Pengembangan "Green Refinery" Kilang Pertamina untuk Kurangi Emisi Karbon
KPI mengatakan dalam RJPP perusahaan dicanangkan pembangunan fasilitas produksi BBM ramah lingkungan atau green refinery untuk kurangi emisi karbon. Halaman all
(Kompas.com) 11/10/24 18:47 16315276
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) akan melakukan pengembangan "green refinery" sebagai dukungan untuk pengurangan emisi karbon.
Pengembangan fasilitas produksi BBM ramah lingkungan dari green refinery telah dimasukkan dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) untuk mendukung target Net Zero Emission pada 2060.
Taufik Aditiyawarman, Direktur Utama KPI, mengatakan dalam RJPP perusahaan dicanangkan pembangunan fasilitas produksi BBM ramah lingkungan atau green refinery.
Sejumlah proyek kilang ramah lingkungan sedang berjalan, termasuk pengembangan kilang Cilacap Tahap 2 yang diproyeksi berjalan pada 2027 dengan kapasitas produksi 6.000 barrel Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) per hari (bph).
Adapun Tahap 1 telah selesai dengan kapasitas 3.000 barrel per hari (bph). Secara keseluruhan Kilang Cilacap merupakan salah satu kilang terbesar Pertamina dengan kapasitas pengolahan 348.000 barrel per hari (bph).
"Selain itu, kilang Plaju ditargetkan rampung pada 2030 dengan kapasitas pengolahan biofuels 20.000 bph, kilang Dumai pada 2031 dengan kapasitas 30.000 bph, dan kilang Balikpapan pada 2034 dengan kapasitas 30.000 bph,” ujar Taufik dalam diskusi Brunch Talk E2S bertajuk "Decarbonizing the Future: The Role of Green Fuel in Reducing Emissions" di Jakarta, Kamis (10/10/2024)
BBM rendah sulfur
Taufik menjelaskan, KPI juga sudah untuk meluncurkan produk BBM solar dengan kadar sulfur rendah. Sebab, Kilang Balongan saat ini sudah siap untuk memproduksi BBM dengan kadar sulfur 10 ppm. KPI juga siap produksi diesel dengan kadar sulfir rendah 10 ppm dari Balongan.
Sementara pada tahun depan, kilang Balikpapan akan mulai dan mampu memproduksi BBM EURO 5 dengan kadar sulfur 10 ppm, baik untuk gasoline maupun diesel. “Ini akan meningkatkan kapasitas untuk memenuhi kebutuhan di wilayah Jawa dan Kalimantan," jelas Taufik.
Biofuel
KPI mampu memproduksi biofuel melalui beberapa metode. Salah satunya melalui co-processing bahan baku nabati yang dicampur dengan conventional feedstock pada existing process. Proses ini dilalui untuk memproduksi Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Lalu, KPI juga melakukan pengolahan bahan baku nabati (CPO Based) dengan komposisi 100% yang seluruhnya menjadi feedstock (Refined Bleached Deodorized Palm Oil/ RBDPO). Ini dilakukan untuk memproduksi green diesel atau B100.
Arie Rachmadi, Peneliti Senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan penggunaan biofuel adalah salah satu cara terbaik untuk bisa menekan emisi yang selama ini banyak dihasilkan oleh kendaraan.
“Salah satu fokus yang harusnya bisa dikejar adalah penggunaan gasoline ramah lingkungan karena konsumsi terbesar ada di bensin gasoline," katanya.
Sementara Ali Ahmudi Achyak, Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS), menilai tantangan terbesar untuk bisa mendorong program biofuel selain pasokan bahan baku adalah harganya yang masih tinggi.
Ini dinilai wajar karena energi baru terbarukan (EBT) masih dianggap energi mahal karena penggunaannya tidak sebanyak energi fosil.