Kasus Perundungan, Siswa Berkebutuhan Khusus di Depok Sudah Tiga Kali Visum Fisik dan Psikis

Kasus Perundungan, Siswa Berkebutuhan Khusus di Depok Sudah Tiga Kali Visum Fisik dan Psikis

R (15), siswa berkebutuhan khusus yang diduga jadi korban perundungan di SMP negeri Depok telah menjalani visum fisik dan psikis. Halaman all

(Kompas.com) 14/10/24 15:28 16452557


DEPOK, KOMPAS.com - R (15), siswa berkebutuhan khusus yang diduga jadi korban perundungan di SMP negeri Depok telah menjalani visum fisik dan psikis tiga kali.

Proses ini sudah dilakukan semenjak hari pertama pelaporan ke Polres Metro Depok pada Kamis (4/10/2024).

"Pas tanggal 4 Oktober itu kita memang selesai laporan (di polisi) itu kita visum di RS Brimob, jadi visum (luka) sudah dilakuin. Terus langsung dilanjut visum psikis di RS Kramatjati sudah dua kali," kata F, orangtua R saat dihubungi Kompas.com, Senin (14/10/2024).

F mengungkapkan, visum psikis di RS Kramatjati, Jakarta Timur, itu dilakukan selama dua hari berturut-turut pada Rabu (9/10/2024) dan Kamis (10/10/2024).

Hingga saat ini, dirinya belum menerima atau mendengar hasil visum itu.

"Kayaknya sih belum. Saya juga belum tahu karena pasti penyidik yang pegang," ungkap F.

Namun, F menegaskan, laporan poljsi yang dibuatnya 10 hari lalu akan tetap berlanjut sesuai proses hukumnya.

Di samping itu, F menyebut tentang anaknya masih dalam proses pendampingan bersama psikolog dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan KB (DP3APKB) Kota Depok.

"Iya, (kondisinya) sudah cukup tenang sih, sehari-harinya juga. Dia cuma lihatin tangannya kok diperban, belum dilepas-lepas," ujar F.

Sebelumnya, R diduga mengalami perundungan oleh teman-teman seangkatannya setelah upacara Hari Kesaktian Pancasila, Selasa (1/10/2024).

R disebut mengalami kekerasan fisik, ditendang dan dilempari batu yang mengenai mata serta wajahnya.

Insiden ini membuat R melampiaskan emosinya dengan memukul kaca jendela kelas, menyebabkan luka pada tangannya hingga memerlukan operasi penyambungan urat yang terputus.

Keluarga R telah melaporkan kejadian ini ke Polres Metro Depok. Namun, Kepala SMP negeri bersangkutan, Tatag Hadi Sunoto, membantah adanya perundungan.

Tatag menyatakan bahwa siswa-siswa yang diduga terlibat tidak melakukan kekerasan terhadap R.

Tak berbeda jauh, Kepala Saksi (Kasie) SMP Dinas Pendidikan Kota Depok Bahrudin masih belum dapat menyimpulkan perkara ini sebagai perundungan.

"Kalau dikaitkan bahwa ini perundungan atau tidak, saya sementara belum bisa jawab. Sementara ini, kalau kami simpulkan baru sebatas kecelakaan atau bercandaan anak, seperti itu," ujar Bahrudin.

Hal ini masih dikaji sembari menimbang kondisi korban yang masih dalam proses hingga pulih total.

#abk-di-depok-dibully-teman #perundungan-anak-berkebutuhan-khusus-depok

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/10/14/15281101/kasus-perundungan-siswa-berkebutuhan-khusus-di-depok-sudah-tiga-kali