8 Cara Menghadapi Orangtua yang Suka Mengontrol
Orangtua yang terlalu suka mengontrol bisa berdampak besar terhadap kepercayaan diri anaknya, sehingga pertumbuhan diri mereka akan terhambat.
(Kompas.com) 28/10/24 20:50 17118345
KOMPAS.com - Ada berbagai cara menghadapi orangtua yang suka mengontrol. Ini termasuk mengidentifikasi alasan mereka memiliki perilaku yang cenderung mengontrol, hingga mengendalikan hal-hal yang bisa kita tangani.
Adapun orangtua yang terlalu suka mengontrol bisa berdampak besar terhadap kepercayaan diri anaknya, sehingga pertumbuhan diri mereka akan terhambat, serta sulit mengejar tujuan dan impiannya, seperti dilansir dari Best Life.
“Seiring berjalannya waktu, hal ini dapat menyebabkan kecemasan, depresi, dan berkurangnya rasa identitas saat kita berjuang untuk mengembangkan rasa diri yang kuat dan mandiri,” ungkap psikoterapis teregistrasi dari One Life Counseling & Coaching, Ken Fierheller, seperti dilansir Best Life.
- Cara Mencegah Anak Jadi Generasi Sandwich, Harus dari Orangtua
- 4 Alasan Orangtua Ingin Anaknya Nikah Muda, Termasuk Kurang Edukasi
Sementara itu, terapis pernikahan dan keluarga berlisensi sekaligus pendiri Meridian Counseling, Sandra Kushnir mengatakan, orangtua yang gemar mengatur juga bisa menyebabkan anaknya kesulitan membina hubungan orang dewasa yang sehat karena memiliki masalah kepercayaan diri dan ketegasan.
Lalu, bagaimana harus bertindak? Lebih jauh, berikut cara menghadapi orangtua yang suka mengontrol.
Cara menghadapi orangtua yang suka mengontrol
1. Identifikasi perilaku mengendalikan tersebut
Cara pertama adalah mengenali kebiasaan-kebiasaan problematik tersebut.
Menurut Fierheller, orangtua yang gemar mengontrol mungkin akan selalu mencoba menfintervensi pekerjaan atau hubungan kita, serta memantau hal yang bersifat pribadi, seperti rekening bank dan gawai.
"Mereka juga bisa saja memiliki ekspektasi atau standar yang tidak realistis, seperti ingin terus-menerus berkomunikasi. Bahkan mereka mungkin bisa menghubungi polisi ketika suatu waktu kita tidak bisa dihubungi selama beberapa jam saja," ungkapnya.
Menurut Kushnir, perilaku mengontrol tersebut seringkali muncul secara tak disadari. Misalnya, mereka sering memberikan saran tentang siapa saja yang boleh menjadi temanmu atau memilihkan pakaianmu.
Kebiasaan ini membuat seorang anak seiring waktu merasa tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup karena tidak bisa membuat keputusan tanpa panduan.
2. Buat batasan yang jelas
Setelah sudah mengenali perilaku mengontrol tersebut, buat batasan yang jelas beserta konsekuensinya.
Menurut Fiereller, mulailah dengan mengidentifikasi perilaku-perilaku mana saja yang tidak bisa kita terima, lalu ekspreksikan secara tenang batasan-batasannya kepada orangtua kita.
Misalnya, orangtua ingin kita mengabari mereka secara rutin saat kita sedang bekerja di kantor. Cobalah menjelaskan bahwa kita memahami keinginan mereka.
Lalu, beri penjelasan bahwa ketika bekerja, kita tidak selalu bisa menjangkau telepon.
- Selain pada Pasangan, Perselingkuhan Orangtua Juga Berdampak pada Anak
- Bukannya Jadi Mandiri, Orangtua Overprotektif Bikin Anak Manja
Tidak ada jaminan orangtua yang gemar mengontrol tidak akan menerobos batasan itu. Namun, penting untuk kita memberi kejelasan.
"Ingatkan diri kita sendiri bahwa tidak apa-apa untuk memprioritaskan kesejahteraan diri kita dan kita bukan orang jahat jika memprioritaskan diri sendiri," ungkap Fierheller.
3. Berlatih bersikap tegas
Belajar untuk menegaskan diri adalah kunci dalam menghadapi orangtua yang suka mengatur.
Ini bisa termasuk mengekspresikan kebutuhan kita dan keinginan untuk suasana rumah yang tenang. Sampaikan dengan sopan.
Kita bisa menyampaikan kalimat seperti, "aku paham maksud ayah/ibu, tapi saya lebih suka menanganinya dengan caraku sendiri."
