Prospek Tebal Wisata Halal

Prospek Tebal Wisata Halal

Pertumbuhan pariwisata ramah Muslim diprediksi akan lebih kencang kedepannya, bahkan dibandingkan dengan sektor halal value chain lainnya. Halaman all

(Kompas.com) 05/11/24 11:57 17501701

WISATA halal atau dilabeli dengan istilah pariwisata ramah Muslim (PRM) bukan merupakan upaya untuk menghalalkan segala unsur ekosistem pariwisata.

PRM lebih merupakan layanan ‘tambahan’ yang diperuntukkan bagi umat Muslim guna memaksimalkan segala potensi pariwisata yang ada.

Dengan kata lain, dengan layanan tambahan ini akan meningkatkan pendapatan wisata dari wisatawan Muslim untuk lebih lama berlibur, berbelanja, dan bertransaksi dengan pelaku ekonomi lokal.

Harapannya, pengalaman yang dirasakan oleh wisatawan Muslim dapat terpenuhi dan akan melakukan kunjungan wisata kembali.

Sebagai pijakan untuk melakukan lompatan, kita sepatutnya berbangga hati – tapi dapat dikatakan tidak untuk berpuas hati, karena masih ada ruang perbaikan sektor pariwisata kedepannya.

Hal ini didasari atas penghargaan peringkat Travel & Tourism Development Index (TTDI) Indonesia dari World Economic Forum yang naik secara signifikan, di mana meningkat di posisi ke-22 dari 119 negara di dunia pada 2024.

Sementara untuk sektor PRM, Indonesia kembali berhasil meraih predikat "Top Muslim Friendly Destination of The Year 2024" dalam Mastercard Crescent Rating Global Muslim Travel Index (GMTI).

Dua capaian pengakuan ini menjadi keyakinan bersama bahwa sektor pariwisata, dalam hal ini PRM, merupakan sumber ekonomi baru bagi Indonesia.

Namun, masih terdapat ruang perbaikan yang disematkan pada kedua capaian tersebut.

Pertama, pekerjaan rumah untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan wisata yang kian menurun. Kedua, infrastruktur layanan pariwisata, utamanya transportasi udara.

Ketiga, sumber daya pendukung pariwisata, termasuk di dalamnya layanan pariwisata yang kesemuanya masih perlu ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya.

Dari sisi PRM, tantangannya masih sama, yakni pertama, infrastruktur dan aksesibilitas pariwisata. Kedua, perluasan fasilitas ramah Muslim.

Ketiga, peningkatan kualitas layanan dan sertifikasi halal melalui pemanfaatan teknologi digital. Keempat, pengintegrasian PRM dengan keberlanjutan lingkungan.

Push dan Pull Strategy PRM

Dikaitkan dengan sinergi dalam ekosistem ekonomi syariah (eksyar) nasional, sektor PRM nantinya berperan penting untuk mewujudkan ekonomi inklusif, berdaya tahan, dan berkelanjutan.

Hal ini mengemuka pada diskusi "The 6th International Halal Tourism Summit", salah satu rangkaian dalam gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2024, akhir Oktober lalu, di Jakarta.

PRM menjadi menjadi salah satu kunci untuk mencapai visi Indonesia sebagai pusat produsen halal terkemuka di dunia, selain juga sektor pangan (food), pakaian (fashion), kosmetik, serta farmasi halal yang telah ada.

Mengutip rumusan kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam gelaran ISEF tersebut, serta kebijakan yang telah/akan implementasi oleh pemangku kebijakan lainnya, penulis mengelaborasikannya dalam konstruksi PRM serta membedakannya antara push dan pull strategy.

Push strategy seperti, pertama, penguatan daya saing dan promosi pariwisata meliputi pembentukan lembaga promosi terpadu, yang terintegrasi dengan sektor perdagangan dan investasi.

Kedua, integrasi infrastruktur termasuk konektivitas domestik dan global, dengan didukung layanan visa yang kondusif.

Sementara itu, untuk pull strategy seperti, pertama, peningkatan inovasi dan skala pemanfaatan keanekaragaman sumber daya alam, budaya, kreativitas, dan olahraga dalam diversifikasi daya tarik destinasi PRM.

Kedua, penguatan rantai pasok industri PRM secara adaptif, inklusif, dan berkelanjutan, dengan dukungan penerapan blue-green-circular economy (BGCE), digitalisasi, dan kemajuan teknologi.

Ketiga, penggunaan aplikasi halal traceability guna memperkuat ekosistem jaminan produk halal, melalui pengembangan sistem informasi penelusuran bahan produk pangan dari sisi hulu hingga ke tangan wisatawan (from farm to table).

Ini penting, mengingat wisatawan Muslim menekankan sistem kehalalan secara holistik.

Keempat, inisiasi pengembangan produk sharia restricted investment account (SRIA) untuk mendukung pembiayaan investasi perbankan syariah pada proyek-proyek spesifik, khususnya diarahkan yang mendukung ekosistem PRM.

Push dan pull strategy ini setidaknya menjawab berbagai persoalan yang masih muncul dalam TTDI dan GMTI.

Nah, apabila tantangan yang dikategorikan permasalahan struktural ini dapat diatasi, maka tidak menutup kemungkinan indikator pengembangan pariwisata 2029 dapat dipenuhi, di antaranya tercapainya rasio PDB sektor pariwisata sebesar 5 persen serta devisa pariwisata yang dihasilkan sebesar 32 miliar dollar AS.

Angka-angka tersebut akan tercapai apabila prasyarat berikut tercapai, seperti pengeluaran wisatawan asing (rata-rata pengeluaran perkedatangan) sebesar 1.600 dollar AS/kedatangan, jumlah kunjungan sebanyak 20 juta kunjungan, serta dengan jumlah perjalanan wisata 1.500 juta perjalanan (Kementerian PPN/ Bappenas, 2024).

Tidak hanya push dan pull strategy, menyimak hasil rapat dewan gubernur (RDG) BI medio Oktober lalu, memunculkan optimisme bahwa ekosistem syariah memiliki masa depan yang cerah.

Hal ini dilihat dari pertumbuhan intermediasi/pembiayaan yang terus didorong agar industri PRM berkembang secara berkelanjutan.

Sebagai informasi saja, pembiayaan syariah melanjutkan pertumbuhan yang tinggi sebesar 11,37 persen (yoy) pada Oktober 2024, lebih besar dibandingkan pertumbuhan kredit secara agregat yang sebesar 10,85 persen (yoy).

Berkaca dari tahun-tahun sebelumnya, pertumbuhan PRM diprediksi akan lebih kencang kedepannya, bahkan dibandingkan dengan sektor halal value chain lainnya.

Meningkatnya aktivitas masyarakat dunia serta berlanjutnya optimisme konsumen menjadi pendorong atas pertumbuhan PRM ini.

#wisata-halal #pariwisata-ramah-muslim

https://money.kompas.com/read/2024/11/05/115753826/prospek-tebal-wisata-halal