Persaingan Cagub-Cawagub Jakarta soal Solusi Kemacetan, Mana yang Ralistis?
Jakarta hadapi tantangan kemacetan. Cagub-cawagub tampil dengan beragam solusi, tapi siapa yang punya gagasan paling realistis? Halaman all
(Kompas.com) 15/10/24 12:38 16496389
JAKARTA, KOMPAS.com – Jakarta terus menghadapi persoalan besar terkait kemacetan lalu lintas, sehingga menjadi tantangan bagi para pemimpinnya untuk mencari solusi.
Pada momen Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta 2024, soal kemacetan menjadi isu yang kembali muncul.
Bahkan, salah satu tema yang diangkat dalam debat perdana cagub-cawagub Jakarta pada Minggu (6/10/2024) lalu adalah kemacetan.
Berdasarkan data TomTom Traffic Index, Jakarta berada di urutan ke-30 dalam daftar kota termacet di dunia.
Sementara itu, analisis kebijakan transportasi Azas Tigor Nainggolan berujar bahwa kemacetan di Jakarta menyebabkan kerugian sekitar Rp 180 triliun.
"Angka ini adalah sebuah kerugian dan biaya yang sangat mahal," jelas Tigor dalam keterangannya, Selasa (3/9/2024).
Guna meminimalisir hingga menghilangkan kerugian yang ditimbulkan, Jakarta perlu mengambil langkah yang tepat dan serius dalam memecahkan masalah kemacetan.
Bagaimana penampilan cagub-cawagub Jakarta di debat perdana?
Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Zaki Iskandar, mengatakan bahwa persaingan gagasan kandidat pada debat Pilkada Jakarta belum terlihat.
Sepanjang sesi debat berlangsung, tidak ada ajang saling menguji ide maupun mempertahankan argumen di antara para kandidat.
Ketiga paslon, yakni Ridwan Kamil-Suswono, Dharma Pongrekun-Kun Wardana, dan Pramono-Rano Karno, dinilai baru berbicara tentang program masing-masing.
"Memang tampak kurang greget. Hampir tidak ada ketegangan selama diskusi. Saling serangnya juga tidak terlalu kelihatan," ujar Zaki.
Zaki menekankan bahwa selama debat, interaksi para kandidat terkesan datar dan tidak ada saling serang yang mencolok.
"Semangat yang diusung oleh ketiga kandidat adalah kebersamaan, bukan konflik," ucap Zaki.
Namun, para cagub-cawagub Jakarta sejatinya telah mencanangkan berbagai solusi dalam program mereka untuk mengatasi permasalahan, termasuk kemacetan.
Siapa yang memiliki solusi kemacetan yang realistis?
Dalam debat perdana, cagub nomor urut 1, Ridwan Kamil (RK), menyampaikan rencananya untuk membuat angkutan sungai guna mengurangi kemacetan. Inovasi ini muncul karena Jakarta dilintasi 13 sungai.
"Kita mungkin akan mencoba berinovasi membuat riverway atau perahu melintasi 13 sungai di Jakarta," kata RK.
Selain membuat riverway, RK juga ingin memperluas jalan layang atau flyover untuk mengatasi kemacetan di Jakarta.
RK juga ingin menyebarkan pusat bisnis di Jakarta sehingga perkantoran tak hanya menumpuk di pusat kota, yang dinilai dapat menyebabkan kemacetan.
Bahkan, RK juga ingin menerapkan kebijakan work from home (WFH) di setiap industri secara bergilir.
"Kemudian kita bergiliran yang namanya WFH, Senin industri media, Selasa industri hukum, sehingga mengurangi pergerakan," ucap dia.
Berbeda dengan RK, cagub nomor urut 2, Dharma, berkomitmen memperbaiki manajemen transportasi umum untuk mengatasi kemacetan di Jakarta.
Janji pasangan Kun Wardana ini berbeda dengan paslon lain yang ingin membuat berbagai terobosan baru.
"Terutama manajemen, tidak perlu menambah armada. Manajemen diperbaiki, dioptimalkan, pastikan setiap trayek itu 10 menit," kata Dharma.
Dharma juga ingin memperbaiki fasilitas transportasi umum agar penumpang merasa lebih nyaman.
Selain itu, ia ingin masyarakat Jakarta lebih tertib dalam menggunakan transportasi umum dengan memasukkan budaya antre ke dalam kurikulum sekolah.
Bagi Dharma, tak dibutuhkan penambahan armada sebelum mengetahui faktor mana yang harus diperbaiki untuk mengatasi kemacetan di Jakarta.
"Baru setelah itu dievaluasi apakah perlu ditambahkan (armada transportasi umum). Jika perlu, baru kita tambahkan. Jangan kita mengeluarkan anggaran tanpa tahu faktor mana yang harus kita perbaiki," jelas Dharma.
Sementara itu, cagub Jakarta nomor urut tiga, Pramono Anung, dalam debat pertamanya menilai bahwa Transjakarta tidak cukup untuk membantu mengatasi kemacetan di Jakarta. Oleh sebab itu, ia ingin membuat Transjabodetabek.
"Aglomerasi telah ada, maka yang harus dilakukan adalah Transjabodetabek," ucap Pram.
Dengan adanya Transjabodetabek, ia menilai efektif untuk mendorong orang dari berbagai daerah agar tidak membawa kendaraan pribadi ketika mau ke Jakarta.
"Supaya orang berkurang banyak yang masuk ke Jakarta tanpa membawa kendaraan pribadi, maka yang paling pas adalah Transjabodetabek, bahkan sampai Puncak dan Cianjur," kata dia.
Strategi lain Pramono untuk mengatasi kemacetan di Jakarta adalah ingin agar 15 golongan orang yang selama ini gratis naik Transjakarta juga dapat gratis naik MRT dan LRT.
Adapun 15 golongan tersebut antara lain pegawai negeri sipil Pemprov DKI Jakarta, tenaga kontrak di Pemprov DKI Jakarta, pemilik Kartu Jakarta Pintar (KJP), dan karyawan swasta tertentu yang digaji sesuai dengan UMP melalui Bank DKI.
Selain itu, para penghuni rumah susun sederhana sewa (rusunawa), tim penggerak pemberdayaan dan kesejahteraan, lansia, penyandang disabilitas, anggota veteran Republik Indonesia, penerima Raskin, penduduk pemilik KTP Kepulauan Seribu, marbut, tenaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), petugas jumantik, dan anggota TNI atau Polri.
(Reporter: Shinta Dwi Ayu | Editor: Jessi Carina)
#ridwan-kamil-suswono-debat-pilkada #pramono-rano-debat-pilkada-jakarta #dharma-pongrekun-kun-wardana-debat-pilkada-jakarta #debat-pilkada-jakarta-2024 #masalah-kemacetan-jakarta