PLN Alirkan Listrik Bersih ke 224 Desa, Paling Banyak Indonesia Timur
Listrik bersih itu didapati dengan menggunakan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) dari PLTS dengan daya 10 kiloWatt. Halaman all
(Kompas.com) 07/10/24 20:12 16119497
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) telah mengalirkan listrik bersih ke 224 desa yang ada di Indonesia sejak tahun 2011 silam.
EVP Pengembangan Listrik Desa PT PLN Lambas Richard Pasaribu mengungkapkan, listrik bersih itu paling banyak disalurkan ke wilayah Indonesia Timur.
“Kalau dilihat lokasi paling banyak Indonesia Timur seperti Papua, Nusa Tenggara Timur. Lalu ada di Jawa Timur dan Kepualauan Riau, dan Kepualauan Mentawai,” ujarnya dalam diskusi FMB9 yang disiarkan secara virtual, Senin (7/10/2024).
Lambas bilang, listrik bersih itu didapati dengan menggunakan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan daya 10 kiloWatt (kW). Namun ada juga yang menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan skala yang lebih kecil lagi.
“Ini khusus untuk melistriki daerah terpencil yang memang kebutuhan listriknya masih permulaan untuk kebutuhan rumah tangga dasar,” jelasnya.
PLN sendiri telah menerapkan beragam terobosan dalam memenuhi kebutuhan listrik Indonesia dan ikut serta dalam mengakselerasi pemenuhan energi hijau menuju Net Zero Emission 2060.
Di antaranya PLN akan menghadirkan PLTA Jatigede dengan kapasitas daya 110 MegaWatt (MW), PLTS terapung di atas Waduk Singkarak 50 MW dan Saguling 60 MW yang menggandeng mitra global tier 1 serta berhasil menghadirkan Green Hydrogen Plant Kamojang.
Itu dibangun untuk menjadi pionir ekosistem hidrogen dari hulu hingga ke hilirnya Hydrogen Refueling Station atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Hidrogen yang berlokasi di Senayan, Jakarta.
Di sisi lain, hadirnya PLTU Suralaya 9-10 yang mengusung teknologi Ultra Selective Catalyc Production semakin memperkuat komitmen korporasi dalam pengembangan pembangkit rendah karbon.
PLTU Suralaya 9-10 yang juga sebagai Pembangkit Hybrid PERTAMA di Indonesia ini, juga memanfaatkan amonia hijau dan hidrogen hijau sebagai energi primernya.
Sebelumnya, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, untuk mendukung upaya transisi energi yang berkelanjutan, PLN Indonesia Power selalu berkomitmen untuk menjalankan program penurunan emisi karbon, peningkatan efisiensi energi, demi mewujudkan masa depan energi yang lebih hijau serta berkelanjutan.
Hal ini telah dibuktikan dengan penerbitan perdana Sertifikat Penurunan Emisi PLTM Gunung Wugul yang diperdagangkan di Bursa Carbon Indonesia (IDX Carbon). Selain itu, korporasi juga menjalankan program Cofiring sebagai green booster transisi energi yang memanfaatkan biomassa sebagai energi primer di PLTU.
“PLTU Sintang sukses menerapkan firing 100 persen biomass dalam 24 jam secara kontinyu, 5 unit lain sudah uji coba 100 persen dan 15 unit lainnya sudah terimplementasi cofiring biomass. Selain itu, PLN Indonesia Power juga telah sukses uji coba cofiring green hidrogen natural gas di PLTDG Persanggaran dan selanjutnya melakukan uji cofiring green amonia di PLTU Labuan. Hal ini dilakukan korporasi untuk mengurangi emisi karbon dan siap mendukung Net Zero Emission 2060,” jelasnya.