Gerak Lincah MIND ID Ambil Alih Tambang Asing
MIND ID tak mungkin menjadi sebesar sekarang ini jika tak ada aksi korporasi dan ide besar di baliknya. Halaman all
(Kompas.com) 28/10/24 09:37 17101848
SEJAK 2019, perusahaan tambang milik negara, Mineral Industri Indonesia (MIND ID) termasuk salah satu perusahaan nasional yang lincah mengakusisi tambang raksasa dan potensial, yang sebelumnya berpuluh-puluh tahun dikontrol perusahaan asing.
Ini memang ditopang aturan UU No.3 Tahun 2020 Tentang Mineral dan Batubara yang mawajibkan semua perusahaan asing yang sudah berproduksi selama 10 tahun untuk mendivestasikan 51 persen saham ke pihak nasional.
Meskipun demikian, divestasi saham perusahaan-perusahaan asing itu bukan langkah mudah, karena harganya mahal dan banyak intrik ekonomi-politik berkelindan di dalamnya.
MIND ID sukses membeli 51 persen saham perusahaan tambang emas dan tembaga yang menambang di Grasberg, Papua, Freeport Indonesia pada 2021. Aksi korporasi MIND ID ini termasuk paling heboh di Tanah Air dan menarik perhatian korporasi global.
Freeport Indonesia sudah sejak jaman Orde Baru (1967) dikontrol Freeport McmoRRan (Amerika Serikat) dan harganya sangat mahal mencapai 5 miliar dollar AS. MIND ID ternyata mampu mencari dana segar dari luar untuk membeli 51 persen saham Freeport.
Perusahaan BUMN ini cerdas berhitung bahwa Grasberg adalah tambang potensial. Dengan begitu, pengembalian utang dan bunga utang akan dilakukan lebih cepat dan MIND ID mendapat untung besar.
Tambang Freeport di Grasberg adalah paling profitable di dunia. Tambang Grasberg mampu memproduksi biji (emas, tembaga dan perak) sebesar 170.000-200.000 matrik ton per tahun.
Tambang Grasberg sekarang memiliki cadangan sebesar 1,5 miliar ton biji (emas, tembaga dan perak) dan masih ada sekitar 3 miliar ton lagi jika dilakakan ekspolorasi lebih dalam.
Selain itu, Freeport sukses membangun tambang underground (tambang bawah tanah) dan membangun pabrik senilai 2 miliar dollar AS di Manyar, Jawa Timur dengan kapasitas di atas 1 juta ton katode tembaga per tahun.
Dengan bergabungnya Freeport, MIND ID menjadi sangat besar, baik dari segi aset, laba, dan dividen ke negara.
Selain Freeport, MIND ID juga sukses mengontrol 34 persen saham PT Vale Indonesia tahun 2023. Sedangkan kepemilikan Vale Canada berkurang dari 44,4 persen menjadi sekitar 33,9 persen dan Sumitomo Metal Mining berkurang dari 15 persen menjadi 11,5 persen.
Vale adalah salah satu raja tambang nikel di Tanah Air. Nikel menjadi incaran negara-negara dunia dengan perubahan paradigma menuju transisi energi. Nikel adalah motor penggerak pembangunan baterai untuk ekosistem mobil listrik.
Vale selama 54 tahun beroperasi di Sorowako (Sulawesi Selatan), Bahodopi (Sulawesi Tengah) dan Pomala (Sulawesi Tenggara).
Vale adalah Kontrak Karya (KK) tambang nikel yang izinnya dikeluarkan zaman pemerintahan Orde Baru tahun 1968 di bawah payung hukum UU No.1 Tahun 1967, tentang Penanaman Modal Asing (PMA) dengan kontrak selama 30 tahun sampai tahun 1996.
Tahun 1996, pemerintah Orde Baru memperjang lagi kontrak Vale selama 30 tahun sampai 28 Desember 2025. Dengan mengontrol saham Vale, MIND ID menjadi salah satu raksasa tambang di Tanah Air.
Tak mengherakan jika pada acara acara LME Metals Seminar 2024 yang diadakan di London pada 30 September 2024, MIND ID termasuk salah satu perusahaan tambang paling berpengaruh di mata internasional.
MIND ID menjadi salah satu pemasok komoditas pertambangan besar dunia, yang menjadi bahan baku kunci berbagai industri di dunia. Mengapa demikian?
Berkah Holding
Perusahaan tambang BUMN ini tak mungkin menjadi sebesar sekarang ini jika tak ada aksi korporasi dan ide besar di baliknya.
