Saham Gudang Garam (GGRM) Terjun, Investor Cemas sama Laba & Bandara

Saham Gudang Garam (GGRM) Terjun, Investor Cemas sama Laba & Bandara

Saham Gudang Garam (GGRM) terus terjun. GGRM menyentuh level terendah 10 tahun terakhir. - Halaman all

(InvestorID) 02/11/24 21:00 17379934

JAKARTA, investor.id - Saham emiten rokok, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) lagi merah terus. Pada perdagangan 1 November 2024 kemarin, saham GGRM -2,66% ke Rp 13.700, yang merupakan level terendahnya dalam 10 tahun terakhir.

Dalam periode year to date (ytd) saham Gudang Garam (GGRM) terperosok 34,13%, dan dalam periode tiga tahun terakhir saham GGRM terjun 59,38%.

Saham Gudang Garam makin tertekan usai perseroan merilis kinerja keuangan hingga akhir kuartal III-2024. Gudang Garam (GGRM) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 67 miliar (-94% yoy, -80% qoq) pada 3Q24.

“Hasil ini membuat laba bersih selama 9M24 menjadi Rp 992 miliar (-78% yoy), jauh di bawah ekspektasi karena hanya setara 30% ekspektasi FY24F konsensus,” ungkap analis Stockbit Sekuritas, Everson Sugianto dalam ulasannya dikutip Kamis (31/10/2024).

Everson menilai, kinerja Gudang Garam (GGRM) yang lemah pada 3Q24 ditekan oleh penurunan penjualan, tertekannya margin laba kotor, dan opex yang masih naik. “Faktor ini membuat laba usaha pada 3Q24 hanya mencapai Rp 205 miliar (-88% yoy, -68% qoq),” tulisnya.

Kinerja Turun dan Kecemasan atas Bandara

Everson menyebutkan, penjualan Gudang Garam (GGRM) pada 3Q24 masih lemah dengan turun -7,8% yoy, yang kemungkinan besar disebabkan oleh penurunan volume penjualan rokok. “Meski belum ada informasi terkait volume penjualan selama 9M24, volume penjualan GGRM selama 1H24 turun -15% yoy. Situasi ini diperparah oleh penurunan margin laba kotor sebesar -400 bps yoy pada 3Q24 menjadi 9,4% (vs. 3Q23: 14%),” bebernya.

Menurutnya, penurunan margin Gudang Garam (GGRM) tersebut kemungkinan disebabkan oleh kenaikan rata–rata harga penjualan (ASP) yang tidak cukup untuk mengimbangi kenaikan cukai.

“Adapun kesulitan dalam menaikkan ASP kemungkinan didasari oleh kekhawatiran atas isu downtrading ke rokok murah dan daya beli masyarakat,” jelas Everson.

Sementara itu, analis SF Sekuritas, Raphon Prima dalam risetnya pad 28 Oktober 2024 sempat mengungkap investor bereaksi negatif terhadap investasi GGRM di Bandara Kediri karena dianggap kurang menguntungkan dibanding bisnis rokok, yang menyebabkan penurunan harga saham lebih dari 50%.

“Meskipun begitu, dengan kapitalisasi pasar GGRM sekitar Rp 30 triliun dan nilai aset bersih yang disesuaikan sekitar Rp 46 triliun (di luar nilai aset bandara), kekhawatiran ini terlihat berlebihan. Potensi bisnis rokok GGRM yang stabil seharusnya membuat valuasi pasar tidak jatuh di bawah nilai aset bersih,” sebutnya.

Tak hanya bandara, Gudang Garam (GGRM) juga tengah menggarap proyek tol Kediri-Tulungagung.

Editor: Theresa Sandra Desfika (theresa.sandra@investor.id)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Baca Berita Lainnya di Google News

#berita-terkini #berita-hari-ini #gudang-garam #ggrm #bandara-kediri #saham-ggrm #berita-ekonomi-terkini

https://investor.id/market/378871/saham-gudang-garam-ggrm-terjun-investor-cemas-sama-laba-bandara