Kolaborasi Pemerintah, BUMN dan Swasta Diperlukan untuk Membangun Ketahanan Industri Kesehatan di Indonesia

Kolaborasi Pemerintah, BUMN dan Swasta Diperlukan untuk Membangun Ketahanan Industri Kesehatan di Indonesia

Direktur Utama PT Medela Potentia, Krestijanto Pandji, mengungkapkan bahwa industri kesehatan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantang - Halaman all

(InvestorID) 18/10/24 14:46 16651270

JAKARTA, investor.id - Peran Pemerintah, BUMN dan sektor swasta di Indonesia dalam pengembangan sektor kesehatan semakin penting, terutama di tengah tantangan dan kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi serta kemandirian. Kolaborasi yang erat antara keduanya, khususnya dalam pengadaan alat kesehatan dan obat-obatan, dianggap sebagai kunci untuk menciptakan sistem kesehatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Direktur Utama PT Medela Potentia, Krestijanto Pandji, mengungkapkan bahwa industri kesehatan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. 

"Industri kesehatan ini baru mulai berkembang, jadi perlu bantuan dari berbagai pihak, baik dari sisi perbankan, pinjaman, maupun insentif pajak," ujar Kres pada Acara BNI Investor Daily Summit 2024 di JCC Senayan, Rabu (9/10/2024).

Krestijanto juga menekankan pentingnya kepastian pasar agar produk-produk dalam negeri tidak kalah bersaing dengan produk impor. Produk-produk yang sudah memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) harus menjadi prioritas utama pemerintah dalam pengadaan.

“Jangan sampai orang sudah buat pabrik, tapi dilawan dengan produk impor, akibatnya industri dalam negeri bisa mati,” tambahnya.

Krestijanto percaya, dengan adanya dukungan kebijakan yang kuat, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri bahan baku obat dan alat kesehatan. 

"Kepastian pasar di Indonesia dan insentif pajak akan sangat membantu pengembangan produk-produk lokal. Saya yakin kita akan memiliki banyak industri yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional," katanya.

Sementara itu, BUMN dapat memainkan peran penting dalam mendukung akses kesehatan yang lebih luas, misalnya melalui program-program jaminan kesehatan nasional. Di sisi lain, sektor swasta dapat membantu dengan membangun fasilitas kesehatan di daerah-daerah yang belum terjangkau.

Krestijanto juga menyoroti ketergantungan Indonesia yang masih sangat besar pada impor alat kesehatan. 

"Alat kesehatan mayoritas masih impor dan setiap tahun nilainya terus meningkat. Saat pandemi Covid-19, misalnya, kita kesulitan mendapatkan masker hingga harus mengimpor dalam jumlah besar," ungkapnya. 

Namun, ia mengapresiasi langkah pemerintah yang telah mendukung pertumbuhan industri alat kesehatan lokal. 

"Saat ini sudah ada industri alat kesehatan di Indonesia, dan kami juga sudah mulai merambah ke sana seperti produk wound dressing atau bandage," tutur Kres.

Selain alat kesehatan, fokus utama Medela Potentia saat ini juga pada distribusi produk farmasi, alat kesehatan, kosmetik dan produk konsumer yang telah mengikuti standar Good Distribution Practice (GDP) dari WHO.

“Distribusi penting sekali karena kita tidak hanya distribusi ke kota besar tetapi juga di desa, dari Aceh ke Jayapura. Distribusi itu simple tapi ada standarnya. Kami mengikuti standar WHO, oleh sebab itu kami ketat dengan kualitas. Kami juga memastikan obat yang diberikan pada pasien masih dalam kondisi bagus dan asli,” jelas Kres.

Lebih lanjut, Krestijanto menegaskan pentingnya riset dan pengembangan (R&D) dalam industri alat kesehatan dan farmasi.

"R&D membutuhkan investasi besar dan jangka panjang. Oleh karena itu, kolaborasi antara swasta dan BUMN sangat diperlukan untuk mendorong investasi di sektor ini," jelasnya.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), ketergantungan Indonesia terhadap impor alat kesehatan masih sangat besar. Krestijanto melihat hal ini sebagai peluang besar bagi industri lokal untuk berkembang. 

"Ini adalah potensi yang bisa kita garap bersama, baik oleh pemerintah, swasta, maupun UMKM, terutama dalam hal hilirisasi dan produksi alat kesehatan serta obat-obatan," pungkasnya.

Pada kesempatan itu, Prabowo sekaligus menutup secara resmi acara BNI Investor Daily Summit 2024. Hadir juga dalam acara tersebut Chairman B-Universe Enggartiasto Lukita dan Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (BNI) Royke Tumilaar.

Sejumlah pejabat negara juga hadir di acara penutupan BNI Investor Daily Summit 2024, seperti Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Wiranto, Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno, Menteri BUMN Erick Thohir, Menkumham Supratman Andi Agtas, dan Menteri ATR/BPN Agus Harimurti Yudhoyono.

Editor: Gesa Vitara (gesa@b-universe.id)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Baca Berita Lainnya di Google News

#berita-terkini #berita-hari-ini #pt-medela-potentia #bni-investor-daily-summit-2024 #industri-kesehatan #berita-ekonomi-terkini

https://investor.id/national/377133/kolaborasi-pemerintah-bumn-dan-swasta-diperlukan-untuk-membangun-ketahanan-industri-kesehatan-di-indonesia