15 investor Asing dari Sektor Tekstil Jajaki Relokasi Bisnis ke Indonesia

15 investor Asing dari Sektor Tekstil Jajaki Relokasi Bisnis ke Indonesia

Para investor asing ini melakukan penjajakan bukan untuk mengakuisisi perusahaa tekstil di Indonesia. Melainkan untuk merelokasi bisnisnya. Halaman all

(Kompas.com) 01/11/24 10:15 17315216

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebanyak 15 investor asing yang bergerak di sektor tekstil akan melakukan penjajakan untuk berinvestasi di Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, pihaknya dijadwalkan bertemu dengan belasan investor asing ini pada hari ini, Jumat (1/11/2024).

"Kami akan ada beberapa calon investor di sektor padat karya. Ada 15 investor," ujarnya saat ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (31/10/2024).

Airlangga bilang, para investor asing ini melakukan penjajakan bukan untuk mengakuisisi perusahaa tekstil di Indonesia. Melainkan mereka berminat untuk merelokasi bisnisnya ke Indonesia.

Hal ini akibat strategi China Plus One (C+1) yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada China dengan mendiversifikasi bisnis ke negara lain.

“Mereka akan relokasi ke Indonesia. Karena kebanyakan kan mereka sebelumnya kan investasinya di China, tapi dengan adanya situasi global itu sekarang kebijakan daripada buyer di Amerika itu harus cari China Plus One,” jelasnya.

Selain Indonesia, investor asing yang akan menerapkan strategi China Plus One ini juga menjajaki negara ASEAN lainnya seperti Bangladesh dan Vitenam.

Namun saat ini kondisi politik Bangladesh tengah berguncang setelah mantan Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina mengundurkan diri dan meninggalkan istananya saat unjuk rasa penuh kekerasan di Bangladesh pada 5 Agustus lalu.

Oleh karenanya, sisa Vietnam dan Indonesia yang dapat dijajaki untuk relokasi bisnis. “Oleh karena itu Indonesia harus bisa memanfaatkan secara baik,” kata Airlangga.

Untuk itu, Indonesia harus segera menyelesaikan berkas perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) agar tidak kalah saing dengan Vietnam.

“Mereka ingin agar Indonesia dan Vietnam mempunyai treatment yang sama di negara Eropa atau Amerika dan itu hanya bisa dicapai kalau kita tanda tangan IEU-CEPA. Karena bagi Vietnam itu ekspor ke Eropa dan ke Amerika bea masuknya nol. Bagi Indonesia di atas sekitar 16 persen, 10 sampai 20 persen,” tuturnya.

Langkah untuk Menyehatkan Industri Padat Karya

Airlangga menyebut, akan hadirnya investor asing sektor tekstil di Indonesia ini merupakan salah satu upaya pemerintah menyehatkan industri padat karya yang tengah terpuruk.

Salah satu yang terdampak ialah perusahaan tekstil nasional, PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), yang telah dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri Semarang.

“Kami sedang mempersiapkan bagaimana memperbaiki sektor padat karya,” ujarnya.

Sebab menurutnya, industri padat karya perlu direvitalisasi agar dapat menggenjot produktivitas. Namun untuk dapat mendongkrak produktivitas, diperlukan proses penelitian dan pengembangan (Research and Development/R&D).

“Karena biar bagaimana industri itu persaingannya persaingan pasar dan persaingan global. Jadi siapa yang lebih efisien, siapa yang energinya lebih efisien, siapa yang teknologinya lebih terakhir, siapa yang outputnya lebih besar itu akan menentukan competitiveness-nya,” tukasnya.

#jakarta #investor-asing #tekstil

http://money.kompas.com/read/2024/11/01/101500026/15-investor-asing-dari-sektor-tekstil-jajaki-relokasi-bisnis-ke-indonesia