Daya Beli Masyarakat Lesu, Ekspansi Bisnis UMKM Melambat

Daya Beli Masyarakat Lesu, Ekspansi Bisnis UMKM Melambat

Ekspansi bisnis pelaku usaha mikro, keci, dan menengah mengalami perlambatan pada kuartal III-2024. Halaman all

(Kompas.com) 05/11/24 19:59 17522935

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekspansi bisnis pelaku usaha mikro, keci, dan menengah mengalami perlambatan pada kuartal III-2024.

Hal ini ditunjukkan oleh data Indeks Bisnis UMKM yang dirilis oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) atau BRI.

Bank spesialis UMKM itu mencatat, Indeks Bisnis UMKM pada kuartal III-2024 sebesar 102,6. Angka ini lebih rendah dibanding dengan kuartal II-2024 yang mencapai 109,9.

Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengatakan, salah satu pemicu perlambatan ekspansi bisnis UMKM ialah turunnya daya beli masyarakat pada periode Juli sampai September 2024.

Selain itu, normalisasi permintaan pasca perayaan hari besar keagamaan nasional (HKBN) seperti Idul Fitri, Waisak, dan Idul Adha juga mendorong perlambatan ekspansi UMKM.

"Normalisasi permintaan pasca perayaan HBKN, normalisasi produksi pertanian pasca panen raya, enaikan harga barang input, dan persaingan yang semakin ketat," ujar dia, dalam keterangannya, Selasa (5/11/2024).

Supari menjelaskan, sebanyak lima komponen Indeks Bisnis UMKM memiliki indeks di atas 100, sementara tiga komponen lainnya menurun di bawah 100.

Indeks terendah terlihat pada komponen volume produksi/penjualan (94,1), komponen nilai penjualan (96,1), dan komponen penggunaan tenaga kerja (99,2).

Normalisasi permintaan barang dan jasa pasca HBKN dan menurunnya produksi pangan pasca panen raya, serta naiknya harga barang input menyebabkan volume produksi dan penjualan UMKM mengalami penurunan.

Meskipun rata-rata harga jual mencatat kenaikan, namun penurunan volume produksi/penjualan yang cukup dalam menyebabkan nilai penjualan juga turut menurun.

SHUTTERSTOCK/MINERVA STUDIO Ilustrasi belanja di supermarket atau pasar swalayan, konsumsi masyarakat.
Sementara itu, menjelang musim tanam tanaman pangan dan perayaan Nataru, pemesanan dan persediaan barang input masih mengalami kenaikan (100), namun lebih lambat dari kuartal II-2024.

Hal ini disebabkan oleh kenaikan harga barang input serta prospek usaha yang tidak seoptimis kuartal sebelumnya. Persediaan barang jadi masih meningkat, dengan laju yang tidak sepesat kuartal sebelumnya, sejalan dengan menurunnya produksi.

"Kegiatan investasi juga melambat, karena keterbatasan dana yang sebagian terserap oleh naiknya harga barang input," ujar Supari.

Adapun dilihat secara sektoral, ekspansi bisnis UMKM pada kuartal III-2024 sebagian besar mengalami perlambatan. Beberapa sektor usaha, seperti sektor pertanian serta sektor hotel dan restoran, bahkan menunjukkan kontraksi.

Aktivitas sektor pertanian mengalami penurunan, pasca panen raya tanaman pangan pada kuartal II-2024 dan musim kemarau di sejumlah daerah.

Sektor hotel dan restoran juga mengalami kontraksi pasca HBKN dan libur sekolah pada kuartal sebelumnya, yang membuat permintaan terhadap jasa akomodasi menurun signifikan.

Sementara itu, sektor pertambangan masih ekspansi sejalan dengan musim kemarau yang kondusif bagi sektor ini, terutama penambangan pasir untuk kegiatan konstruksi dan permintaan air bersih.

Ekspansi pada sektor industri, perdagangan dan pengangkutan terutama ditopang oleh kenaikan rata-rata harga jual dan permintaan yang masih relatif kuat, setelah aktivitas kerja dan sekolah kembali normal pasca HBKN.

Pada kuartal IV-2024, pebisnis UMKM tetap yakin akan ekspansi usahanya ke depan, tercermin pada Indeks Ekspektasi Bisnis UMKM sebesar 122,3.

Namun dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, level Indeks Ekspektasi Bisnis Q3-2024 mengalami penurunan, yang memberikan sinyal laju kenaikan aktivitas usaha yang lebih moderat.

"Penurunan optimisme ini terutama karena melemahnya daya beli masyarakat, persaingan yang semakin ketat, serta awal musim tanam tanaman pangan," ucap Supari.

#bri #tanaman-pangan #daya-beli-masyarakat #umkm

https://money.kompas.com/read/2024/11/05/195900826/daya-beli-masyarakat-lesu-ekspansi-bisnis-umkm-melambat