Rupiah Melemah, Investor Bersiap Perubahan Pasca Pemilu AS
Mata uang rupiah dibuka melemah, investor bersiap menghadapi perubahan setelah pemilu AS, sebut Ibrahim Assuaibi. - Halaman all
(InvestorID) 05/11/24 09:35 17494084
JAKARTA, investor.id – Mata uang rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (5/11/2024). Investor bersiap menghadapi perubahan setelah pemilu AS, sebut Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi.
Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa pagi turun 31 poin atau 0,20% dan bertengger di level Rp 15.784 per dolar AS, dibandingkan sebelumnya di level Rp 15.753 per dolar AS.
“Para investor bersiap menghadapi kemungkinan perubahan arah minggu ini bagi ekonomi global saat Amerika Serikat memilih pemimpin baru, dan kemungkinan akan memangkas suku bunga lagi dengan implikasi besar terhadap imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS,” terang Ibrahim, Selasa.
Pasar juga mengambil beberapa isyarat positif dari pembacaan penggajian nonpertanian (NFP) AS yang lebih lemah dari perkiraan yang dirilis Jumat (1/11/2024). Hasil ini memperkuat taruhan pasar tenaga kerja yang mendingin akan membawa lebih banyak pemotongan suku bunga dari The Federal Reserve (The Fed).
Para ekonom memperkirakan bank sentral AS itu akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps).
Di Amerika, Donald Trump dan Kamala Harris bersaing ketat menjelang pemilu AS. Jajak pendapat terbaru menunjukkan Donald Trump dan Kamala Harris bersaing ketat pada Selasa waktu setempat.
“Fokus khusus diberikan pada tujuh negara bagian medan tempur yang kemungkinan akan menentukan arah pemilihan. Jajak pendapat terkini menunjukkan Harris memiliki basis pendukung perempuan yang kuat, sementara Trump sebagian besar disukai oleh pria kulit putih muda,” jelas Ibrahim.
Sementara itu, Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional China memulai pertemuan empat hari pada Senin (4/11/2024). Badan ini secara luas diharapkan untuk menguraikan lebih banyak pengeluaran fiskal.
Laporan terbaru mengatakan badan tersebut dapat menyetujui tambahan utang baru sebesar US$ 1,4 triliun selama beberapa tahun mendatang untuk mendorong pertumbuhan.
Dilihat secara internal, pasar merespons negatif terhadap rilis data Purchasing Managers Indeks (PMI) Manufaktur Indonesia pada Oktober 2024 masih berada di level kontraksi 49,2 sama seperti bulan sebelumnya. PMI tersebut telah menunjukkan kontraksi sejak Juli 2024, dimulai dari level 49,3, dan menurun lebih jauh ke 48,9 pada Agustus 2024.
Laporan S&P Global menunjukkan sektor manufaktur Indonesia mengalami penurunan marginal dalam operasional selama Oktober 2024. Sektor ini terus mengalami penurunan pada sisi produksi, permintaan baru, dan ketenagakerjaan sejak September 2024.
Penurunan ini disebabkan oleh rendahnya aktivitas pasar, yang dalam beberapa kasus dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik, membuat klien bersikap waspada dan menahan aktivitas. Ketidakpastian geopolitik menyebabkan penurunan permintaan ekspor baru selama delapan bulan berturut-turut, baik di pasar domestik maupun internasional.
“Secara keseluruhan, tingkat inflasi masih cukup tinggi, yang mendorong perusahaan menaikkan harga, meski hanya dalam skala kecil dan dengan laju di bawah rata-rata,” imbuhnya.
Ibrahim menakar, kurs rupiah hari ini akan bergerak fluktuatif dan ditutup menguat di rentang Rp 15.690 sampai dengan Rp 15.770 per dolar AS.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #rupiah #rupiah-melemah #mata-uang-rupiah #nilai-tukar-rupiah #dolar-as #kurs-rupiah #berita-ekonomi-terkini
https://investor.id/market/379097/rupiah-melemah-investor-bersiap-perubahan-pasca-pemilu-as