Cara ini bisa menciptakan jarak emosional sekaligus memperkuat hak kita unguk memiliki otonomi.
“Pelatihan ketegasan dapat meningkatkan harga diri Anda dan membantu Anda berkomunikasi dengan lebih efektif tanpa agresi.”
Jika itu membantu, Anda dapat mempertimbangkan untuk mempraktikkan naskah Anda pada seorang teman sebelum Anda menghadapi orang tua Anda.
4. Prioritaskan perawatan diri
Kebiasaan-kebiasaan kecil namun bermakna untuk diri kita seperti tidur yang cukup, latihan pernapasan atau meditasi setiap hari, atau menghabiskan waktu berkualitas dengan seorang teman bisa sangat membantu.
“Memprioritaskan kegiatan perawatan diri dapat membantu mengurangi stres dan dampak emosional saat menghadapi orangtua yang suka mengatur,” kata Kushnir.
5. Mulai mengambil langkah kecil menuju kemandirian
Mulailah mengambil langkah-langkah kecil menuju kemandirian untuk membangun kepercayaan diri dan mengurangi kendali orangtua.
Misalnya, membuat keputusan pribadi tentang rutinitas harian kita atau merencanakan acara dengan teman-teman tanpa meminta persetujuan.
Seiring berjalannya waktu, tindakan ini akan memperkuat kemampuan untuk mengatur hidup kita sendiri dan membuat pilihan-pilihan mandiri.
Namun, bukan berarti kita perlu sepenuhnya langsung melepas keterlibatan orangtua dalam hidup kita. Pada aspek perawatan kesehatan dan keuangan kita mungkin masih memerlukan pendapat dan persetujuan mereka.
FREEPIK Ilustrasi anak bertikai dengan orangtua yang suka mengontrol.
6. Jangan terlalu banyak berbagi
Pekerja sosial klinis berlisensi dan terapis JustAnswer, Jennifer Kelman mengatakan bahwa penting untuk memperhatikan seberapa banyak informasi yang kita sampaikan kepada orangtua yang mengontrol.
“Berbagi mungkin tidak selalu menjadi jalan terbaik karena dapat mengundang opini yang tidak beralasan,” jelasnya.
Contohnya, jika kita tahu bahwa mereka sangat memperhatikan bagaimana kita membelanjakan uang, kita mungkin akan menunda pembelian besar dalam waktu dekat untuk diri sendiri.
Contoh lainnya, jika mereka cenderung terlalu terlibat dalam hubungan kita. Curhat pada mereka tentang masalah pernikahan mungkin tidak tepat jika dilakukan dengan orangtua.
Sebaliknya, para ahli mengatakan bahwa sebaiknya kita membangun sistem pendukung atau support system yang lain untuk dukungan emosional selain orangtua.
7. Jujurlah
Ini bergantung pada hubungan kita dengan orangtua dan kesediaan mereka untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri.
Namun, secara umum, kita mungkin ingin menyampaikan secara jujur dengan mereka tentang bagaimana perilaku mereka memengaruhi kita.
Bicarakan bahwa kebiasaan mereka yang suka mengatur membuat kita merasa tidak nyaman. Namun, gunakan cara-cara sopan, bukan menyerang.
Pilihlah waktu yang tepat, termasuk kata-kata yang ingin disampaikan.
8. Temui terapis
Menurut Fierheller, bekerja sama dengan terapis bisa sangat berguna jika kita merasa kesulitan menetapkan batasan dengan orangtua yang suka mengatur.
Sesi terapi, misalnya, dapat membantu kita mengeksplorasi akar dari dinamika hubungan dengan orangtua, kemudian mengembangkan strategi mengatasi masalah tersebut.
"Sistem dukungan eksternal sangat penting untuk memvalidasi pengalaman kita dan mengurangi perasaan terisolasi," ujarnya.
- Sederet Penyebab Stres pada Anak, Orangtua Perlu Tahu
- Waspadai, Dampak Trauma Bonding Orangtua Juga Bisa Dirasakan Anak
Jika orangtua bersedia menjalani terapi dengan kita, hal itu lebih baik.
Namun, Kelman menyarankan untuk mencari penyedia layanan kesehatan mental yang berspesialisasi dalam dinamika keluarga.
Dalam terapi keluarga, kita dan orangtua memiliki ruang netral untuk mengurai masalah yang sedang berlangsung, menyembuhkan luka, dan mendapatkan nasihat yang tidak memihak, sehingga membantu mendapatkan hubungan masa depan yang lebih baik.
#cara-menghadapi-orangtua-yang-suka-mengontrol #menghadapi-orangtua-yang-suka-mengontrol #tips-menghadapi-orangtua-yang-suka-mengontrol