KSSK Sebut Rupiah akan Bangkit, Setelah Ambruk Karena Timteng Memanas

KSSK Sebut Rupiah akan Bangkit, Setelah Ambruk Karena Timteng Memanas

Nilai tukar rupiah melemah sebesar 2,82% point to point (ptp) dari bulan sebelumnya. - Halaman all

(InvestorID) 18/10/24 19:37 16660720

JAKARTA, investor.id – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh peningkatan ketidakpastian global akibat eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Namun demikian, KSSK juga yakin rupiah akan menguat sejalan dengan intervensi kebijakan moneter.

Hingga 15 Oktober 2024 nilai tukar rupiah melemah sebesar 2,82% point to point (ptp) dari bulan sebelumnya.

Menteri Keuangan sekaligus Ketua KSSK, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, meskipun dalam kecenderungan melemah, nilai tukar rupiah hanya terdepresiasi 1,17% year to date (ytd). Ini lebih baik dibandingkan dengan pelemahan Peso Filipina, Dolar Taiwan, dan Won Korea.

Untuk kedepannya, kata dia, nilai tukar rupiah diperkirakan terus menguat sejalan dengan menariknya imbal hasil, rendahnya inflasi, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Seluruh instrumen moneter akan terus dioptimalkan, termasuk penguatan strategi operasi moneter pro-market melalui optimalisasi instrumen SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia), SVBI (Sekuritas Valas Bank Indonesia), dan SUVBI (Sukuk Valas Bank Indonesia) untuk memperkuat efektivitas kebijakan dalam menarik aliran masuk modal asing dan mendukung penguatan nilai tukar Rupiah,” ucap Sri Mulyani dalam konferensi pers hasil rapat berkala KSSK IV Tahun 2024 di Gedung Thamrin, Bank Indonesia (BI) pada Jumat (18/10/2024).

Dia mengatakan, stabilitas nilai tukar rupiah konsisten terjaga seiring dengan bauran kebijakan moneter yang dijalankan oleh pesatnya aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan domestik.

Kinerja nilai tukar rupiah yang membaik tersebut ditopang oleh komitmen BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, imbal hasil aset keuangan domestik yang menarik, serta fundamental ekonomi Indonesia yang kuat, sehingga aliran masuk modal asing berlanjut.

Jadi Perhatian

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan fokus kebijakan moneter jangka pendek adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah karena meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

Dengan kondisi nilai tukar rupiah dan inflasi saat ini BI juga melihat kemungkinan untuk menurunkan suku bunga acuan pada akhir tahun 2024 ini.

“Ke depan, BI terus mencermati ruang penurunan suku bunga kebijakan dengan tetap memperhatikan prospek inflasi, nilai tukar rupiah, dan pertumbuhan ekonomi,” tutur Perry.

BI terus memperkuat strategi operasi moneter pro-market untuk menarik berlanjutnya aliran masuk modal asing. Upaya ini dipercaya akan memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dan efektivitas transmisi kebijakan moneter.

Adapun kebijakan moneter yang dimaksud yaitu dengan menjaga struktur suku bunga di pasar uang rupiah untuk daya tarik imbal hasil bagi aliran masuk portofolio asing ke aset keuangan domestik; mengoptimalkan SRBI, SVBI, dan SUVBI; memperkuat strategi transaksi term-repo dan swap valas yang kompetitif; dan memperkuat peran Primary Dealer (PD) untuk semakin meningkatkan transaksi SRBI di pasar sekunder dan transaksi repurchase agreement (repo) antar pelaku pasar.

“BI juga terus memperkuat strategi stabilisasi nilai tukar Rupiah melalui intervensi di pasar valas pada transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan SBN di pasar sekunder,” terang Perry.

Editor: Prisma Ardianto (ardiantoprisma@gmail.com)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Baca Berita Lainnya di Google News

#berita-terkini #berita-hari-ini #rupiah #nilai-tukar-rupiah #proyeksi-rupiah #konflik-timur-tengah #berita-ekonomi-terkini

https://investor.id/commodities/377162/kssk-sebut-rupiah-akan-bangkit-setelah-ambruk-karena-timteng-memanas