Anak Dipukul Temannya, Perlukah Membalas? Orangtua Wajib Tahu

Anak Dipukul Temannya, Perlukah Membalas? Orangtua Wajib Tahu

Masih ada orangtua yang mengajarkan anak untuk membalas pukulan ketika mereka dipukul temannya. Namun, apakah cara tersebut tepat?

(Kompas.com) 01/11/24 21:07 17325409

JAKARTA, KOMPAS.com – Ada banyak hal yang bisa terjadi pada anak-anak di sekolah, salah satunya ketika mereka dipukul oleh teman sebayanya.

Ketika mengadu ke orangtuanya, beberapa anak diajarkan untuk membalas pukulan tersebut ketika mereka kembali dipukul di sekolah.

Akan tetapi, psikolog anak dan keluarga dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Samanta Elsener menganjurkan agar anak tidak membalas pukulan dengan pukulan.

“Apapun bentuk perlawanan yang kita lakukan, sebisa mungkin dalam bentuk verbal, bukan dalam bentuk pukulan,” tegas dia dalam podcast Kompas Lifestyle, Ruang Keluarga, bertajuk “Anak Terlalu Dimanja Bisa Jadi Pelaku Bullying”, Rabu (30/10/2024).

Menurut Samanta, membalas pukulan itu membuat anak sama dengan pelaku. Tentunya, tidak ada orangtua yang ingin anaknya dicap sebagai anak yang suka memukul orang lain.

Balas secara verbal

Orangtua bisa mengajarkan agar anak membalasnya secara verbal, dengan memberi tahu anak yang memukulnya bahwa ia tidak menyukai perlakuan tersebut.

“Kalau dia (temannya) memukul lagi besok harinya, (bilang) ‘kan aku sudah bilang, aku enggak suka dipukul, sakit’. Berikutnya, kita harus kasih tahu ke anak kita, cara mendeteksi supaya merasa aman,” tutur Samanta.

Caranya, dengan mempelajari pemukulan yang sudah terjadi selama dua hari berturut-turut. Dari sana, orangtua bisa mengetahui kapan biasanya anak dipukul, misalnya pada pagi hari sebelum masuk kelas.

Keesokan harinya, orangtua bisa datang ke sekolah untuk mengantar anak pada jam tersebut untuk mengobservasi.

Apabila menemukan anak yang memukul tersebut, ayah atau ibu bisa menyapa mereka dengan menyebutkan nama anak mereka.

“Kita bilang nama anak kita siapa, misalnya Santi. ‘Santi enggak suka dipukul, sakit. Kalau mau negur Santi, pakai verbal saja atau ditowel’,” Samanta berujar.

Orangtua juga bisa mempraktikkan di depan teman sang anak bagaimana sebaiknya menegur, bukan dengan pukulan.

Misalnya, jika menowel atau mencolek anak, bisa mengajarkan colekan seperti apa yang diizinkan dan sekencang apa.

“Diajarin tekanannya seberapa, terus coba praktikkan. Kita punya hak,” papar Samanta.

#bullying #perundungan #podcast-kompas-lifestyle #ruang-keluarga

https://lifestyle.kompas.com/read/2024/11/01/210700620/anak-dipukul-temannya-perlukah-membalas-orangtua-wajib-tahu