Lomba Bengong di Jepang, Melambat di Era Serba Cepat
Lomba bengong di Jepang memiliki filosofi mendalam tentang kehidupan. Halaman all
(Kompas.com) 22/10/24 06:03 16824920
KOMPAS.com – Lomba bengong atau Tokyo Bouttosuru Competition "space-out competition" di Jepang mungkin terdengar aneh, tetapi sebenarnya memiliki makna mendalam.
Lomba ini mengajak peserta untuk duduk diam tanpa melakukan aktivitas apa pun selama 90 menit.
Dikenal dengan nama "Tokyo Bouttosuru", lomba ini menarik perhatian masyarakat Jepang, terutama di tengah budaya kerja yang serba cepat dan penuh tekanan.
Respons terhadap kelelahan
Dilansir dari Independent.co.uk, lomba bengong pertama kali diselenggarakan pada 2014 di Seoul, Korea Selatan, oleh seniman visual bernama Woopsyang.
Ia menciptakan lomba ini sebagai respons terhadap kelelahan yang dialaminya akibat kehidupan yang serba cepat.
Tujuannya sederhana, yaitu untuk mendorong orang untuk mengambil waktu istirahat dan melamun tanpa merasa bersalah karena tidak produktif.
Woopsyang menyadari bahwa banyak orang di dunia modern mengalami tekanan untuk selalu sibuk. Menurutnya, penting bagi semua orang untuk berhenti sejenak dan menikmati momen istirahat.
“Waktu yang tidak produktif untuk tidak melakukan apa pun sebenarnya benar-benar diperlukan bagi orang-orang modern,” ujar Woopsyang.
Melalui lomba ini, ia ingin menegaskan pentingnya mengambil jeda di tengah kehidupan yang penuh tekanan.
Lomba ini telah berkembang secara internasional dan diadakan di berbagai kota, seperti Beijing, Rotterdam, Taipei, Hong Kong, dan Tokyo.
Dikutip dari SoraNews24, pada tahun ini sekitar 100 peserta berkumpul di ARK Karajan Plaza, Roppongi Hills, Tokyo, untuk mengikuti kompetisi ini.
Lomba dimulai tepat pukul 14.30 waktu setempat, dan sejak saat itu para peserta harus berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukan apa pun, baik bergerak, berbicara, maupun hanya sekadar menghela napas yang dalam.
Elemen kreatif
Meskipun terlihat sederhana, kompetisi ini memerlukan ketenangan mental dan fisik yang besar untuk bisa bertahan dan tidak tergoda melakukan aktivitas sekecil apa pun.
Namun, yang membuat lomba ini menarik adalah penggunaan elemen kreatif oleh para pesertanya.
Banyak peserta datang mengenakan kostum yang menggambarkan profesi mereka atau gaya hidup mereka sehari-hari.
Peserta diperbolehkan menggunakan alat peraga, seperti satu peserta yang membawa es krim yang perlahan meleleh di tangannya selama 90 menit, tanpa memakannya atau membiarkannya jatuh, untuk menunjukkan ketenangan yang luar biasa.
Dalam kompetisi ini, tidak hanya stabilitas fisik yang dinilai, tetapi juga aspek artistik.
Para juri mengevaluasi kontestan berdasarkan kemampuan mereka mempertahankan kestabilan detak jantung dan “estetika bengong” mereka. Sikap dan penampilan mereka saat berdiam diri menciptakan kesan visual yang menarik.
Dengan cara ini, lomba bengong ini bukan sekadar kompetisi melawan waktu, melainkan juga sebuah pertunjukan seni di mana keheningan dan ketenangan menjadi pusat perhatian.
Uniknya, kompetisi ini menggunakan sistem diskualifikasi yang mirip dengan aturan sepak bola. Peserta yang tertangkap tidur, berbicara, atau melakukan gerakan mencolok akan diberikan "kartu kuning" dan "kartu merah" yang menyebabkan mereka keluar dari kompetisi.
Salah satu video yang tersebar di media menunjukkan seorang peserta yang didiskualifikasi karena tertidur, memperlihatkan bahwa meskipun terlihat santai, lomba ini tetap memiliki aturan yang ketat.
Gelar Raja Bengong
Lomba bengong di Tokyo ini kini telah menjadi acara tahunan, dan setiap tahunnya menarik perhatian banyak pelamar.
Pada tahun ini, dari 528 pendaftar, hanya 90 peserta yang dipilih, terdiri dari 60 kelompok yang berkompetisi dalam ajang yang unik ini.
Selain peserta individu, lomba ini juga diikuti oleh tim, dengan peserta bekerja sama untuk tetap diam dan tenang selama durasi lomba.
Lomba ini disponsori oleh aplikasi kesehatan Piece dan disiarkan secara langsung melalui layanan video Niconico yang memungkinkan penonton di seluruh dunia menyaksikan aksi diam para peserta.
Pemenang lomba tidak hanya meraih penghargaan kehormatan sebagai “raja bengong”, tetapi juga mendapatkan hadiah menarik berupa perjalanan ke wilayah Ise Shima di Prefektur Mie, yang terkenal dengan pemandangan alamnya yang indah dan suasana yang tenang, tempat yang sempurna untuk bersantai.
Meski terkesan sederhana, lomba bengong ini memiliki makna filosofis yang mendalam.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, lomba ini mengajarkan pentingnya mengambil jeda sejenak dan merayakan momen-momen ketenangan.
#lomba-bengong #lomba-melamun-di-jepang #kompetisi-bengong-di-jepang #kompetisi-melamun-di-jepang #tokyo-bouttosuru-competition #tokyo-space-out-competition #lomba-bengong-di-jepang