Wall Street Longsor, tapi Nasdad Lawan Arus
Wall Street mayoritas longsor pada Senin (21/10/2024), seiring dengan kenaikan imbal hasil obligasi AS. Tapi Nasdaq lawan arus - Halaman all
(InvestorID) 22/10/24 04:34 16813592
NEW YORK, investor.id – Indeks-indeks Wall Street mayoritas longsor pada Senin (21/10/2024). Hal ini terjadi seiring dengan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS) dan investor menantikan laporan keuangan terbaru. Namun, Nasdaq malah melawan arus.
Dikutip dari CNBC internasional, S&P 500 turun 0,18% ke level 5.853,98. Sedangkan Dow Jones, yang terdiri dari 30 saham utama, jatuh 344,31 poin (0,8%) ditutup di 42.931,60, mengakhiri tiga hari kemenangan berturut-turut. Sementara itu, Nasdaq Composite menjadi satu-satunya indeks yang menguat, dengan mencatatkan kenaikan 0,27% dan ditutup pada 18.540,01.
Saham sektor konsumen dan perusahaan pembangunan rumah menjadi yang paling terpukul karena kekhawatiran akan suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama. Saham Target turun 3,8%, Builders FirstSource merosot 5,2%, dan Lennar anjlok 4,4%.
Imbal hasil obligasi AS 10 tahun melonjak hampir 12 basis poin menjadi 4,19%.
Kepala strategi investasi di CFRA Sam Stovall mengatakan, imbal hasil obligasi AS terus naik, yang menunjukkan bahwa investor kini berpikir The Fed akan lebih lambat dalam memangkas suku bunga karena ekonomi tetap tangguh. "Akibatnya, The Fed kemungkinan akan kesulitan menurunkan tingkat inflasi hingga target 2% dalam tahun depan,” ungkapnya.
Minggu ini akan menjadi penting bagi laporan keuangan, Sebab sekitar seperlima dari perusahaan di S&P 500 yang akan melaporkan kinerjanya. Beberapa perusahaan besar yang dijadwalkan melaporkan termasuk Tesla, Coca-Cola, dan GE Aerospace.
Lampaui Ekspektasi
Sejauh ini, hasil laporan keuangan beragam. Dari sekitar 14% perusahaan S&P 500 yang telah melaporkan hasil kuartal ketiga, 75% di antaranya melampaui ekspektasi, menurut FactSet. Namun, para analis telah menurunkan ekspektasi mereka secara signifikan untuk kuartal ini dalam beberapa bulan terakhir.
"Saya tidak berpikir kita berada di awal resesi pendapatan atau semacamnya, tetapi target telah ditetapkan sangat rendah. Dengan target yang serendah ini, kemungkinan besar ini akan menjadi kuartal ke-60 dari 62 kuartal terakhir di mana hasil aktual melebihi perkiraan akhir kuartal,” kata Stovall.
Meski demikian, para investor tetap optimistis bahwa ekuitas masih memiliki ruang untuk terus naik. Namun, mereka juga waspada terhadap valuasi yang terlalu tinggi, terutama menjelang pemilu presiden AS dan meningkatnya risiko geopolitik, yang dapat menyebabkan volatilitas lebih lanjut.
Pergerakan pasar pada Senin ini terjadi setelah indeks S&P 500 dan Dow Jones mencatat rekor tertinggi sepanjang masa pada Jumat (18/10/2024), menandai kenaikan mingguan keenam berturut-turut untuk kedua indeks tersebut.
Editor: Indah Handayani (handayani@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #wall-street #nasdaq #dow-jones #s-p-500 #imbal-hasil-obligasi-as #laporan-keuangan #pemilu-presiden-as #berita-ekonomi-terkini
https://investor.id/market/377475/wall-street-longsor-tapi-nasdad-lawan-arus