Terbakarnya Bus Pariwisata Anak TK dan Risiko yang Terabaikan...

Terbakarnya Bus Pariwisata Anak TK dan Risiko yang Terabaikan...

Kebakaran bus pariwisata anak TK di Jakarta memicu keprihatinan atas keselamatan transportasi dan perlunya regulasi lebih ketat. Halaman all

(Kompas.com) 25/10/24 08:25 16961855

JAKARTA, KOMPAS.com - Terbakarnya bus pariwisata yang membawa rombongan siswa-siswi Taman Kanak-Kanak (TK) di Tol Bekasi, Cawang, Kampung Melayu (Becakayu), Jatinegara, Jakarta Timur menimbulkan keprihatinan mendalam mengenai keselamatan transportasi.

Peristiwa ini bukan hanya sebuah kecelakaan, tetapi juga menggambarkan masalah ancaman yang lebih besar dalam sistem transportasi pariwisata.

Awalnya, saat bus yang mengangkut 58 anak dan pendamping ini berangkat dari Cikeas menuju Pondok Gede untuk manasik haji. Setelah acara, mereka berencana melanjutkan perjalanan ke Ancol.

Namun, di tengah perjalanan, masalah muncul ketika air conditioner (AC) bus mengalami kerusakan.

Sopir bus mengambil keputusan untuk meminggirkan kendaraan di ruas Tol Becakayu untuk mengecek kondisi bus.

Sementara itu, semua penumpang di dalam bus diturunkan dan diminta pindah ke bus cadangan yang ada di belakang.

"Penumpang dipindahkan ke bus yang ada di belakang untuk melanjutkan wisata ke Ancol," ucap Kepala Unit Kecelakaan Lalu Lintas (Kanit Laka Lantas) Polres Metro Jakarta Timur AKP Darwis, Kamis (24/10/2024).

Kejadian ini berujung pada munculnya percikan api ketika sopir mencoba memeriksa accu AC, yang menyebabkan kebakaran.

Peristiwa ini sepatutnya menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan yang lebih ketat terhadap bus pariwisata, terlebih jika mengangkut anak-anak.

Risiko yang terabaikan

Pengamat transportasi, Djoko Setijowarno, berujar bahwa insiden terbakar-nya transportasi itu merupakan masalah kompleks yang melibatkan banyak pihak, termasuk perusahaan bus.

Dengan demikian, masalah terbakarnya bus pariwisata tersebut tidak bisa disimpulkan hanya dengan menyalahkan sopir.

"Terkadang sopir diperkarakan. Ini pengalihan, siapa yang mengalihkan bus itu dari bus reguler jadi pariwisata. Kemudian kalau ada, itu biasanya kan ada EO," kata Djoko saat dihubungi Kompas.com, Jumat (25/10/2024).

Tak jarang, perusahaan bus atau pihak ketiga menawarkan penyewaan dengan tarif murah tanpa memperhatikan standar keselamatan yang seharusnya dipenuhi.

Tawaran harga murah ini seringkali menggiurkan calon penyewa bus tanpa curiga terhadap kondisi transportasi dan keselamatan penumpang.

"Bus yang murah tetapi tidak tahu seperti apa yang berkeselamatan itu," kata Djoko.

Tindakan nyata mencegah tragedi

Di tengah masalah ini, Djoko juga menekankan perlunya penerapan sistem manajemen keselamatan.

Pasalnya, selama ini prosedur tersebut belum sepenuhnya diimplementasikan kepada perusahaan bus.

“Digitalisasi saja tidak cukup. Ini perkaranya manusia. Misal, sopirnya ngantuk, digital apa yang bisa \'oh sopir ini ngantuk, makannya kurang, tadi pagi nggak sarapan\'," kata Djoko.

Selain itu, Djoko mengemukakan bahwa jika proses pengusutan setiap insiden ini tidak jelas, kemungkinan kejadian serupa akan terus terjadi, bahkan meningkat.

"Ya, kalau memang nggak tuntas, ya terulang kembali," tutup Djoko.

Dengan demikian, tanpa regulasi ketat dan sistem manajemen keselamatan yang efektif, risiko tragedi serupa akan terus membayangi setiap perjalanan bus.

#bus-pariwisata-terbakar #bus-pariwisata-terbakar-di-tol-becakayu #bus-pariwisata-terbakar-di-tol

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/10/25/08250811/terbakarnya-bus-pariwisata-anak-tk-dan-risiko-yang-terabaikan