Selain itu, Pertamax juga membuat pembakaran menjadi lebih sempurna dan tidak meninggalkan residu.

Pengguna kendaraan juga sudah sadar bahwa Pertmax memiliki kelebihan melindungi mesin dan menjaga mesin tetap bersih dari penumpukan karbon yang menggangu kerja mesin kendaraan.

Dengan melihat fakta-fakta di atas, publik tentu tak perlu ragu menggunakan dan mengkonsumsi Pertamax karena rendah sulfur.

Jika ada institusi pemerintah yang meragukan produk ini, boleh jadi ada yang keliru dalam membaca informasi dan data terkait Pertamax.

Pertamina sebagai korporasi tentu juga menjaga reputasi bisnisnya di hadapan para kompetitornya, seperti Shell dan Total yang semakin beradaptasi dengan lingkungan.

Jika tak menjaga reputasi dan menjaga standar produknya, maka Pertamina bisa ditinggal para pelanggan karena masih ada kompetitor lain yang memproduksi BBM sejenis Pertamax yang ramah lingkungan, membuat mesin kendaraan tidak berkarat dan terjaga dengan baik.

Jika standar tak terjaga, Pertamina tentu mengalami kerugian karena ditinggal pergi para pelanggan dan akhirnya membuat keuntungan Pertamina menipis.

Pertamina perlu terus berinovasi menciptakan produk-produk ramah lingkungan, seperti Pertamax dengan harga terjangkau.

Tugas ini tentu bukan hanya menjadi tanggung jawab Pertamina sebagai korporasi saja, tetapi juga tugas negara.

Jika pemerintah berambisi agar semua kendaraan motor atau mobil menggunakan BBM ramah lingkungan, seperti Pertamax, tentu perlu ada insentif agar biaya produksi lebih murah, sehingga harga di pasar lebih mudah dijangkau masyarakat bawah.

#pertamax #sulfur #pertamax-bbm-kotor

https://money.kompas.com/read/2024/10/07/161233426/diskursus-kualitas-pertamax-pertamina