Sentimen Pilpres AS Bikin Was-Was Pasar Saham RI
Kinerja IHSG jeblok dan pasar saham Indonesia mencatatkan net sell asing sejak Prabowo Subianto dilantik jadi Presiden RI
(Bisnis.Com) 06/11/24 05:05 17548042
Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) jeblok dan pasar saham Indonesia mencatatkan nilai jual bersih atau net sell asing dalam dua pekan perdagangan berturut-turut sejak Prabowo Subianto dilantik jadi Presiden RI per 20 Oktober 2024. Faktor eksternal dari pilpres AS dinilai menjadi salah satu katalis.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sepekan perdagangan setelah Prabowo dilantik yakni 21 Oktober 2024 sampai dengan 25 Oktober 2024, tercatat net sell asing di pasar saham sebesar Rp3,62 triliun.
Sepekan setelahnya atau pekan kedua pemerintahan baru Presiden RI Prabowo Subianto, yakni 28 Oktober 2024 sampai dengan 1 November 2024, terjadi net sell asing di pasar saham sebesar Rp2,64 triliun.
Meskipun, pasar saham Indonesia masih mencatatkan nilai bersih pembelian atau net buy asing sebanyak Rp38,25 triliun sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd).
Adapun, seiring dengan catatan net sell asing di pasar saham, indeks harga saham gabungan mencatatkan pelemahan setidaknya dalam dua pekan setelah Prabowo dilantik. IHSG membukukan pelemahan sebesar 2,46% pada posisi 7.505,25 per akhir pekan lalu, Jumat (1/11/2024) dari 7.694,66 pada pekan sebelumnya.
Pada perdagangan awal pekan ini, Senin (4/11/2024), IHSG pun mencatatkan pelemahan 0,34% ke level 7.479,5.
IHSG kemudian menguat pada perdagangan hari ini, Selasa (11/10/2024) ke level 7.491,93. Namhn, pasar saham Indonesia masih mencatatkan net sell asing sebesar Rp102,3 miliar pada perdagangan hari ini.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas mengatakan yang membuat IHSG terbebani dan asing catatkan net sell adalah karena faktor eksternal.
"Adanya ketidakpastian, pelemahan ekonomi, dan tensi geopolitik, serta faktor wait and see menjelang Pilpres AS sehingga dolar AS menguat," ujarnya, Selasa (5/11/2024).
Adapun, sejumlah saham yang menjadi pemberat IHSG serta mendorong keluarnya aliran dana asing adalah saham-saham bank jumbo.
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) misalnya mencatatkan net sell asing Rp962,34 miliar dalam sepekan terakhir. Lalu, net sell asing atas saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) mencapai Rp755,08 miliar dalam sepekan. Selain itu, net sell asing PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) mencapai Rp547,66 miliar dalam sepekan.
"Ke depannya masih ada peluang untuk kembali inflow dana asing setelah semua sentimen negatif mereda dan mulai mendekati window dressing," tutur Sukarno.
Proyeksi IHSG setelah Pilpres AS pun bisa positif jika Kamala Haris menang. Sebaliknya, IHSG bisa tertekan jika Donald Trump menang karema ekspektasi kenaikan inflasi nantinya berkaitan dengan kebijakannya, sehingga The Fed bisa bersikap hawkish pada tahun depan.
Sementara itu, Associate Director of Research and Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan IHSG pekan ini akan terdampak oleh pemilu AS. Investor diperkirakan akan melakukan untuk wait and see pekan ini menjelang pemilu AS dan pertemuan FOMC The Fed.
Dia menjelaskan Pilpres AS akan memberikan dampak terhadap Indonesia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pemilu AS menurutnya selalu meningkatkan volatilitas pasar ekuitas di AS dan dunia.
"Oleh sebab itu, wait and see menjadi salah satu pilihan bagi pelaku pasar dan investor yang tidak ingin masuk ke dalam volatilitas tersebut," ujar Nico.
Yang menarik, lanjutnya, apabila menghitung rata-rata sejak tahun 1964-2020, setiap Pilpres AS berakhir maka bursa Dow Jones mengalami kenaikan dalam kurun waktu satu tahun dengan rata-rata kenaikan 9,3%. Hal ini menurutnya memberikan sentimen positif bagi pelaku pasar dan investor global, karena juga akan mendorong katalis positif bagi pasar global.
Dia mencermati calon Presiden Trump saat ini memiliki kebijakan Make America Great Again, yang akan mengutamakan Amerika sebagai porosnya. Menurut Nico, hal ini memiliki dampak negatif bagi perekonomian global karena Trump akan menjalankan kebijakan proteksionisme.
Di satu sisi, Harris memiliki agenda sendiri seperti Joe Biden sebelumnya. Oleh sebab itu, pasar akan mengalami volatilitas yang jauh lebih tinggi apabila Trump yang memenangkan pemilu dibandingkan dengan Harris.
Selain Pemilu AS, pekan ini pasar juga menantikan pertemuan The Fed yang akan terjadi berselang tiga hari setelah pemilu AS. Hingga saat ini, kata dia, potensi pemangkasan tersebut cukup terbuka, terutama setelah data yang keluar pada hari Jumat malam pekan lalu.
"Namun, apabila volatilitas dianggap terlalu tinggi setelah pemilu AS, ada kemungkinan The Fed akan mengurungkan niatnya dan mengeluarkan pemotongan yang jauh lebih besar pada bulan Desember mendatang," tutur Nico.
#pilpres-as #pilpres-as-dampak-pasar-saham #ihsg #net-sell-asing #prabowo #pasar-saham-ri #donald-trump #kamala-harris
https://market.bisnis.com/read/20241106/7/1813583/sentimen-pilpres-as-bikin-was-was-pasar-saham-ri