Survei SPHPN 2024: Kekerasan Terhadap Perempuan Lebih Tinggi di Perkotaan

Survei SPHPN 2024: Kekerasan Terhadap Perempuan Lebih Tinggi di Perkotaan

Survei SPHPN 2024 mengungkapkan kekerasan terhadap perempuan di perkotaan lebih tinggi. Temukan fakta menarik di sini! Halaman all

(Kompas.com) 07/10/24 19:12 16117494

JAKARTA, KOMPAS.com - Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) terbaru mengungkapkan, kekerasan fisik dan seksual terhadap perempuan lebih tinggi di daerah perkotaan dibandingkan dengan pedesaan.

Berdasarkan hasil survei, kekerasan fisik dan seksual yang dialami perempuan berusia 15-64 tahun, baik oleh pasangan maupun bukan pasangan, mencapai 25,2 persen di perkotaan.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan pedesaan yang mencatat 22,5 persen pada 2024.

"Memang yang perlu menjadi perhatian kita di bawah bahwa kekerasan itu tinggi di perkotaan," ungkap Deputi IV Kemenko bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, di Kantor Kemenko PMK, Jakarta Pusat, pada Senin (7/10/2024).

Meskipun demikian, angka kekerasan ini mengalami penurunan dibandingkan pada 2021, yang tercatat sebesar 27,8 persen di perkotaan dan 23,9 persen di pedesaan.

Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan dengan 36,3 persen di perkotaan dan 29,8 persen di pedesaan pada 2016.

Kekerasan terhadap Perempuan Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Dari segi pendidikan, kekerasan fisik dan seksual pada perempuan berusia 15-64 tahun lebih tinggi di kalangan mereka yang berpendidikan sekolah menengah atas (SMA) ke atas dibandingkan dengan yang berpendidikan sekolah menengah pertama (SMP) ke bawah.

Woro menyatakan, kekerasan fisik di kalangan perempuan berpendidikan SMA ke atas mencapai 28,8 persen pada 2024, sementara di kalangan perempuan berpendidikan SMP ke bawah hanya mencapai 20,4 persen.

Meskipun demikian, persentase ini juga menurun dibandingkan 2021, yang mencatat 32,4 persen untuk kategori SMA ke atas dan 22,3 persen untuk kategori SMP ke bawah.

"Kekerasan perempuan tinggi pada yang SMA. Harusnya kalau dibandingkan dengan SMP, biasanya yang lebih bawah-bawah yang ini (banyak), tetapi SMA yang mengalami kekerasan yang lebih tinggi dibandingkan lulusan lainnya, SMP ke bawah," jelas Woro.

Kekerasan Terhadap Perempuan Lebih Tinggi pada Kelompok Pekerja

Prevalensi kekerasan fisik juga lebih banyak terjadi di kalangan perempuan yang bekerja dibandingkan dengan yang tidak bekerja.

Pada 2024, kekerasan terhadap perempuan dari pasangan maupun bukan pasangan mencapai 25,6 persen di kelompok pekerja, sedangkan di kelompok tidak bekerja sebesar 22,7 persen.

"Yang bekerja mendapatkan kekerasan lebih tinggi dibandingkan yang tidak bekerja. Berdasarkan data Simfoni (Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak), menunjukkan peningkatan kasus. Ini harus hati-hati, data yang meningkat (di Simfoni) karena kesadaran melaporkan. Karena kita sering mengkampanyekan jangan takut untuk bersuara," katanya.

Secara keseluruhan, survei menunjukkan bahwa 1 dari 4 perempuan berusia 15-64 tahun di Indonesia pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual dari pasangan maupun bukan pasangan selama hidup mereka.

Adapun survei ini dilaksanakan di 178 kabupaten/kota terpilih dengan jumlah target sampel 14.240 rumah tangga yang tersebar di 1.424 blok sensus.

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara privat dengan responden perempuan, yang dicatat menggunakan CAPI berbasis Android.

#kekerasan-terhadap-perempuan #sphpn-2024 #perkotaan-vs-pedesaan #kekerasan-berdasarkan-pendidikan

https://nasional.kompas.com/read/2024/10/07/19123911/survei-sphpn-2024-kekerasan-terhadap-perempuan-lebih-tinggi-di-perkotaan