Tupperware Tak Jadi Bangkrut, Hakim Setujui Penjualan Aset
Tupperware berhasil selamat dari kebangkrutan setelah hakim menyetujui usulan penjualan aset kepada pemberi pinjaman. Halaman all
(Kompas.com) 03/11/24 10:00 17400925
KOMPAS.com -Tupperware berhasil selamat dari kebangkrutan setelah sempat mengajukan bangkrut pada September 2024.
Tupperware adalah merek dagang asal Amerika Serikat (AS) yang menaungi produk wadah penyimpanan makanan dan minuman dari plastik.
Diberitakan Reuters, Rabu (30/10/2024), hakim kepailitan AS menyetujui usulan Tupperware Brands Corporation untuk menjual asetnya kepada pemberi pinjaman.
Dengan demikian, perusahaan dapat keluar dari kebangkrutan, sedangkan sebagian besar operasinya masih utuh.
Alasan hakim setujui penjualan aset
Hakim kepailitan, Brendan Shannon menyetujui penjualan aset dalam sidang pengadilan di Wilmington, Delaware, Amerika Serikat, pada Selasa (29/10/2024).
Dia menilai, langkah tersebut merupakan adalah pilihan terbaik yang tersedia bagi Tupperware.
Pengacara Tupperware, Spencer Winters menyampaikan, perusahaan telah berupaya mencari pembeli selama berbulan-bulan sebelum pengajuan kebangkrutan.
Namun, tidak ada yang bersedia melunasi utang perusahaan sebesar 818 juta dollar AS atau sekitar Rp 12,9 triliun (kurs Rp 15.849 per dollar AS).
Kelompok pemberi pinjaman yang mengakuisisi Tupperware, termasuk Stonehill Capital Management Partners dan Alden Global Capital.
Dua firma investasi itu mengakuisisi utang Tupperware dengan potongan harga yang besar selama musim panas.
Para pemberi pinjaman (kreditur) menyediakan 23,5 juta dollar AS dalam bentuk tunai dan lebih dari 63 dollar juta dalam bentuk keringanan utang.
Penjualan tersebut mencakup nama merek Tupperware dan asetnya di pasar inti, termasuk Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Brasil, Tiongkok, Korea, India, dan Malaysia.
Tupperware akan beralih ke model bisnis baru
Kompas.com/Retia Kartika Dewi ilustrasi Tupperware.CEO Tupperware, Laurie Ann Goldman menyebutkan, perusahaan berencana untuk menghentikan operasinya di pasar tertentu lainnya.
Menurut dia, perusahaan akan mulai beralih ke model bisnis yang mengutamakan digital, berteknologi tinggi, dan tidak terlalu bergantung pada aset setelah keluar dari kebangkrutan.
Sebelumnya, Tupperware mengajukan perlindungan Bab 11 ke Pengadilan Kepailitan AS pada 17 September 2024.
Dikutip dari laman US Courts, Bab 11 dari Kitab Undang-Undang Kepailitan mengatur tentang reorganisasi, yang biasanya melibatkan korporasi atau kemitraan.
Debitur atau pihak yang berutang biasanya mengusulkan rencana reorganisasi (Bab 11) untuk menjaga bisnisnya tetap berjalan dan membayar kreditur dari waktu ke waktu.
Perusahaan yang berkantor pusat di Orlando, Florida, AS itu telah berupaya melelang asetnya di pasar terbuka.
Akan tetapi, kreditur Tupperware menentang rencana penjualan perusahaan, dan lebih memilih untuk mengeklaim aset untuk diri mereka sendiri.
Para pemberi pinjaman kemudian memutus akses perusahaan terhadap uang tunai di awal kebangkrutan, sebelum kedua belah pihak akhirnya menyetujui kesepakatan.
Sejarah Tupperware
Produk Tupperware sendiri pertama kali diperkenalkan pada 1940-an di Massachusetts, AS oleh seorang ahli kimia bernama Earl S Tupper.
Dalam risetnya, dia menemukan metode untuk memurnikan ampas biji hitam polyethylene (bahan dasar pembuat plastik) menjadi plastik yang fleksibel, kuat, tidak berminyak, bening, aman, ringan, dan tidak berbau.
Dilansir dari Kompas.com, Jumat (20/9/2024), pada 1938, Tupper mendirikan usaha plastik miliknya sendiri, Earl S Tupper Company dan mematenkan produknya dengan nama Poly-T.
Tupper kemudian mendapat inspirasi membuat wadah plastik kedap udara setelah masa Depresi Besar (1929-1939).
Dia ingin membuat produk yang membantu keluarga menghemat uang untuk menyimpan makanan semasa perang.
Hingga pada 1946, Tupper meluncurkan produk pertamanya berupa wadah penyimpan makanan Wonderlier Bowl dan Bell Tumbler.
Untuk menjalankan bisnisnya, Tupperware menerapkan metode Tupperware Home Party atau Tupperware Party. Metode ini pertama kali dipakai pebisnis Brownie Wise.
Dia mempromosikan produk Tupperware dengan mengadakan pesta di rumah-rumah penduduk.
Saat berpesta, peralatan makanan dan minuman yang digunakan dan dipamerkan berasal dari Tupperware.
Pada 1950-an, merek Tupperware lalu dipatenkan. Kemudian, Brownie Wise diangkat menjadi Wakil Presiden Pemasaran Tupperware.
Sejak 1960-an, produk Tupperware berkembang dan dijual di Eropa, Amerika Tengah, Amerika Selatan, serta Asia, termasuk Indonesia.
#tupperware #tupperware-bangkrut #tupperware-tak-jadi-bangkrut #tupperware-selamat-dari-bangkrut