MIND ID muncul dari gagasan penggabungan BUMN tambang yang memiliki core business masing-masing, seperti PT Bukit Asam Tbk (batubara), PT Timah Tbk (timah), PT Indonesia Asaham Alumina (INALUM, bauksit dan memiliki smelter bauksit menjadi alumina ingot sejak tahun 1976), dan PT Aneka Tambang Tbk (raja nikel, bauksit dan emas batangan di Tanah Air).
Sejak jaman Orde Baru, perusahaan tambang ini berdiri sendiri-sendiri, sehingga asetnya kecil dan labanya tak maksimal.
Berawal dari upaya untuk mengakusisi Freeport Indonesia tahun 2019, holding tambang (INALUM berubah menjadi MIND ID) dibentuk mantan Menteri BUMN, Rini Soemarno.
Gagasan ini muncul karena pemerintah mewajibkan perusahaan tambang BUMN membeli 51 persen saham Freeport. Namun, saham Freeport itu harganya sangat mahal mencapai 5 miliar dollar AS.
Ada wacana kala itu, PT Aneka Tambang Tbk atau INALUM yang bertugas mengambil-alih Freeport. Namun, dana dua perusahaan ini tak cukup membeli Freeport.
Aset dua perusahaan ini juga tak cukup dijadikan jaminan untuk meminjam di bank atau menjual obligasi ke investor global.
Nah, dalam konteks inilah, holding tambang MIND ID dibentuk Menteri Rini. Menteri BUMN kemudian menggabungkan (holding) semua perusahaan tambang BUMN, seperti PTBA, PT Timah, ANTM dan INALUM.
Pemimpin holding kalah itu adalah INALUM, karena dianggap paling sehat, bisnisnya menjanjikan dan beban utang minim.
Holding tambang BUMN kemudian menjadi sangat besar dari segi aset dan laba. Cash flow Inalum dan anak usaha cukup tangguh untuk melakukan akuisisi saham.
Cash flow PT Bukit Asam (PTBA) tahun 2018, misalnya, mencapai Rp 4,45 triliun. Sementara PT Timah (TINS) memiliki cash flow sebesar Rp 1,29 triliun tahun 2014.
Dengan dana cash yang cukup besar, ruang bagi BUMN tambang untuk melakukan ekspansi dan akuisisi lebih terbuka.
Dengan begitu, jaminan peminjaman dana ke investor asing dan lokal lebih dipercaya ketika perusahaan membutuhkan dana senilai 5 miliar dollar AS untuk membeli saham Freeport Indonesia.
Itu terbukti manjur. Ketika INALUM (sebelum berubah menjadi MIND ID) melakukan road show untuk penjualan global bond, langkah itu disambut investor global dengan antusias.
Alhasil, dalam tempo waktu cepat, INALUM mendapat dana segar senilai 5 miliar dollar AS untuk membeli saham Freeport. Freeport kemudian berhasil dikuasi holding tambang BUMN sejak 2021.
Setelah membeli Freeport, MIND ID sukses mengakusisi 14 persen saham PT Vale Indonesia Tbk seharga Rp 4,28 triliun. Harga satu lembar saham Vale dipatok Rp 3.050 per lembar saham.
Sebelumnya, MIND ID sudah mengontrol saham Vale sebesar 20 persen. Pembelian saham Vale ini juga mengandalkan utang dengan jaminan aset holding tambang yang besar dan pengembalian pokok dan bunga utang.
Setelah akusisi Freeport dan Vale, holding tambang kemudian berubah nama dari INALUM menjadi MIND ID.
INALUM kemudian fokus mengurus bisnis bauksit dan pengembangan smelter alumina ingot dengan kapasitas 500.000 ton per tahun, termasuk terbesar di Asia. Sementara MIND ID fokus menjadi strategic holding yang akan menjadi motor penggerak bagi anggota-anggota holding.
Dengan akusisi Freeport dan Vale Indonesia, Inalum menjadi magnet baru karena masing-masing anggota memiliki core bisnis dan raja di bisnis masing-masing.
ANTM menguasai nikel dan bauksit yang menjadi tulang punggung pembangunan ekosistem mobil listrik dan pembangunan industry stainless steel global.
ANTM juga sudah mengganggas proyek hilirisasi sejak tahun 1973, dengan pembangunan pabrik smelter feronikel di Kolaka, Sulawesi Tenggara, berkapasitas 27.000 matrik ton per tahun.
