IMF Selidiki Rencana Sistem Pembayaran BRICS

IMF Selidiki Rencana Sistem Pembayaran BRICS

IMF ingin mengetahui lebih lanjut mengenai sistem pembayaran lintas batas yang dibahas oleh kelompok negara BRICS minggu ini. - Halaman all

(InvestorID) 26/10/24 14:02 17019258

WASHINGTON, investor.id – Dana Moneter Internasional (IMF) ingin mengetahui lebih lanjut mengenai sistem pembayaran lintas batas yang dibahas oleh kelompok negara BRICS minggu ini. Hal ii ditujukan untuk meningkatkan transaksi nondolar, kata direktur pelaksana dana tersebut pada Kamis (23/10/2024).

Pertemuan BRICS yang meliputi Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (Afsel) berlangsung di Kazan, Rusia, bersamaan dengan pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Washington.

Kelompok BRICS telah berkembang secara signifikan sejak didirikan pada 2009. Kini, 15 tahun kemudian, anggota kelompok ini telah mencakup negara-negara seperti Iran, Mesir, dan Uni Emirat Arab (UEA). Secara keseluruhan, koalisi BRICS menyumbang sebagian kecil dari output ekonomi dunia.

Pada pertemuan puncak Kazan, pemerintah Rusia memperoleh deklarasi bersama. "(Mendorong) penguatan jaringan perbankan koresponden dalam BRICS dan memungkinkan penyelesaian dalam mata uang lokal, sejalan dengan Prakarsa Pembayaran Lintas Batas BRICS (BCBPI)," terang pemerintah Rusia seperti dikutip China-Global South Project, Sabtu (26/10/2024).

Sistem ini dirancang untuk menyaingi sistem pembayaran SWIFT yang berpusat di Eropa, yang dilarang digunakan Rusia setelah serangan Ukraina pada 2022.

Direktur pelaksana IMF Kristalina Georgieva berbicara di kantor pusat IMF, Washington pada Kamis, mengatakan IMF menginginkan informasi tambahan tentang sistem pembayaran yang diusulkan sebelum mengambil sikap tegas terhadapnya.

"Ide untuk memiliki sistem pembayaran sekelompok negara bukanlah hal baru," kata dia.

"Yang perlu kita lihat adalah lebih banyak detail. Apa yang ada dalam ide ini? Bagaimana itu dapat diwujudkan dalam kenyataan? Dan kemudian kita akan dapat menilainya," tambahnya.

Penurunan Pendapatan di Timur Tengah

Selama konferensi persnya, Georgieva mengatakan IMF difokuskan pada dua tujuan utama ke depannya. Ia memastikan tingkat inflasi kembali ke target bank sentral tanpa memicu resesi yang dalam, serta memperbaiki pertumbuhan rendah dan jalur utang tinggi yang saat ini dialami banyak negara.

Ia juga membahas apa yang disebutnya tragedi di Timur Tengah, yang menurutnya memengaruhi warga negara dan ekonomi regional.

"Mesir kehilangan 70% pendapatan yang biasa dikumpulkannya dari Terusan Suez karena dampak konflik," ujar Georgieva. Ia menambahkan, IMF telah menurunkan peringkat kawasan MENA sebesar 0,6 poin persentase sejak April 2024.

Awal bulan ini, Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi mengatakan negara itu telah kehilangan sekitar US$ 6-7 miliar tahun ini, yang tampaknya merujuk pada pendapatan Terusan Suez.

Georgieva juga menyambut baik kemajuan yang dicapai dalam membantu negara-negara yang menghadapi krisis utang. Khususnya melalui forum Global Sovereign Debt Roundtable (GSDR) untuk dialog antara kreditor dan negara-negara yang mengalami kesulitan utang.

Sementara GSDR membantu membuat proses restrukturisasi utang lebih dapat diprediksi dan efisien, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, katanya.

"Kita perlu berbuat lebih banyak untuk membantu negara-negara yang terlilit utang agar bisa bangkit lebih cepat," pungkasnya.

Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Baca Berita Lainnya di Google News

#berita-terkini #berita-hari-ini #imf #brics #sistem-pembayaran-brics #kristalina-georgieva #ekonomi-global #berita-ekonomi-terkini

https://investor.id/international/378042/imf-selidiki-rencana-sistem-pembayaran-brics