AS, China, hingga Eropa Turunkan Suku Bunga, Apa Dampaknya ke Indonesia?

AS, China, hingga Eropa Turunkan Suku Bunga, Apa Dampaknya ke Indonesia?

Pelonggaran kebijakan moneter global berpotensi meningkatkan aliran modal asing ke Indonesia. Siap-siap untuk peluang baru! Halaman all

(Kompas.com) 19/10/24 16:17 16700749

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia dan negara berkembang lainnya berpotensi menerima kucuran modal asing seiring dengan pelonggaran kebijakan moneter yang dilakukan oleh sejumlah negara besar.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, beberapa negara telah menurunkan suku bunga acuan sebagai respons terhadap tekanan inflasi yang melambat.

Salah satunya adalah Amerika Serikat (AS), yang melonggarkan kebijakan moneternya karena inflasi semakin mendekati sasaran 2 persen year-on-year (yoy) di tengah pertumbuhan ekonomi yang masih lambat dan tingginya angka pengangguran.

Bank sentral AS, The Fed, telah memangkas suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin pada bulan September lalu.

The Fed juga mengindikasikan akan melanjutkan pelonggaran kebijakan hingga akhir tahun ini.

Selain itu, bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) juga melakukan penurunan suku bunga acuannya pada bulan September 2024.

Sementara itu, bank sentral China (People’s Bank of China/PBoC) menurunkan suku bunga acuannya karena inflasi yang rendah dan permintaan domestik yang masih lemah.

"Berbagai perkembangan tersebut meredakan ketidakpastian pasar keuangan global dan meningkatkan aliran modal asing masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia," ujarnya saat konferensi pers KSSK di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (18/10/2024).

Bank Indonesia (BI) sendiri telah menurunkan suku bunga acuannya sebanyak 25 basis poin pada bulan September 2024 menjadi 6 persen, dan mempertahankannya hingga bulan Oktober 2024.

Perkembangan ini membuat nilai tukar rupiah menguat pada akhir September 2024 sebesar 2,08 persen secara bulanan, menjadi Rp 15.140 per dollar AS.

Tingkat apresiasi rupiah ini lebih tinggi dibandingkan dengan Won Korea yang menguat 2,02 persen, Peso Filipina yang menguat 0,17 persen, dan Rupee India yang menguat 0,1 persen.

"Kinerja rupiah yang membaik tersebut tentu saja ditopang oleh komitmen BI untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, imbal hasil aset keuangan Indonesia yang menarik, dan fundamental ekonomi Indonesia yang relatif kuat, inflasi rendah, sehingga menyebabkan confidence dan aliran masuk modal asing berlanjut," jelasnya.

Ketidakpastian Global Berpotensi Kembali Meningkat

Namun, pemerintah tetap mencermati risiko meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global pada bulan Oktober 2024.

Hal ini disebabkan oleh eskalasi konflik geopolitis di Timur Tengah, yang memerlukan respons kebijakan untuk memitigasi dampak rambatan global.

Sri Mulyani mengungkapkan bahwa risiko peningkatan ketidakpastian ini tecermin dari nilai tukar rupiah yang melemah sebesar 2,82 persen point-to-point pada periode 1-15 Oktober 2024.

"Pelemahan nilai tukar tersebut terutama dipengaruhi oleh peningkatan ketidakpastian global akibat eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah," ungkapnya.

Meski demikian, jika dibandingkan dengan akhir Desember 2023, nilai tukar rupiah terdepresiasi hanya sebesar 1,17 persen year-to-date (ytd), yang lebih baik dibandingkan dengan pelemahan Peso Filipina, Dollar Taiwan, dan Won Korea.

#aliran-modal-asing #suku-bunga #nilai-tukar-rupiah #pelonggaran-kebijakan-moneter

https://money.kompas.com/read/2024/10/19/161700926/as-china-hingga-eropa-turunkan-suku-bunga-apa-dampaknya-ke-indonesia-