Ernst & Young (EY) Ramal Sektor Energi Terbarukan akan Ramaikan IPO

Ernst & Young (EY) Ramal Sektor Energi Terbarukan akan Ramaikan IPO

Ernst & Young (EY) meramal IPO ke depan akan diramaikan oleh sektor energi terbarukan. terbarukan. - Halaman all

(InvestorID) 14/10/24 16:06 16453664

JAKARTA, investor.id – Ernst & Young (EY) meramal aksi penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham akan diramaikan sektor energi terbarukan. Investor pun diminta mewaspadai bukan hanya IPO calon emitennya, tetapi juga performa sahamnya.

EY Indonesia Strategy and Transactions Partner Reuben Tirtawidjaja memproyeksikan, energi terbarukan menjadi salah satu sektor yang harus diwaspadai ke depan. Mengingat, minat para pelaku pasar terhadap sektor tersebut semakin besar. Terbukti, dalam lima tahun terakhir telah terjadi beberapa kali IPO.

Alasan perlunya mencermati IPO sektor energi terbarukan juga paralel dengan suksesnya emiten-emiten yang lebih dulu menggelar IPO seperti PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN), PT Arkora Hydro Tbk (ARKO), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).

“Meskipun, jumlah IPO energi terbarukan mungkin tidak terlalu mengesankan. Tapi, harga saham perusahaan-perusahaan ini telah meningkat setidaknya 30% pada 30 September 2024 sejak IPO, yang menunjukkan tingginya minat investor,” jelas Reuben dalam keterangan resminya, Senin (14/10/2024).

Apalagi, Indonesia juga sudah menyatakan komitmennya untuk mencapai emisi nol bersih pada 2060 dan sudah menyiapkan antisipasi kebijakan yang menguntungkan pemerintahan baru terhadap industri energi terbarukan.

Reuben menilai, katalis-katalis positif tersebut dapat mendorong lebih banyak lagi perusahaan energi terbarukan untuk melakukan IPO pada taun-tahun mendatang.

IHSG Menguat

Lembaga auditor EY melaporkan bahwa pasar IPO Indonesia mengalami perlambatan pada kuartal III-2024, dari sebelumnya 66 IPO menghasilkan total US$ 3,3 miliar, menjadi 34 IPO dengan mengumpulkan total US$ 300 juta.

Bukan hanya itu, perolehan dana IPO di pasar modal Indonesia pada kuartal III-2024 juga lebih rendah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia yang sebesar US$ 1,4 miliar dan Thailand sebesar US$ 0,6 miliar.

Menurut Reuben, perlambatan tersebut utamanya disebabkan oleh pemilihan umum (pemilu) pada awal 2024 dan sikap antisipatif investor terhadap pembentukan pemerintahan baru pada Oktober 2024.

“Hal inilah yang memengaruhi keputusan seputar IPO karena investor semakin berhati-hati, dan banyak yang lebih memilih untuk mengambil pendekatan wait and see mengenai kebijakan pemerintah yang akan datang sebelum membuat keputusan investasi,” tegasnya.

Biarpun IPO melambat, namun Reuben menuturkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penguatan cukup signifikan dari Rp 7.139 pada awal Juli sampai puncaknya sebesar Rp 7.905 pada pertengahan September 2024.

Lonjakan ini dipicu oleh penurunan suku bunga Bank Indonesia sebesar 25 bps menjadi 6% pada pertengahan September 2024 dan Federal Reserve (The Fed) yang memangkas suku bunga sebesar 50 bps pada periode yang sama. “Sementara, penurunan suku bunga lainnya diperkirakan terjadi pada November 2024, yang dapat memberikan sentimen positif lebih lanjut bagi pasar modal Indonesia,” tandas Reuben.

Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Baca Berita Lainnya di Google News

#berita-terkini #berita-hari-ini #ernst-young #ernst-young #ey #ipo #sektor-energi-terbarukan #saham-ebt #berita-ekonomi-terkini

https://investor.id/market/376557/ernst-young-ey-ramalsektor-energi-terbarukan-akan-ramaikan-ipo