China Akan Tambah Utang Secara Signifikan untuk Topang Ekonomi
Pihak China mengumumkan pihaknya akan menambah penerbitan utang secara signifikan di tengah upaya menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi. - Halaman all
(InvestorID) 12/10/24 16:14 16384357
BEIJING, investor.id – Pihak China mengumumkan pihaknya akan menambah penerbitan utang secara signifikan di tengah upaya menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi yang tersendat. Dana yang didapatkan akan digunakan untuk menawarkan subsidi kepada orang-orang dengan pendapatan rendah, mendukung pasar properti, dan mengisi kembali modal bank-bank negara.
Tanpa memberikan besaran stimulus fiskal yang sedang dipersiapkan, Menteri Keuangan (Menkeu) China Lan Foan mengatakan akan ada lebih banyak tindakan kontra siklus.
Sementara itu, investor global telah menunggu-nunggu detail utamauntuk mengukur keberlanjutan lonjakan saham China baru-baru ini.
"Masih ada ruang yang relatif besar bagi China untuk menerbitkan utang dan meningkatkan defisit fiskal," beber Lan seperti dikutip Reuters, Sabtu.
Ekonomi terbesar kedua di dunia itu menghadapi tekanan deflasi yang kuat akibat penurunan tajam pasar properti sementara kepercayaan konsumen lemah. Negara telah memperlihatkan ketergantungannya yang berlebihan pada ekspor dalam lingkungan perdagangan global yang semakin tegang.
Berbagai data ekonomi dalam beberapa bulan terakhir telah meleset dari perkiraan. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran di kalangan ekonom dan investor. Perkiraan target pertumbuhan pemerintah sekitar 5% tahun ini terancam meleset dari perkiraan, sedangkan perlambatan struktural jangka panjang dapat terjadi.
Data untuk September 2024, yang akan dirilis selama minggu mendatang, diperkirakan akan menunjukkan pelemahan lebih lanjut. Tetapi para pejabat telah menyatakan keyakinan penuh target ekonomi 2024 akan terpenuhi.
Langkah-langkah stimulus fiskal di China telah menjadi subjek spekulasi yang intens di pasar keuangan global. Pasalnya pertemuan para pemimpin tertinggi Partai Komunis, Politbiro, pada September 2024 mengisyaratkan meningkatnya rasa urgensi tentang meningkatnya hambatan ekonomi.
Saham-saham China mencapai titik tertinggi dalam dua tahun, melonjak 25% dalam beberapa hari sejak pertemuan itu. Kemudian saham negara itu turun karena kekhawatiran akibat tidak adanya rincian lebih lanjut tentang rencana pengeluaran tambahan pemerintah.
"Investor berharap akan adanya stimulus baru, disertai dengan angka-angka tertentu. Ada langkah-langkah penting yang diumumkan. Namun, dengan pasar yang berfokus pada \'berapa banyak\' daripada \'apa\', mereka pasti kecewa dengan pengarahan ini," jelas manajer portofolio Eastspring Investments di Singapura Rong Ren Goh.
Bulan lalu Reuters melaporkan pemerintah China berencana menerbitkan obligasi khusus senilai sekitar 2 triliun yuan (US$ 284,43 miliar atau Rp 4.428,3 triliun) tahun ini sebagai bagian dari stimulus fiskal baru.
Setengah dari angka itu akan digunakan untuk membantu pemerintah daerah mengatasi masalah utang mereka. Setengahnya lagi akan mensubsidi pembelian peralatan rumah tangga dan barang-barang lainnya, serta membiayai tunjangan bulanan sekitar 800 yuan atau US$ 114 setara Rp 1,8 juta per anak untuk semua rumah tangga dengan dua anak atau lebih.
Secara terpisah, Bloomberg News melaporkan pemerintah Negara Tirai Bambu itu juga mempertimbangkan untuk menyuntikkan modal hingga 1 triliun yuan ke bank-bank negara terbesarnya. Ini terlepas dari pendapat analis yang mengatakan hal itu mungkin tidak banyak membantu memulihkan permintaan kredit yang terus melemah.
Penerbitan utang tambahan di China biasanya harus disetujui oleh parlemen yang hanya menyetujui, diperkirakan akan bertemu dalam beberapa minggu mendatang.
Peningkatan Stimulus
Bank sentral (PBoC) pada akhir September 2024 mengumumkan langkah-langkah dukungan moneter paling agresif sejak pandemi Covid-19. Ini termasuk pemotongan suku bunga, suntikan likuiditas sebesar 1 triliun yuan dan langkah-langkah lain, untuk mendukung pasar properti dan saham.
Meskipun langkah-langkah tersebut telah mengangkat sentimen pasar, analis mengatakan pemerintah juga perlu mengatasi masalah struktural yang lebih mengakar. Misalnya, dengan meningkatkan konsumsi dan mengurangi ketergantungannya pada investasi infrastruktur yang didorong oleh utang.
Sebagian besar stimulus fiskal China masih digunakan untuk investasi, tetapi hal ini menyebabkan utang melampaui pertumbuhan ekonomi karena pengembaliannya berkurang.
Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan utang pemerintah pusat sebesar 24% dari output ekonomi. Namun dana tersebut menghitung utang publik secara keseluruhan, termasuk utang pemerintah daerah sekitar US$ 16 triliun atau 116% dari produk domestik bruto (PDB).
Lan mengatakan pemerintah akan mendukung pemerintah daerah untuk menyelesaikan masalah utang mereka. Mereka masih memiliki gabungan 2,3 triliun yuan untuk dibelanjakan dalam tiga bulan terakhir tahun ini, kata Lan, termasuk kuota utang dan dana yang belum digunakan.
Pemerintah daerah akan diizinkan untuk membeli kembali tanah yang belum digunakan dari pengembang properti, imbuhnya.
Tingkat upah rendah, angka pengangguran pemuda tinggi, dan jaring pengaman sosial yang lemah berarti pengeluaran rumah tangga China kurang dari 40% dari output ekonomi tahunan atau sekitar 20 poin persentase di bawah rata-rata global. Sebagai perbandingan, angka investasi 20 poin di atasnya.
"Jika paket ini dapat segera diterapkan, target pertumbuhan tahun ini dapat tercapai," ucap kepala ekonom China di Jones Lang Lasalle Bruce Pang tentang pengumuman kementerian keuangan.
"Namun, tantangan yang lebih besar akan dihadapi tahun depan dan konsensus pasar untuk pertumbuhan pada 2025 adalah sekitar 4,5%," ungkapnya, seraya menambahkan ia memperkirakan akan terjadi perlambatan dalam jangka panjang.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #china #ekonomi-china #obligasi-pemerintah-china #lan-foan #china-akan-terbitkan-utang #china-tambah-utang #berita-ekonomi-terkini