Rupiah Melandai Disinyalir karena Alasan Ini
Mata uang rupiah melandai terhadap dolar Amerika Serikat (AS) - Halaman all
(InvestorID) 10/10/24 09:22 16239896
JAKARTA, investor.id – Mata uang rupiah melandai terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada Kamis (10/10/2024) pagi indeks rupiah tampak turun tipis, terlepas dari kenaikan tipis sebelumnya. Kalender data AS memberi jeda setelah laporan pekerjaan yang kuat lalu menyebabkan dolar AS menguat, sebut pengamat pasar uang Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi.
Pada perdagangan pagi ini, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup merosot 30 poin atau 0,20% ke level Rp 15.660, dibandingkan sebelumnya di level Rp 15.630 per dolar AS.
"Kalender data AS yang sedikit minggu ini memberikan jeda setelah laporan pekerjaan yang kuat Jumat (4/10/2024) lalu menyebabkan dolar AS menguat dan membuat pasar meredam skala penurunan suku bunga yang diharapkan," jelas Ibrahim dalam catatan yang dikutip Kamis. Rupiah melemah disinyalir karena alasan ini.
Selain itu, investor masih menilai risalah rapat The Fed untuk September 2024 yang baru dirilis. Pejabat The Fed sepakat untuk memangkas suku bunga, namun mereka terbagi mengenai seberapa agresif langkah tersebut harus diambil. Beberapa pejabat lebih menginginkan pemangkasan yang lebih kecil sebesar 25 basis poin (bps), untuk ingin memastikan inflasi AS benar-benar menurun. Sedangkan pejabat lainnya kurang khawatir dengan kondisi ketenagakerjaan.
Di saat yang sama, data penggajian nonpertanian (NFP) AS yang kuat telah membuat pasar menilai kembali ekspektasi penurunan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Investor sekarang memiliki sekitar 85% peluang penurunan seperempat basis poin atau 25 basis poin (bps) yang diperhitungkan, serta kemungkinan kecil The Fed akan mempertahankan suku bunga, menurut alat CME FedWatch. Laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk September 2024 yang akan dirilis Kamis akan menjadi bagian utama data minggu ini.
Di Asia, Perdana Menteri (PM) baru Jepang Shigeru Ishiba yang dikenal sebagai pengkritik kebijakan moneter longgar mengejutkan pasar dengan pernyataan baru-baru ini. Ia menyampaikan, negara itu belum siap untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut. Ishiba telah menetapkan pemilihan umum dadakan pada 27 Oktober 2024, menjelang pertemuan kebijakan moneter Bank Jepang (BoJ) pada Oktober 2024 dan pemilihan presiden AS bulan depan.
Investor tetap fokus pada China setelah hari yang bergejolak di pasar China dan Hong Kong pada sesi sebelumnya. Pemerintah China pada Selasa (8/10/2024) mengatakan mereka sangat yakin akan mencapai target pertumbuhan setahun penuh. Tetapi pihaknya menahan diri untuk tidak memperkenalkan langkah-langkah fiskal yang lebih kuat, mengecewakan investor yang telah mengandalkan lebih banyak stimulus dari para regulator untuk mengembalikan ekonomi ke jalurnya.
Dilihat dari sisi internal, Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada September 2024 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap terjaga. Hal ini tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2024 yang berada pada level optimis, yakni sebesar 123,5.
“Berdasarkan Survei Konsumen BI yang dipublikasikan Selasa (8/10/2024), tetap kuatnya keyakinan konsumen pada September 2024 didorong oleh keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi terhadap kondisi ekonomi ke depan yang tetap optimis,” jelas Ibrahim.
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) September 2024 tercatat masing-masing sebesar 113,9 dan 133,1. Pada September 2024, keyakinan konsumen terpantau tetap optimis pada seluruh kategori pengeluaran. Peningkatan IKK tercatat pada responden dengan pengeluaran Rp 3,1 hingga Rp 4 juta.
“Selain itu, Konsumsi Masyarakat mengalami peningkatan pada September 2024. Namun, pada periode yang sama tingkat tabungan masyarakat mengalami penurunan. Artinya, masyarakat masih cenderung makan tabungan (mantab) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” imbuhnya.
Survei Konsumen BI mencatat pada September 2024 rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) tercatat sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu dari 73,5% menjadi 74,1%. Sedangkan, proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (saving to income ratio) atau tabungan tercatat sedikit turun dibandingkan dengan proporsi pada bulan sebelumnya yaitu menjadi 15,3% dari 15,7%.
Ibrahim menakar pada perdagangan hari ini, indeks rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 15.610 sampai dengan Rp 15.730 per dolar AS.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #rupiah #nilai-tukar-rupiah #mata-uang-rupiah #kurs-rupiah #indeks-rupiah #dolar-as #berita-ekonomi-terkini
https://investor.id/market/376150/rupiah-melandai-disinyalir-karena-alasan-ini