ANTM juga sukses membangun pabrik feronikel di Halmahera Timur dengan kapasitas 13.000 matrik ton per tahun.
Sementara, PTBA adalah raja di sektor batubara dengan kapasitas produksi di atas 40 juta ton per tahun dan bersaing dengan PT Adaro Energi Tbk atau Kaltim Prima Coal. Selain itu, PT Timah menjadi salah satu produsen timah terbesar kedua di dunia.
Vale sendiri memiliki luas lahan sebesar 118.000 hektare yang terdiri dari 70.000 hektare di Sorowako (Sulawesi Selatan), 22.699 hektare di Bahodopi (Sulawesi Tengah), dan 24.752 hektare di Pomala (Sulawesi Tenggara).
Vale juga sudah lama membangun smelter. Perusahaan ini adalah salah perusahaan tambang asing yang sudah membangun pabrik smelter nikel sejak 1970 di Sorowako dengan kapasitas 72.000 ton nikel matte per tahun.
Vale akan menambah tiga pabrik smelter lagi, seperti ekspansi kapasitas smelter nikel matte yang telah ada di Sorowako dengan penambahan produksi sebesar 60.000 matrik ton, smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Pomalaa, dan smelter feronikel di Bahodopi.
Tiga proyek Vale ini termasuk kategori proyek strategis nasional pemerintahan Jokowi.
Proyek HPAL untuk bahan baku baterei mobil listrik yang sekarang didorong pemerintah dalam rangka mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, seperti Bahan Bakar Minyak (BBM) yang membuat APBN terus mengalami defisit akibat impor minyak dan gas.
Dengan begitu, akusisi Vale sangat strategis dalam mendukung program hilirisasi pemerintah.
Selain itu, anggota holding MIND ID lainnya, Freeport Indonesia sudah sukses membangun pabrik smelter tembaga terbesar di dunia dengan kapasitas di atas 1 juta ton katoda tembaga per tahun dan mempekerjakan 12.000 tenaga kerja lokal dan sub kontraktor.
Penyelesaian proyek-proyek besar ini menjadikan MIND ID sebagai tulang punggung bagi perekonomian nasional ke depan. MIND ID dapat diandalkan untuk memompa perekonomian nasional dan daerah.
Di daerah operasi tambang, seperti Bangka (Timah), Sorowako dan Luw Timur (Vale) ataupun Freeport (Mimika, Papua), kehadiran holding MIND ID menjadi penyumbang terbesar bagi perekonomian daerah.
Daerah-daerah yang menjadi lokasi pembangunan smelter, seperti smelter ANTM di Kolaka dan smelter Freeport di Manyar menjadi sangat hidup dan roda ekonomi berputar.
Selain itu, dengan akusisi perusahaan-perusahaan asing raksasa, MIND ID menjadi salah satu perusahaan negara yang dapat diandalkan menyumbang dividen ke Kementerian Keuangan. Besarnya dividen sangat bergantung pada laba perusaan.
Sampai September 2024, MIND ID meraup laba sebesar Rp 27 triliun. MIND ID kemudian menyumbang dividen ke negara sebesar Rp 18,5 triliun atau terbesar kedua setelah BRI.
Ini pencapaian luar biasa dan tentu tak pernah dialami sebelum terbentuknya holding tambang.
Holding tambang memang terbentuk agar sumber daya alam dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat sebagaimana yang diamanatkan konstitusi UUD’45. Konstitusi mengamanatkan pertambangan strategis harus dikuasai negara untuk kesejahteraan rakyat.
Ke depan, MIND ID tak boleh berpuas diri. MIND ID harus terus melakukan transformasi dan terus menciptakan inovasi di sektor tambang.
MIND ID terus membuka diri kepada publik dengan cara transparan dan akuntable agar publik paham aksis korporasi apa yang dilakukan perusahaan dan sejauh mana itu menguntungkan negara dan rakyat.
MIND ID juga terus mendorong dan memelopori program hilirisasi pemerintah agar Indonesia segera meninggalkan paradigma pertambangan ekstraktif, menjual bahan tambang dalam bentuk mentah tanpa ada pengolahan dan harga murah.
Pembangunan smelter ke semua anggota holding sangat penting agar perusahaan tambang BUMN terus menjadi penopang perkokonomian daerah dan nasional.
#tambang #freeport #vale-indonesia
https://money.kompas.com/read/2024/10/28/093739426/gerak-lincah-mind-id-ambil-alih-tambang-asing