Harga Bitcoin Melesat, tapi Tak Sekencang Wall Street dan Emas, Mengapa?

Harga Bitcoin Melesat, tapi Tak Sekencang Wall Street dan Emas, Mengapa?

Pasar kripto naik dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin juga melesat tapi tak sekencang Wall Street dan emas, mengapa? - Halaman all

(InvestorID) 19/10/24 10:17 16688195

JAKARTA, investor.id - Pasar kripto naik dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin juga melesat tapi tak sekencang Wall Street dan emas, mengapa?

Berdasarkan data dari Coinmarketcap, Sabtu (19/10/2024) pukul 10.10 WIB, kapitalisasi pasar kripto global naik 0,83%menjadi US$ 2,35 triliun dalam 24 jam. Kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin (BTC) menguat 0,76% dalam 24 jam terakhir. Saat ini, harga Bitcoin di level US$ 68.560 per koin atau setara Rp 1,06 miliar (kurs, Rp 15.474).

Hal serupa juga terjadi pada Ethereum (ETH) yang meningkat 1% menjadi US$ 2.667 per koin. Sedangkan Binance (BNB) terkerek 0,71% dalam 24 jam. Sehingga BNB dibanderol dengan harga US$ 600 per koin.

Dikutip dari Coindesk, Bitcoin (BTC) menunjukkan kenaikan signifikan dengan lonjakan 8% minggu ini, mengungguli emas dan indeks S&P 500. Meski begitu, harga Bitcoin saat ini masih berada di bawah rekor tertingginya, sementara emas dan S&P 500 mencatatkan rekor tertinggi baru.

Emas saat ini berada di atas US$ 2.718, mengalami kenaikan 32% sepanjang 2024, menuju performa tahunan terbaik sejak 2010. Sementara itu, indeks S&P 500 telah naik sekitar 23% sepanjang tahun ini. Di sisi lain, Bitcoin telah naik lebih dari 50% sejak awal tahun, meski belum kembali ke rekor tertingginya yang mencapai US$ 73.700 pada Maret lalu.

Salah satu alasan utama mengapa Bitcoin belum mencapai rekor tertingginya adalah kenaikannya yang terlalu cepat sebelumnya. Pada Maret lalu, harga Bitcoin melonjak hampir lima kali lipat dalam 14 bulan, dengan hampir dua kali lipat hanya dalam 10 minggu pertama tahun 2024.

Tekanan jual paksa juga mempengaruhi harga Bitcoin selama musim panas, ketika pemerintah Jerman menjual Bitcoin hasil sitaan dan trustee Mt Gox mulai mengembalikan token kepada pemiliknya. Selain itu, perdagangan Bitcoin yang berlangsung 24/7 membuatnya lebih rentan terhadap volatilitas dan likuidasi besar-besaran yang menekan harga di bawah nilai wajarnya.

Kepemilikan Whales

Meskipun ada tekanan jual, data menunjukkan adanya tanda-tanda akumulasi dari berbagai kelompok investor. Berdasarkan data dari Glassnode, investor kecil yang memiliki kurang dari satu Bitcoin, serta investor besar dikenal sebagai ‘whales’ dengan kepemilikan antara 1.000 hingga 10.000 Bitcoin, telah aktif mengumpulkan Bitcoin selama sebulan terakhir.

Ada beberapa faktor yang dapat mendorong Bitcoin mencetak rekor baru, seperti potensi penurunan suku bunga lebih lanjut dari bank sentral Barat, meningkatnya dukungan terhadap kandidat pro-kripto Donald Trump, dan peningkatan arus masuk ke produk investasi Bitcoin seperti ETP.

Salah satu pemicu positif yang mungkin terabaikan adalah tren pelemahan yen Jepang. Data terbaru menunjukkan inflasi utama di Jepang melambat menjadi 2,5%, yang bisa menjadi sinyal bahwa Bank of Japan mungkin menahan diri dari kenaikan suku bunga lebih lanjut. Yen telah melemah ke level terendah sejak awal Agustus, yang bisa memberikan dorongan positif bagi aset berisiko seperti Bitcoin.

Dalam lima tahun terakhir, Bitcoin telah naik lebih dari 1.000% terhadap yen Jepang, sementara emas naik sekitar 150% terhadap yen. Namun, Bitcoin dan emas menunjukkan kenaikan yang lebih kecil terhadap mata uang utama lainnya seperti dolar AS, euro, dan poundsterling.

Dengan berbagai faktor yang mendukung, tampaknya rekor baru untuk Bitcoin hanya tinggal menunggu waktu.

 

 

Editor: Indah Handayani (handayani@b-universe.id)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Baca Berita Lainnya di Google News

#berita-terkini #berita-hari-ini #harga-bitcoin #bitcoin #wall-street #emas #rekor-tertinggi-emas #ethereum #binance #pasar-kripto #berita-ekonomi-terkini

https://investor.id/market/377205/harga-bitcoin-melesat-tapi-tak-sekencang-wall-street-dan-emas-mengapa