Pemilu AS di Depan Mata, Cermati Instrumen Investasi dengan Volatilitas Rendah

Pemilu AS di Depan Mata, Cermati Instrumen Investasi dengan Volatilitas Rendah

Pemilihan presiden AS kian dekat. Kontestasi elektoral itu dinilai jadi sentimen vital bagi pasar modal sejumlah negar termasuk Indonesia. - Halaman all

(InvestorID) 31/10/24 20:33 17300516

JAKARTA, investor.id – Pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) kian di depan mata. Kontestasi elektoral yang akan berlangsung pada 5 November 2024 itu dinilai menjadi sentimen global yang berdampak vital bagi pasar modal di berbagai negara termasuk Indonesia. Di tengah ketidakpastian dan volatilitas tinggi, instrumen investasi dengan volatilitas rendah bisa menjadi pilihan. 

Chief Investment Officer PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) Stefanus Dennis Winarto menyampaikan, pemilu presiden AS seringkali memberikan dampak signifikan kepada pasar modal. Sebab, kebijakan calon presiden AS dapat memengaruhi regulasi bisnis, perpajakan, dan arah kebijakan ekonomi secara keseluruhan.

Ketidakpastian politik yang muncul menjelang pemilu, secara umum bisa meningkatkan volatilitas pasar modal. Sebab, investor akan cenderung hati-hati dan menyesuaikan portofolio mereka berdasarkan perkiraan kebijakan ekonomi dari masing-masing kandidat.

Itulah mengapa, pemilu AS dapat menyebabkan performa pasar saham mengalami penurunan sementara. Mengingat, investor cenderung melakukan aksi jual untuk menghindari risiko dari kebijakan baru yang belum pas.

Salah satu kebijakan yang paling ditunggu para pelaku pasar adalah tarif dagang dan penanganan inflasi lanjutan. “Biaya tarif dagang untuk produk dari China yang diekspor ke AS bisa naik signifikan. Dampaknya, inflasi AS berpotensi meningkat yang akhirnya semakin mempersulit The Fed menurunkan suku bunga,” ujar Stefanus dalam keterangan resminya, Kamis (31/10/2024).

Kebijakan suku bunga The Fed memiliki dampak sistematis terhadap nilai tukar rupiah dan aliran dana asing ke Indonesia. Bahkan, dalam jangka panjang, hasil pemilu AS bisa berpengaruh kepada pasar modal sejalan dengan kebijakan presiden baru.

Tengok saja misalnya kebijakan perang dagang antara AS dan China pada 2019 yang diinisiasi Donald Trump selaku presiden AS kala itu. AS dan China sebagai dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia secara tak terhindarkan saling berbalas kebijakan pengetatan perdagangan.

Efek perang dagang China-AS pun mengular ke performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Soalnya, ketegangan yang melibatkan kedua negara adidaya tersebut telah membuat ketidakpastian ekonomi global, yang akhirnya menggerus kepercayaan investor terhadap pasar saham termasuk IHSG.

Net Sell Asing

Kondisi ini yang membuat investor cenderung menarik dana dari pasar saham negara berkembang alias emerging market (EM) tanpa kecuali Indonesia. Investor mengalihkan dananya ke aset yang dianggap lebih aman seperti obligasi pemerintah AS.

Eksesnya, kondisi ini menimbulkan aksi jual bersih alias net sell investor asing terutama terhadap saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar (big caps) yang memiliki bobot signifikan kepada IHSG.

Stefanus melanjutkan, investor mesti mencermati perubahan arah kebijakan sejumlah negara. Sebab, bukan hanya Indonesia dan AS yang memiliki pemimpin baru. Tercatat, akan ada sekitar 50 negara yang menggelar pemilu untuk memilih pemimpin baru pada tahun ini.

“Konflik geopolitik global telah membuat semua investor harus semakin bijak dalam berinvestasi. Penting bagi investor memilih instrumen investasi dengan tingkat diversifikasi yang tinggi,” imbuh Stefanus.

Volatilitas Rendah

Oleh sebab itu, dirinya berpendapat, penting bagi investor untuk memilih instrumen investasi yang tepat. Mengingat, pasar modal cenderung bergejolak menjelang momentum pemilu AS. Investor diharapkan mampu memilih instrumen dengan volatilitas rendah salah satunya yaitu reksa dana khususnya reksa dana pasar uang.

Asal tahu saja, reksa dana pasar uang merupakan jenis reksa dana yang 100% portofolionya diinvestasikan Manager Investasi (MI) ke instrumen-instrumen pasar uang seperti instrumen investasi yang jatuh temponya kurang dari 1 tahun semisal deposito, Sertifikat Utang Negara (SUN), Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan sejenisnya.

Reksa dana pasar uang memiliki tingkat risiko yang lebih rendah ketimbang instrumen lainnya. Ketika kondisi pasar bergejolak, kinerja investasi reksa dana pasar uang cenderung stabil. Bukan hanya itu, instrumen berjangka pendek juga memiliki risiko gagal bayar yang kecil.

Menurut Stefanus, investor hendaknya bisa mencermati reksa dana pendapatan tetap yang cenderung diuntungkan dari kebijakan penurunan suku bunga acuan. Mayoritas portofolio reksa dana ini merupakan efek yang bersifat utang (baik obligasi dan/atau sukuk).

“Ketika suku bunga turun, harga obligasi akan cenderung naik. Penurunan tingkat suku bunga acuan akan menyebabkan bunga tabungan dan deposito di perbankan menjadi tidak menarik, sehingga akan membuat investor lebih tertarik berinvestasi di instrumen obligasi dibandingkan menaruh uangnya di deposito. Era suku bunga rendah yang sebentar lagi terjadi tentu bisa memaksimalkan potensi return dari reksa dana pendapatan tetap,” bebernya.

Selain memilih instrumen tepat, yang tidak kalah penting, investor juga mesti cermat memilih platform investasi. Kata Stefanus, Makmur sebagai salah satu platform aplikasi reksa dana sudah mengantongi izin resmi sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dengan begitu, dana investasi nasabah akan tersimpan aman di bank kustodian. 

Melalui platform Makmur, Investor juga akan memperoleh kemudahan dengan proses registrasi yang sederhana, di mana proses registrasi dilakukan 100% online dan hanya membutuhkan waktu kurang lebih 5 menit. Kini, lebih dari 500.000 investor ritel tercatat sudah menggunakan Makmur.

Di platform Makmur, Stefanus menuturkan, investor bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan, baik reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. “Sebab, Makmur menyediakan sejumlah promo yang bisa digunakan investor untuk memaksimalkan kinerja portofolio untuk mewujudkan tujuan investasi dari masing-masing nasabah,” tandasnya. 

Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Baca Berita Lainnya di Google News

#berita-terkini #berita-hari-ini #pemilu-as #reksa-dana #makmur-reksa-dana #ihsg #the-fed #reksa-dana-pasar-uang #berita-ekonomi-terkini

https://investor.id/market/378671/pemilu-as-di-depan-mata-cermati-instrumen-investasi-dengan-volatilitas-rendah