Pekerja, Ini 3 "Soft Skill" yang Bikin Anda Bernilai di Mata Perusahaan
Kebutuhan atas pekerja yang piawai semakin menguat, seiring dengan keinginan perusahaan-perusahaan untuk berkompetisi di pasar yang menantang. Halaman all
(Kompas.com) 28/10/24 12:21 17098660
JAKARTA, KOMPAS.com - Kebutuhan atas pekerja yang piawai semakin menguat, seiring dengan keinginan perusahaan-perusahaan untuk berkompetisi di pasar yang menantang.
Namun, laporan Future Skills Index of Indonesian Talents yang dirilis oleh Mekari, Skilvul, Int Labs, serta difasilitasi oleh Ravenry sebagai market research partner, menguak perbedaan persepsi atau perception gap, di mana pekerja dan perusahaan memberikan penilaian berbeda terhadap kadar soft skill yang dibutuhkan pekerja agar bisa berkolaborasi di tempat kerja dan beradaptasi ke dinamisme industri.
Riset yang mensurvei perusahaan dan pekerja membagikan soft skill, atau keterampilan karier
non-teknis, menjadi 23 kategori. Berdasarkan hasil yang terkumpul, pekerja menilai bahwa level soft skill mereka sudah mencukupi, namun perusahaan melihat bahwa masih ada ruang untuk pengembangan.
PEXELS/VISUALTAG MX Ilustrasi pegawai, bekerja di kantor.Stevens Jethefer, Head of Business Mekari Talenta mengatakan, pekerja dan perusahaan
perlu menyamakan persepsi agar mereka bisa saling menyiapkan diri untuk menghadapi masa
depan dunia kerja di Indonesia.
“Indonesia bertujuan menjadi pemain besar di ekonomi global, dan pekerja yang bertalenta adalah motor penggerak menuju hal tersebut. Pekerja harus memiliki bukan saja keterampilan teknis, namun juga soft skills yang memungkinkan mereka beradaptasi dan berinovasi di industri yang berubah dengan cepat," ujar Stevens dalam siaran pers, Senin (28/10/2024).
"Perusahaan pun memainkan peran kunci dengan menyediakan lingkungan dan sumber daya yang mendukung pengembangan keterampilan pekerja,? tambahnya.
Riset tersebut mensurvei pekerja dari demografi yang luas, mulai dari pekerja kantor hingga pabrik, dan mulai dari Gen X (usia 44 sampai 69 tahun) hingga Gen Z (usia 20 sampai 27 tahun).
PEXELS/MIKHAIL NILOV Ilustrasi pegawai, bekerja di kantor.William Hendradjaja, Chief of Business Skilvul mengungkapkan, riset ini kemudian mengerucutkan soft skills menjadi enam kelompok, yaitu adaptabilitas dan fleksibilitas,
komunikasi, kreativitas dan inovasi, pemikiran kritis dan pemecahan masalah, kepemimpinan, serta manajemen diri, yang fundamental dimiliki oleh pekerja.
“Setelah menelaah data lebih lanjut, kami menemukan bahwa ribuan pekerja dan perusahaan sangat memprioritaskan komunikasi, kreativitas, dan pemikiran kritis karena mereka menganggap bahwa tiga keterampilan itu adalah yang paling mempengaruhi kemampuan pekerja untuk menjalankan tugas sebagai individu dan berkolaborasi dengan berbagai tim di kantor,? terang dia.
Berikut beberapa soft skill yang membuat pekerja bernilai di mata perusahaan.
1. Komunikasi
Ketika diminta untuk menilai seberapa penting masing-masing keterampilan, sebanyak 55,3 persen pekerja yang disurvei menyatakan bahwa komunikasi adalah keterampilan teratas, diikuti oleh kreativitas dan inovasi sebesar 27,4 persen, serta pemikiran kritis dan pemecahan masalah sebesar 25,7 persen.
Pekerja mengatakan, dengan tiga keterampilan tersebut, mereka mampu menjalankan tugas dan berkolaborasi dengan tim lain, dengan demikian berkontribusi pada pencapaian tujuan organisasi.
Stevens menambahkan, keterampilan berkomunikasi juga esensial dalam konteks budaya
Indonesia di mana menghindari konflik, menaati hirarki, dan menjaga hubungan interpersonal perlu diperhatikan oleh seorang individu.
Dibanding pekerja, perusahaan lebih tinggi mengutamakan keterampilan komunikasi. Hingga 65 persen perusahaan di lintas sektor menyatakan bahwa komunikasi adalah keterampilan dasar bagi pekerja di setiap peran dan posisi.
PEXELS/EDMOND DANTES Ilustrasi bekerja di kantor.“Sebuah riset terpisah menunjukkan bahwa para eksekutif bisnis menghabiskan 75 persen dari waktu kerja mereka untuk berkomunikasi secara lisan dan tulisan,? lanjut Stevens.
Perusahaan pun setuju bahwa pekerja perlu mempunyai kreativitas dan inovasi sebesar 27,4 persen, serta pemikiran kritis dan pemecahan masalah sebesar 23,9 persen, karena dua keterampilan tersebut berdampak pada kompetitivitas perusahaan.
2. Kreativitas dan inovasi
Riset menguak bahwa saat membandingkan persepsi lintas generasi, lebih banyak generasi senior yang menitikberatkan keterampilan kreativitas dan inovasi.
Sebanyak 21,2 persen responden Gen X menjawab bahwa keterampilan tersebut amat penting, dibanding generasi lebih muda, yaitu Gen Y sebanyak 18,6 persen, dan Gen Z 15,9 persen.
“Hal ini mencerminkan tingkat karier, di mana Gen X umumnya sudah berada di puncak karier yang menuntut keterampilan yang identik dengan seorang pemimpin,? ungkap Stevens.
3. Adaptivitas dan fleksibilitas
Setiap generasi pekerja setuju bahwa di masa depan, fleksibilitas dan adaptabilitas adalah dua
keterampilan yang akan membantu mereka untuk menjaga kesuksesan karir di tengah perubahan cepat di setiap industri.
“Sebesar 16,4 persen Gen Z menyatakan bahwa adaptabilitas dan fleksibilitas diperlukan untuk
mengejar kesuksesan karier di masa depan, diikuti oleh Gen Y 15,1 persen dan Gen X 13,7 persen,? ungkap Stevens.
Riset itu menemukan pekerja Indonesia ingin mengembangkan keterampilan agar mereka
siap menghadapi masa depan. Hingga 68 persen dari pekerja pernah berpartisipasi di program pelatihan yang disediakan oleh perusahaan.
Ricky Wilianto, Managing Partner Int Labs menambahkan, sebanyak 77 persen pekerja melaporkan mereka merasa bahwa pelatihan yang diberikan perusahaan sudah memadai dalam hal mendukung performa kerja saat ini dan kedepannya.
“Sentimen positif ini sangat menjanjikan sebab pekerja yang merasa puas biasanya akan melaporkan perkembangan signifikan atas kemampuan bekerja pasca pelatihan. Agar tren ini
berlanjut, perusahaan perlu memastikan bahwa program pelatihan tetap efektif dan relevan bagi pekerja,? terang dia.