Presiden Baru AS Akan Warisi Ekonomi yang Sedang Berkembang Pesat
Berbagai berita ekonomi yang sangat baik selama sepekan terakhir dapat menciptakan mandat berat bagi presiden baru AS. - Halaman all
(InvestorID) 02/11/24 22:52 17379960
WASHINGTON, investor.id – Berbagai berita ekonomi yang sangat baik selama sepekan terakhir dapat menciptakan mandat yang berat bagi siapa pun yang terpilih sebagai presiden baru Amerika Serikat (AS). Presiden baru akan mewarisi ekonomi yang sedang berkembang pesat, namun juga menjadi tantangan berat.
Beberapa hari menjelang pemilihan umum (Pemilu) AS pada 5 November 2024, inflasi diperkirakan akan menurun dari puncaknya selama pandemi. Penciptaan lapangan kerja swasta mengalahkan perkiraan, data penjualan rumah yang tertunda meningkat, sentimen konsumen melonjak menuju optimisme dan produk domestik bruto (PDB) tumbuh pesat, meskipun sedikit di bawah beberapa ekspektasi.
S&P 500 naik lebih dari 50% sejak Presiden AS Joe Biden menjabat pada Januari 2021 dan 24% sepanjang tahun ini, menurut laporan Morning Consult.
“Ingat bagaimana kita mengalami depresi dan semua itu. Coba tebak? Kita memiliki ekonomi terkuat di dunia. Seluruh dunia,” ucap Biden pada Selasa (29/10/2024) dalam acara pengumuman hibah infrastruktur baru di Pelabuhan Baltimore, seperti dikutip CNBC internasional, Sabtu (2/11/2024).
Wakil Presiden Kamala Harris dan mantan Presiden Donald Trump sama-sama mempromosikan diri mereka sebagai pengurus terbaik untuk kesehatan ekonomi AS di masa depan.
Pada saat yang sama, kedua kandidat berupaya membingkai diri mereka sebagai pihak yang meninggalkan status quo, mengakui ketidakpuasan pemilih yang masih ada terhadap ekonomi, meskipun data tingkat makro kuat.
Sebanyak 44% responden dewasa AS mengatakan mereka percaya keruntuhan ekonomi total atau sebagian mungkin saja terjadi, menurut jajak pendapat YouGov pada Oktober 2024. Jajak pendapat tersebut mensurvei 1.113 warga negara dewasa AS dari tanggal 17 Oktober hingga 19 Oktober dan memiliki margin kesalahan plus/ minus 3,8 poin persentase.
Suasana pesimisme ekonomi di kalangan pemilih telah mendorong Trump dan Harris untuk meluncurkan serangkaian proposal kebijakan yang menjanjikan masa depan ekonomi baru bagi warga Amerika.
Trump menjanjikan tarif universal untuk semua impor dari semua negara, program deportasi imigran yang menyeluruh, pemotongan pajak perusahaan yang lebih dalam, dan banyak lagi.
Para ekonom dan bahkan beberapa sekutu Trump sendiri mencatat bahwa tarif universal yang diusulkannya, deportasi massal, dan pemotongan pajak dapat, setidaknya untuk sementara akan mengirimkan gelombang kejut besar melalui ekonomi, yang memicu potensi jatuhnya pasar.
Sementara itu, Harris ingin menaikkan tarif pajak perusahaan, memberlakukan larangan federal terhadap peningkatan harga perusahaan di sektor grosir. Ia juga menjanjikan subsidi dan keringanan pajak untuk pembangunan perumahan, perawatan anak, dan banyak lagi.
Wakil presiden tersebut telah menghadapi kritik dari para ekonom dan pemimpin di perusahaan-perusahaan Amerika atas usulannya untuk melarang penimbunan harga. Ini ditambah rencananya untuk menaikkan pajak bagi perusahaan-perusahaan.
Perekonomian yang stabil akan menjadi kesempatan bagi presiden berikutnya untuk benar-benar fokus pada kebijakan-kebijakan yang mereka kampanyekan, kata profesor kebijakan publik dan ekonomi di Universitas Michigan Justin Wolfers.
Sebaliknya, baik mantan Presiden Barack Obama maupun Biden menjabat pada saat menstabilkan perekonomian harus didahulukan daripada prioritas-prioritas pemerintahan mereka yang biasa, kata Wolfers.
"Yang harus mereka lakukan adalah memadamkan api resesi daripada melanjutkan program-program mereka," kata Wolfers. Menurutnya, realitas saat ini membuat pemilihan presiden menjadi lebih penting.
"Jika Anda berada di tengah-tengah resesi, baik Anda seorang Demokrat atau Republik, Anda punya satu pekerjaan yaitu memperbaiki resesi," katanya.
“Sedangkan jika, misalnya, yang diinginkan Trump adalah pemotongan pajak untuk orang kaya dan yang diinginkan Harris adalah mengenakan pajak kepada orang kaya untuk memberikan pemotongan pajak kepada kelas menengah dan pekerja, mereka mungkin masing-masing memiliki ruang lingkup untuk melakukannya,” sambungnya.
Apa pun itu, presiden berikutnya harus melakukan keseimbangan yang rumit. Ia harus melaksanakan janji mereka untuk merombak ekonomi yang tampaknya dibenci pemilih, tanpa menggagalkan lintasan pertumbuhan ekonomi riil saat ini.
Dengan ekonomi yang dirusak oleh pandemi Covid-19, Biden harus melaksanakan rencana penyelamatan ekonomi, memberinya keleluasaan untuk menerapkan undang-undang stimulus besar-besaran dan kebijakan luas lainnya untuk menjaga rumah tangga maupun bisnis Amerika tetap bertahan.
Saat Biden bersiap meninggalkan Gedung Putih, angka-angka ekonomi yang kuat dalam beberapa minggu terakhir membantu mendukung argumen bahwa pemerintahannya, bersama dengan The Federal Reserve (The Fed) telah berhasil, bahkan jika orang Amerika belum merasakannya.
Kepala Ekonom Moody\'s Mark Zandi menilai terlalu sulit untuk melihat ekonomi berkinerja lebih baik.
"Tentu saja, banyak warga Amerika berpenghasilan rendah dan menengah tidak mendapatkan manfaat sebagaimana mestinya. Mengubah hal ini adalah hal yang perlu difokuskan oleh Presiden dan Kongres berikutnya," unggahnya di platform media sosial X, Sabtu.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #donald-trump #kamala-harris #pemilu-as #berita-ekonomi-terkini