Vale (INCO) Angkat Bicara soal Teknologi Proyek Bahodopi

Vale (INCO) Angkat Bicara soal Teknologi Proyek Bahodopi

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) angkat bicara mengenai nasib penggunaan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) di proyek Bahodopi. - Halaman all

(InvestorID) 09/10/24 12:54 16200851

JAKARTA, investor.id – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) angkat bicara mengenai nasib penggunaan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) di proyek Bahodopi. Hal ini merespons adanya opsi teknologi lain berupa High Pressure Acid Leaching (HPAL).

Baik RKEF maupun HPAL merupakan teknologi dalam peleburan bijih nikel. Riset SW Nihao menerangkan, teknologi RKEF melibatkan batu bara sebagai agen pereduksi dalam proses peleburan suhu tinggi di tungku busur listrik. Sedangkan, teknologi HPAL melibatkan penggunaan asam sulfat dalam tangki bertekanan yang disebut autoklaf.

Di proyek Bahodopi, Vale bersama mitranya Tisco dan Xinhai telah membentuk perusahaan patungan bernama PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI) untuk membangun proyek feronikel senilai US$ 2,6 miliar atau setara Rp 40 triliun.

Chief Sustainability and Corp. Affairs Officer Vale Indonesia Bernardus Irmanto menyampaikan, sebagai perusahaan terbuka dirinya tidak bisa menyampaikan keputusan secara eksplisit apakah INCO tetap menggunakan teknologi RKEF sesuai rencana awal atau beralih ke HPAL pada proyek Bahodopi.

“Tapi yang jelas begini, investasi nikel di Indonesia dengan maraknya pembangunan smelter, yang menjadi tantangan adalah demand supply balance. Kami dari awal sudah mengumumkan kepada publik terkait proyek Bahodopi membangun smelter dengan teknologi RKEF,” jelas pria yang dekat disapa Anto itu di BNI Investor Daily Summit, JCC Senayan Jakarta, Selasa (8/10/2024).

Walau tidak bisa dipungkiri, penggunaan teknologi RKEF akan memerlukan enegi yang lumayan besar. Namun penting digarisbawahi, agar proyek Bahodopi ini secara keekonomian memungkinkan atau viable, maka dalam konteks dan cost curve, Anto mengatakan, Vale harus berada pada kuota produksi pertama. Sebab jika tidak, maka proyek Bahodopi akan sulit bertahan.

“Kalau mengikuti pergerakan harga nikel, naik turunnya itu biasanya bounce back. Harga nikel itu kalau turun, dia akan bounce ketika harganya menyentuh unit cost dari pemain-pemain yang ada di kuota 3 dan 4. Jadi, istilahnya setengah dari pemain itu sebenarnya sudah rugi. Itu biasanya bounceback,” papar Anto.

Karena itu, perlu ada penyesuaian dari sisi produksi. Anto menekankan, agar Vale dan proyek Bahodopi ini berada pada cost curve yang aman, maka tidak boleh berada pada kuota 3 atau 4. Minimal sekali kuota 2. “Jadi, memang ada permintaan dari pemegang saham supaya proyek Bahodopi ini viable,” ujar dia.

Permintaan tersebut, Anto tegaskan, bukan berarti proyek Bahodopi batal. Proyek yang ditargetkan mampu memproduksi nikel sekitar 73.000 ton per tahun itu dipastikan tetap berlanjut karena merupakan kewajiban Vale untuk berinvestasi sekaligus kewajiban dalam IUPK.

Adapun permintaan optimalisasi tersebut lebih mengarah pada agar proyek Bahodopi secara cost curve dan unit cash cost-nya berada pada kuota produksi pertama. “Tentang perubahannya seperti apa, kita tunggu saja sampai ada pemberitahuan lebih lanjut dari perusahaan,” tutup Anto.

Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Baca Berita Lainnya di Google News

#berita-terkini #berita-hari-ini #vale-indonesia #inco-saham #proyek-bahodopi #rkef #hpal #smelter-nikel #berita-ekonomi-terkini

https://investor.id/market/376059/vale-inco-angkat-bicara-soal-teknologi-proyek-bahodopi